Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dede Nasrullah, menyarankan pemerintah menutup total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jika terbukti bersalah dalam kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disampaikan setelah terjadi kasus keracunan MBG dalam waktu berdekatan yang dialami ratusan siswa di sejumlah daerah, di antaranya Sidoarjo, Nganjuk, Jombang, dan Lasem.
Dede menilai pemerintah harus memberikan sanksi tegas kepada SPPG yang tidak memenuhi standar. Selain itu, pengawasan terhadap SPPG perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses pengadaan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.
"Sanksi tidak cukup hanya berupa penangguhan operasional, tetapi dapat dilanjutkan hingga penghentian total jika pelanggaran yang ditemukan serius," kata Dede, Sabtu (5/9/2026).
"Program MBG ini merupakan program yang bagus dan harus didukung. Namun, pengawasan harus dilakukan secara maksimal agar kejadian keracunan tidak terus berulang dan kepercayaan masyarakat terhadap program ini tidak hilang," tambahnya.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Umsura tersebut meminta pengawasan terhadap SPPG sebagai penyedia makanan dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Pengawasan harus mencakup rantai pengadaan bahan makanan, proses pencucian, pengolahan, penyimpanan, wadah, hingga alur distribusi kepada penerima manfaat.
Agar pemeriksaan berjalan objektif, Dede mendorong pemerintah menerjunkan tim independen untuk mengaudit standar keamanan pangan di setiap SPPG.
"Agar kasus serupa tak terulang, sudah waktunya pemerintah melibatkan pihak independen untuk mengawasi pengelolaan SPPG," ujarnya.
Ia menambahkan, titik kontaminasi belum bisa disimpulkan begitu saja tanpa dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada setiap rantai penyediaan makanan. Sanitasi yang buruk pada salah satu tahap saja dinilai sudah cukup membahayakan konsumen.
"Semua proses harus diperiksa. Kalau ditanya penyebabnya apa, banyak. Bisa dari sanitasinya, mulai dari bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, sampai makanan diterima dan dikonsumsi," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya serangkaian kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di 3 kabupaten di Jawa Timur. Di Sidoarjo, 748 orang menjadi korban insiden ini. Sementara di Nganjuk, 127 orang termasuk guru dan siswa mengalami gejala keracunan. Sementara, di Jombang data terbaru yang dirilis Dinas Kesehatan Jombang, total 256 siswa dan 4 guru SMPN 1 Kabuh keracunan MBG.
Simak Video "Video: Ratusan Siswa-Guru di Tulung Klaten Diduga Keracunan MBG Sop Galantin"
(ihc/abq)