Round Up

Maaf dan Sesal Kepala SPPG Setelah 566 Santri di Sidoarjo Keracunan

Amir Baihaqi - detikJatim
Kamis, 03 Sep 2026 08:20 WIB
Rafli Ridho Kepala SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Sidoarjo -

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Rafli Ridho akhirnya buka suara setelah ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam, Tanggulangin keracunan usai menyantap MBG. Ia mengaku menyesal dan minta maaf.

"Mohon maaf ya, saya menyesal," kata Rafli kepada awak media, Rabu (2/9/2026).

Rafli menyebut proses pengolahan makanan MBG pada dasarnya dilakukan seperti biasa. Proses memasak dimulai sekitar pukul 00.00 WIB, sedangkan makanan dikirim ke penerima sekitar pukul 11.00 WIB.

"Seperti biasa, ya jam 00.00 WIB mulai ngolah," tuturnya.

Rafli juga mengungkap laporan adanya korban dari luar pondok pesantren. Sebanyak lima siswa dari SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2 dilaporkan mengalami keluhan keracunan.

"Lima itu ada SDN Kalitengah 1 dan 2," katanya.

Laporan tersebut diterima pihak SPPG pada Selasa (1/9) malam. Menurut Rafli, kejadian pada lima siswa tersebut dilaporkan lebih malam dibandingkan kasus di pondok pesantren.

"Ya laporannya masuknya tadi malam. Setelah konfirmasi pada keracunan," ujarnya.

Terkait dugaan makanan yang terasa kecut, Rafli menyebut setiap makanan yang dikirim sebenarnya telah melalui pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan melibatkan PIC dari pihak sekolah yang mencicipi makanan sebelum disajikan.

"Di situ kan ada organoleptik. Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu diicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanyai, katanya aman, enggak ada masalah di makanan itu," jelasnya.

Ia mengatakan makanan tersebut memiliki batas waktu aman untuk dikonsumsi sekitar empat jam setelah dikirim. "Jam 11.00 WIB dikirim. Empat (jam setelah diterima batas konsumsi)," pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan, pihaknya langsung melakukan pengecekan sarana dan prasarana, BGN juga melakukan pemeriksaan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dari pemeriksaan itu ada sejumlah hal yang menjadi catatan dan perlu perbaikan.

"Ada catatan, ada beberapa catatan, memang kita perbaiki bersama," kata Teguh kepada awak media.

Teguh menyebut SPPG Kalitengah sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, dapur tersebut juga telah memiliki sertifikat halal.

"Memang dari Dinas Kesehatan sudah ada sertifikat laik dan lain-lain. Tapi kan ada juga mungkin dari makanan, ada mungkin dari operasional, kita tidak tahu," tuturnya.

Sementara itu, dugaan penyebab keracunan belum bisa dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, termasuk terkait bahan baku makanan.

"Kalau sesuai dengan tempat, itu sudah layak sebenarnya. SLHS sudah ada, sertifikat halal sudah ada. Hanya saja kan bahan baku itu bagaimana, itu perlunya investigasi dan hasil lab nantinya," jelasnya.

Untuk sementara, BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah. Surat suspend juga telah diterbitkan. "Perihal suspend-nya ringan atau berat, nanti ada tim investigasi dari pusat langsung datang," katanya.

Teguh menjelaskan terkait suspend, suspend ringan dapat berlangsung sekitar dua minggu hingga satu bulan, tergantung hasil investigasi dan laboratorium.

Sementara jika pelanggarannya tergolong berat, sanksinya dapat berupa penghentian operasional secara permanen. "Ringan ini kemungkinan bisa dua minggu atau bisa satu bulan, tergantung ya hasil lab-nya keluar. Kalau berat bisa permanen," terangnya.

Teguh juga mengungkapkan, bahwa SPPG Kalitengah ternyata tak hanya melayani distribusi MBG di Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo saja namun juga sebanyak 19 sekolah.

Teguh mengatakan dari total produksi SPPG Kalitengah sekitar 2.800 porsi per hari, sebanyak 1.000 porsi di antaranya disalurkan ke Ponpes Manbaul Hikam.

"Ada 19 sekolah. Jadi di ponpes itu ada 2 sekolah ya, terus sisanya ada sekolah-sekolah lain, TK. Itu swasta semua," ungkap Teguh.

Terpisah, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sudena telah menjatuhkan suspensi berat selama 30 hari. Ia juga mengusulkan agar Kepala SPPG dipecat buntut keracunan ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam.

"Kemudian kami juga mengusulkan kepada kepala SPPG tersebut untuk dilakukan pencopotan sekaligus pergantian," kata Sudena.

Meski demikian, lanjut Sudena, pihaknya kini akan fokus terlebih dahulu dengan penanganan kesehatan korban keracunan. Terutama yang saat ini masih mendapat perawatan.

"Pada saat ini kita akan fokus dengan melakukan penyelamatan bagaimana kesehatan dari anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit," ujar Sudena.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mencatat total korban yang mengalami gejala keracunan mencapai 566 orang. Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan jumlah itu merupakan 531 korban yang sebelumnya tercatat plus 35 orang yang dievakuasi ke rumah sakit pada hari ini.

"Kurang lebih ada 35 (evakuasi hari ini). Di RSUD kemungkinan di RS Delta Surya juga ada," kata Lakhsmie.


Dari total korban yang mengeluhkan gejala keracunan, sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Lakhsmie memastikan kondisi para pasien yang menjalani perawatan saat ini stabil.

"Secara umum yang opname stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sampai ke perawatan khusus enggak ada. Saat ini yang diopname 88 (orang)," ujarnya.

Lakhsmie menyebutkan bahwa keluhan yang paling banyak dialami korban yakni pusing, mual, muntah, dan diare. Penanganan yang diberikan salah satunya berupa rehidrasi untuk memastikan kondisi cairan tubuh pasien tetap cukup.

"Kalau bagus saja rehidrasi saja cukup ya cepat. Dalam waktu 4-5 jam sudah selesai," jelasnya.

Sebelumnya, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo mengalami keracunan usai diduga mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Insiden itu diperkirakan terjadi usai para santri melangsungkan salat zuhur, kemudian saat waktu asar mengalami gejala, kemudian sekitar magrib banyak yang telah dilarikan ke sejumlah rumah sakit.

Serka Andik, selaku pendamping Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG bagi santri Ponpes Manbaul Hikam membeberkan menu apa saja yang disajikan.

"Menu hari ini nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu bali, dan buah apel," ujar Andik saat ditemui wartawan di lokasi ponpes.



Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"

(hil/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork