Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam mengalami gejala keracunan yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak pesantren memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Koordinator Humas Ponpes Manba'ul Hikam, Bahron Nafi', mengatakan dari sekitar 1.300 santri penerima MBG di lingkungan pondok, lebih dari 1.000 orang diketahui mengonsumsi makanan tersebut. Sementara sekitar 450 santri kemudian mengalami sejumlah gejala.
"Yang mengonsumsi sekitar 1.000 lebih. Yang mengalami gejala sekitar 450 anak dari lingkungan pondok. Ada juga sekitar 10 guru dan pengurus yang mengalami gejala," kata Bahron Nafi kepada wartawan di Ponpes, Rabu (2/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bahron, total santri di Ponpes Manba'ul Hikam mencapai sekitar 1.500 orang. Namun, tidak seluruhnya menerima MBG. Kelompok anak-anak kecil yang tergabung dalam Maika Kids tidak menerima program tersebut sehingga tidak terdampak dalam kejadian ini.
Program MBG sendiri baru berjalan sekitar dua bulan di lingkungan pondok. Sebelumnya, para santri belum menerima program tersebut.
Bahron mengatakan para santri yang sempat mendapat penanganan di rumah sakit dan kondisinya telah membaik diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Mereka tidak langsung kembali ke pondok dan diberikan dispensasi istirahat sekitar satu minggu sesuai arahan tim medis.
"Yang sudah dari rumah sakit dan diperbolehkan pulang, sementara istirahat di rumah. Kurang lebih satu minggu untuk pemulihan," ujarnya.
Pihak pesantren juga masih melakukan pemantauan kondisi para santri. Petugas melakukan kontrol ke setiap asrama secara berkala, sementara posko kesehatan yang melibatkan Dinas Kesehatan masih beroperasi di lingkungan pondok.
Kegiatan belajar di pondok untuk sementara diliburkan guna memberikan waktu bagi para santri untuk beristirahat dan memulihkan kondisi.
Selain penanganan medis, santri juga mendapat asupan tambahan dan minuman seperti teh hijau. Namun, kondisi mereka tetap dipantau oleh petugas kesehatan.
Bahron menyebut terdapat 88 pasien yang masih menjalani rawat inap di sembilan rumah sakit. Menurutnya, kondisi seluruh pasien tersebut terus membaik.
Pihak Ponpes Manba'ul Hikam menduga kejadian tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi bersama. Dugaan itu diperkuat dengan adanya santri serta sejumlah guru dan pengurus yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Meski demikian, Bahron menegaskan evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
"Secara administrasi SPPG memang baik. Tapi pelaksanaan di lapangan perlu dievaluasi dan dikontrol lebih ketat. Mulai dari cara pengolahan, kualitas bahan baku, penanganan, pengiriman sampai penyajian," jelasnya.
Pihak pesantren tetap menyatakan dukungan terhadap program MBG. Namun, mereka meminta adanya jaminan mutu dan keamanan pangan yang lebih ketat pada setiap tahapan pelaksanaan.
"Program pemerintah tetap kami dukung. Tetapi mutu dan keamanan makanan harus benar-benar dijamin, bukan hanya administrasinya yang baik," kata Bahron.
Secara keseluruhan, program MBG di wilayah tersebut disalurkan kepada sekitar 2.830 penerima yang tersebar di 19 lembaga pendidikan, mulai tingkat TK hingga SMA serta pondok pesantren. Sekitar 1.300 penerima berada di Ponpes Manba'ul Hikam, sedangkan sekitar 1.530 lainnya tersebar di sekolah lain dan masih dilakukan penelusuran.
Bahron juga membantah kabar yang menyebut adanya korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut.
"Tidak ada korban jiwa. Berita yang menyebut ada yang meninggal itu tidak benar," tegasnya.
Ia mengatakan pihak pengasuh telah meninjau langsung kondisi santri yang dirawat di sejumlah rumah sakit, termasuk RSUD dan RS Delta Surya. Berdasarkan pemantauan tersebut, tidak ada pasien yang dilaporkan kritis maupun meninggal dunia.
Pihak pesantren mengaku telah menyampaikan informasi kepada para orang tua santri, termasuk melalui grup WhatsApp, agar tidak terjadi kepanikan. Bahron pun meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
"Siapa pun boleh menyampaikan informasi, tetapi harus berdasarkan fakta. Jangan menyampaikan berita yang berlebihan atau tidak benar karena bisa menimbulkan kepanikan," pungkasnya.
Pihak pesantren selanjutnya akan berkoordinasi dengan keluarga santri terkait keberlanjutan penerimaan program MBG, sembari menunggu evaluasi dan perbaikan sistem pelaksanaan program tersebut.
