Kisah Veteran Asal Sidoarjo Jadi Saksi Operasi Trikora-Dwikora

Aprilia Devi - detikJatim
Minggu, 09 Agu 2026 23:00 WIB
Jakub HS dengan seragam veteran (Foto: Istimewa)
Sidoarjo -

Di usia yang telah memasuki kepala delapan, Jakub H.S masih mengingat jelas masa ketika dirinya menjadi prajurit Korps Komando (KKO) Marinir. Ia pernah disiapkan berangkat ke medan perang dalam Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda hingga terlibat dalam Operasi Dwikora di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Di balik senyumnya di usia yang tak lagi muda, tersimpan kisah seorang dari desa yang pernah berlayar menuju medan operasi dengan kemungkinan tidak akan pulang.

Tahun 1962 menjadi salah satu babak paling menentukan dalam hidup Jakub. Setelah mengikuti operasi pemberantasan DI/TII, ia kembali dipanggil negara bergabung dalam Operasi Trikora.

"Saya masuk pasukan pendarat waktu itu," kenang Jakub, Minggu (9/8/2026).

Sebagai prajurit KKO, Jakub menjadi bagian dari pasukan yang dipersiapkan berada di garis paling depan apabila perang benar-benar pecah. Bersama dengan rekan-rekannya, ia berangkat menggunakan KRI Tolando di bawah komando Mayor KKO Abdul Muiz Janggut.

Selama berbulan-bulan di atas kapal saat perjalanan, para prajurit terus menjalani latihan tempur. Di tengah laut, mereka hidup dalam ketidakpastian dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Setiap prajurit juga dibekali kalung dan gelang identitas. Rupanya tujuannya sebagai penanda apabila suatu hari jasad mereka harus dikenali.

"Saat itu semua diberi kalung dan gelang identitas. Dulu diperkirakan separuh pasukan akan gugur," ujar Jakub.

Belanda ketika itu masih menempatkan kekuatan militernya di Irian Barat dengan armada laut dan persenjataan modern. Pasukan KKO yang tergabung dalam gelombang kedua pendaratan pun telah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan perang.

Namun perang besar yang telah dipersiapkan akhirnya tidak pernah terjadi. Upaya diplomasi membuat Belanda bersedia menempuh jalur perundingan.

"Waktu itu tidak jadi perang karena hasil diplomasi Pak Karno," kata Jakub.

Meski tidak sempat mengangkat senjata di medan tempur, Jakub tetap menjadi bagian dari sejarah Trikora. Kemudian setahun berselang, negara kembali memanggilnya.

Pada 1963, Jakub dikirim ke Kalimantan Timur sebagai bagian dari Dwikora (Dwi Komando Rakyat), yakni operasi konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Dengan KRI Teluk Langsa, Jakub bersama pasukan KKO berangkat menuju Tarakan sebelum ditempatkan di Desa Binalawan, Pulau Sebatik. Wilayah tersebut berada tepat di garis perbatasan Indonesia dengan Tawau, Malaysia.

"Di sana kami dibagi masing-masing kompi," kenangnya.



Simak Video "Video: Inter Miami Ditahan Imbang San Diego, Messi Cetak Gol Lagi"


(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork