Komando Pasukan Khusus atau Kopassus dikenal sebagai salah satu satuan elite TNI Angkatan Darat yang memiliki kemampuan khusus dalam berbagai operasi militer. Pasukan yang identik dengan baret merah ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan dinamika keamanan nasional sejak masa awal kemerdekaan Indonesia.
Pembentukan Kopassus tidak terlepas dari kebutuhan negara akan pasukan yang memiliki keahlian khusus, seperti operasi khusus, penanggulangan terorisme, hingga misi pengintaian strategis. Simak berikut sejarah dan fungsi Kopassus, menyambut peringatan hari lahir Kopassus yang ke-74 pada 16 April 2026.
Mengenal Kopassus
Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Foto: detikcom/Rengga Sancaya |
Komando Pasukan Khusus atau Kopassus merupakan salah satu Komando Utama Tempur di lingkungan TNI Angkatan Darat. Berbeda dengan pasukan militer yang lain, Kopassus cenderung bersifat rahasia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam buku Ensiklopedia Profesi: Seri Angkatan Bersenjata oleh M. Basrowi, disebut misi dan tugas Kopassus sifatnya sangat rahasia. Bahkan kebanyakan tugas dari Kopassus tidak pernah diketahui oleh publik secara terbuka.
Kopassus merupakan bagian dari Bala Pertahanan Pusat yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat. Sama halnya dengan pasukan militer Indonesia yang lain, Kopassus juga dipersiapkan dengan keterampilan-keterampilan khusus.
Selain harus bisa bergerak cepat di setiap medan, Kopassus juga harus memiliki kemampuan khusus seperti menembak dengan tepat, anti teror, hingga pengintaian. Hal tersebut menunjukkan bahwa Kopassus bukanlah pasukan sembarangan.
Kopassus dipimpin oleh perwira tinggi berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga), yang dikenal sebagai Panglima Kopassus. Saat ini Kopassus dipimpin oleh Letjen TNI Djon Afriandi, sejak 10 Agustus 2025 menjabat sebagai Panglima Komando Pasukan Khusus.
Dalam lingkup Operasi Militer untuk Perang (OMP), Kopassus memiliki berbagai tugas strategis, antara lain melakukan serangan langsung (direct action) untuk menghancurkan instalasi vital dan logistik musuh, melaksanakan Combat Search and Rescue (Combat SAR), operasi antiteror, serta Advance Combat Intelligence atau operasi intelijen khusus.
Sementara itu, pada Operasi Militer Selain Perang (OMSP), Kopassus juga menjalankan berbagai misi seperti bantuan kemanusiaan, operasi penanggulangan insurgensi, separatisme, dan pemberontakan, memberikan dukungan kepada Kepolisian Republik Indonesia sesuai permintaan, melaksanakan operasi SAR khusus, serta pengamanan VVIP.
Prajurit Kopassus mudah dikenali dari baret merah yang menjadi ciri khas mereka, sehingga satuan ini sering dijuluki sebagai Pasukan Baret Merah. Kopassus juga memiliki moto 'Berani, Benar, Berhasil' yang mencerminkan semangat dan prinsip dalam menjalankan setiap tugas.
Sejarah Kopassus
Patung Letkol Slamet Riyadi di Kota Solo. Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
Latar belakang terbentuknya Kopassus tidak terlepas dari kondisi darurat yang terjadi pada Juli 1950, ketika muncul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan diri Republik Maluku Selatan (RMS). Untuk menanggulangi gerakan tersebut, pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia segera mengerahkan pasukan khusus.
Operasi penumpasan dipimpin oleh Panglima Tentara dan Teritorium III Kolonel A.E. Kawilarang, dengan Letnan Kolonel Slamet Riyadi sebagai komandan di lapangan. Setelah Letkol Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran di Ambon, gagasan pembentukan pasukan khusus tersebut kemudian dilanjutkan oleh Kolonel A.E. Kawilarang.
Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III Nomor 55/Instr/PDS/52 tertanggal 16 April 1952, dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang menjadi cikal bakal Kopassus dan dikenal dengan sebutan Korps Baret Merah. Komando pertama satuan ini dipercayakan kepada Mayor Moch. Idjon Djanbi, seorang mantan kapten KNIL yang sebelumnya memiliki pengalaman bergabung dengan Korps Speciale Troopen Belanda pada masa Perang Dunia II.
Seiring perkembangannya, satuan ini beberapa kali mengalami perubahan nama, hingga pada tahun 1985 satuan ini resmi menggunakan nama Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) yang dikenal hingga saat ini.
Struktur organisasi Kopassus terdiri atas beberapa satuan setingkat brigade yang disebut Grup, yaitu Grup 1 hingga Grup 6 Kopassus, serta dua satuan khusus yakni Satuan 71 dan Satuan 81 Kopassus. Masing-masing grup dan satuan tersebut membawahi sejumlah batalyon.
Selain itu, terdapat lembaga pendidikan berupa Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus yang mencakup Sekolah Komando untuk mencetak prajurit pasukan khusus serta sekolah yang bertujuan mengembangkan kemampuan dan spesialisasi anggota.
Secara umum, baik grup maupun satuan Kopassus memiliki kemampuan di bidang para komando, sandhi yudha (intelijen khusus), serta penanggulangan teror, dengan Satuan 81 berfokus pada operasi antiteror dan Satuan 71 memiliki spesialisasi sandhi yudha.
Fungsi Kopassus
Letjen TNI Djon Afriandi dan Kopassus. (Taufiq S/detikcom) |
Dirangkum dari laman resmi Akademi Militer (Akmil), disebut kopassus memiliki fungsi sebagai kekuatan strategis bagi negara. Pasukan khusus ini diharapkan berperan sebagai alat pertahanan yang efektif dan efisien, dengan kemampuan yang tidak dimiliki oleh satuan militer reguler lainnya.
Selain itu, Kopassus juga diharapkan berfungsi sebagai kekuatan penting bagi negara yang mampu menyeimbangkan kemampuan tempur lawan. Oleh karena itu, anggota Kopassus dipilih melalui proses seleksi ketat yang mempertimbangkan kemampuan tinggi serta fleksibilitas dalam menjalankan berbagai jenis operasi.
Kopassus juga memiliki ciri khas seragam seperti satuan militer lainnya di Indonesia. Salah satu identitas yang paling dikenal adalah penggunaan baret merah yang dikenakan para prajuritnya. Ciri khas inilah yang membuat Kopassus sering dijuluki sebagai pasukan baret merah.
Sepanjang sejarahnya, Kopassus dikenal sebagai pasukan khusus yang mampu melaksanakan berbagai operasi berat dan kompleks. Sejumlah operasi penting yang pernah melibatkan Kopassus antara lain penumpasan DI/TII, operasi militer PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, penanganan peristiwa G30S/PKI, pelaksanaan Pepera di Irian Barat, Operasi Seroja di Timor Timur, operasi pembebasan sandera di Bandara Don Muang Thailand (Woyla), operasi penanganan GPK di Aceh, Operasi Mapenduma, hingga misi pembebasan awak kapal Indonesia dari perompak Somalia.
Karena banyak tugasnya bersifat rahasia, sebagian besar operasi Kopassus tidak diketahui secara luas oleh publik. Beberapa contoh operasi yang jarang terekspos di antaranya penyusupan di Pulau Galang untuk membantu pengumpulan informasi terkait pengungsi Vietnam yang dikoordinasikan dengan pihak Amerika Serikat (CIA), penyusupan di wilayah perbatasan Malaysia dan Australia, serta patroli jarak jauh di perbatasan Papua Nugini.
Nah, itulah penjelasan tentang sejarah dan fungsi Kopassus. Dirgahayu Kopassus ke-74.
Simak Video "Video: Peran 2 Prajurit Kopassus dalam Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank"
[Gambas:Video 20detik] (aau/bai)



