Di usia yang telah memasuki kepala delapan, Jakub H.S masih mengingat jelas masa ketika dirinya menjadi prajurit Korps Komando (KKO) Marinir. Ia pernah disiapkan berangkat ke medan perang dalam Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda hingga terlibat dalam Operasi Dwikora di perbatasan Indonesia-Malaysia.
Di balik senyumnya di usia yang tak lagi muda, tersimpan kisah seorang dari desa yang pernah berlayar menuju medan operasi dengan kemungkinan tidak akan pulang.
Tahun 1962 menjadi salah satu babak paling menentukan dalam hidup Jakub. Setelah mengikuti operasi pemberantasan DI/TII, ia kembali dipanggil negara bergabung dalam Operasi Trikora.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya masuk pasukan pendarat waktu itu," kenang Jakub, Minggu (9/8/2026).
Sebagai prajurit KKO, Jakub menjadi bagian dari pasukan yang dipersiapkan berada di garis paling depan apabila perang benar-benar pecah. Bersama dengan rekan-rekannya, ia berangkat menggunakan KRI Tolando di bawah komando Mayor KKO Abdul Muiz Janggut.
Selama berbulan-bulan di atas kapal saat perjalanan, para prajurit terus menjalani latihan tempur. Di tengah laut, mereka hidup dalam ketidakpastian dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Setiap prajurit juga dibekali kalung dan gelang identitas. Rupanya tujuannya sebagai penanda apabila suatu hari jasad mereka harus dikenali.
"Saat itu semua diberi kalung dan gelang identitas. Dulu diperkirakan separuh pasukan akan gugur," ujar Jakub.
Belanda ketika itu masih menempatkan kekuatan militernya di Irian Barat dengan armada laut dan persenjataan modern. Pasukan KKO yang tergabung dalam gelombang kedua pendaratan pun telah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan perang.
Namun perang besar yang telah dipersiapkan akhirnya tidak pernah terjadi. Upaya diplomasi membuat Belanda bersedia menempuh jalur perundingan.
"Waktu itu tidak jadi perang karena hasil diplomasi Pak Karno," kata Jakub.
Meski tidak sempat mengangkat senjata di medan tempur, Jakub tetap menjadi bagian dari sejarah Trikora. Kemudian setahun berselang, negara kembali memanggilnya.
Pada 1963, Jakub dikirim ke Kalimantan Timur sebagai bagian dari Dwikora (Dwi Komando Rakyat), yakni operasi konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Dengan KRI Teluk Langsa, Jakub bersama pasukan KKO berangkat menuju Tarakan sebelum ditempatkan di Desa Binalawan, Pulau Sebatik. Wilayah tersebut berada tepat di garis perbatasan Indonesia dengan Tawau, Malaysia.
"Di sana kami dibagi masing-masing kompi," kenangnya.
Hampir dua tahun ia menjalani patroli, pengamanan wilayah, hingga operasi infiltrasi di kawasan yang setiap saat dapat berubah menjadi medan pertempuran. Di masa itulah ia kehilangan sejumlah rekan seperjuangan.
Salah satu nama yang paling membekas adalah Usman, prajurit KKO yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
"Usman itu nama aslinya Janatin, dia satu leting sama saya," tutur Jakub.
Menurutnya, Usman bertugas di sektor Kalimantan Barat, sementara dirinya berada di sektor timur.
"Waktu itu karena perahunya mogok karena dikejar lawan, jadi tertangkaplah dia," katanya.
Selain menghadapi tentara Malaysia, Jakub mengingat pasukannya juga harus berhadapan dengan personel militer Selandia Baru yang tergabung dalam pasukan Persemakmuran.
"Ada itu namanya Green Jacket Selandia Baru. Itu musuh kita dulu," tuturnya.
Konfrontasi akhirnya mereda setelah hubungan Indonesia dan Malaysia membaik. Tak lama kemudian, Indonesia diguncang peristiwa Gerakan 30 September 1965 sehingga situasi keamanan berubah dan pasukan di perbatasan ditarik pulang.
Jauh sebelum mengenakan baret ungu KKO, Jakub hanyalah anak petani dari Desa Jiken, Sidoarjo. Ia lahir pada 20 Mei 1940 dari pasangan Saiman Raharjo dan Asmirah. Ayahnya bertani sekaligus berdagang minyak goreng keliling, sedangkan ibunya menjadi petani dan pembatik.
Sejak kecil, Jakub lebih banyak diasuh ibunya karena sang ayah sering meninggalkan rumah untuk mencari nafkah. Selain dididik keluarganya, karakter Jakub juga dibentuk di sebuah langgar kecil di kampungnya.
"Yang paling membekas adalah soal akhlak. Itu yang ditekankan Yai Malik dulu. Jadi orang haris bisa menjaga sikap," katanya.
Nilai-nilai itu tetap melekat meski hidup membawanya ke berbagai medan operasi.
Sebelum menjadi tentara, Jakub juga sempat menjadi guru di lereng Gunung Penanggungan. Sekolahnya tidak memiliki gedung. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di bawah pohon beringin. Papan tulis dipaku pada batang pohon, sementara muridnya hanya tujuh orang.
"Ketika musim panen tiba, wah itu jumlah murid bahkan bisa tinggal jadi dua orang. Karena mereka memilih membantu orang tua di ladang," kenang Jakub.
Tak lama kemudian, ia pun memilih jalan hidup berbeda dengan bergabung ke KKO Marinir.
Kini puluhan tahun berlalu sejak Operasi Trikora dan Konfrontasi Malaysia, Jakub saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan tempat tinggalnya. Ia juga aktif dalam kegiatan keagamaan.
Simak Video "Redtalks: Diskusi Inspiratif Lintas Generasi"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)
