Keracunan makanan sering dianggap sepele karena gejalanya mirip sakit perut biasa. Padahal, kondisi ini bisa muncul akibat makanan yang terkontaminasi bakteri, racun, hingga proses penyimpanan yang tidak higenis.
Dalam beberapa kasus, keracunan makanan bahkan dapat mempengaruhi sistem saraf dan memicu kondisi berbahaya jika tidak segera ditangani. Masalahnya, banyak orang baru sadar setelah muncul gejala seperti mual, muntah, diare, hingga tubuh terasa lemas.
Oleh karena itu, penting memahami seperti apa gejala keracunan makanan, penyebabnya, hingga cara pencegahannya agar tidak salah menganggap kondisi ini sebagai gangguan pencernaan biasa.
Apa Itu Keracunan Makanan?
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, keracunan makanan merupakan penyakit yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri, racun, virus, maupun zat berbahaya.
Kontaminasi ini bisa terjadi dari berbagai sumber, mulai dari proses pengolahan makanan yang kurang higenis, penyimpangan tidak tepat, hingga bahan makanan yang sudah rusak atau tercemar mikroorganisme tertentu.
Dalam dunia pangan, mikroorganisme sebenarnya tidak selalu berbahaya. Beberapa jenis justru membantu proses fermentasi dan meningkatkan daya simpan makanan. Namun, ada juga mikroorganisme patogen yang dapat menghasilkan racun atau toksin yang berbahaya bagi tubuh manusia.
Keracunan makanan umumnya menyerang sistem pencernaan dan sistem saraf. Gangguan pada saluran cerna biasanya ditandai dengan sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Sementara gangguan pada sistem saraf dapat memicu tubuh lemas, kesemutan, hingga kelumpuhan otot pernapasan pada kasus tertentu.
Kenapa Bisa Keracunan Makanan?
Sebagian besar kasus keracunan makanan terjadi akibat sanitasi dan kebersihan makanan yang kurang terjaga. Selain itu, penyimpanan makanan yang tidak tepat juga membuat bakteri lebih mudah berkembang biak.
Makanan yang terlalu lama dibiarkan di suhu ruang, diolah menggunakan peralatan kotor, atau terkontaminasi silang dengan bahan mentah menjadi beberapa penyebab paling umum. Selain bakteri, keracunan makanan juga bisa dipicu beberapa faktor berikut.
- Racun dan jamur
- Makanan yang sudah membusuk
- Pestisida
- Makanan laut tertentu seperti kerang
- Bahan kimia berbahaya
Bakteri Penyebab Keracunan Makanan
Keracunan umumnya disebabkan berbagai jenis bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman. Terdapat beberapa bakteri yang diketahui paling sering menjadi penyebab keracunan makanan yang perlu diwaspadai dalam kehidupan sehari-hari.
1. Escherichia coli (E. coli)
E. coli sebenarnya merupakan bakteri alami yang hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan. Namun, beberapa jenis e. coli tertentu dapat menyebabkan diare hingga gangguan pencernaan serius. Kontaminasi bakteri ini sering ditemukan pada sayuran mentah yang tercemar kotoran hewan, terutama jika proses pencuciannya tidak bersih.
2. Salmonella
Salmonella merupakan salah satu bakteri paling umum penyebab keracunan makanan, salmonella dapat menyebabkan gastroenteritis hingga deman enterik. Kontaminasi salmonella biasanya ditemukan pada telur mentah, daging setengah matang, susu, hingga makanan yang tidak disimpan dengan benar.
3. Shigella
Merupakan bakteri patogen di usus manusia dan primata penyebab shigellosis (disentri basiler) atau infeksis usus akut. Kontaminasinya sering ditemukan pada salad, sayuran mentah, susu, hingga air yang tercemar. Bakteri ini mudah menyebar pada lingkungan dengan sanitasi buruk dan dapat memicu diare berat disertai darah.
4. Clostridium Botulinum
Bakteri ini termasuk yang paling berbahaya karena dapat menghasilkan racun botulinum yang menyerang sistem saraf. Clostridium botulinum biasanya berkembang pada makanan kaleng atau makanan kemasan yang pengolahannya tidak sempurna.
Gejalanya bisa berupa penglihatan kabur, tenggorokan terasa kaku, kejang, hingga kesulitan bernapas. Bahkan dalam kondisi parah, botulisme dapat menyebabkan kematian.
Gejala Keracunan Makanan yang Perlu Diwaspadai
Kemenkes melalui laman resminya menjelaskan gejala keracunan yang dialami penderita. Keracunan sendiri disebut memunculkan gejala yang bisa muncul beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, pada beberapa kasus, gejalanya juga dapat muncul lebih lambat tergantung jenis bakteri atau racunnya.
1. Mual, Muntah, dan Sakit Perut
Mual, muntah, dan sakit perut merupakan gejala paling umum dari keracunan makanan, di mana tubuh bereaksi terhadap racun atau bakteri dengan cara mengeluarkannya melalui muntah atau menimbulkan rasa tidak nyaman dan nyeri pada area perut.
2. Diare
Diare juga menjadi salah satu tanda paling sering muncul saat seseorang mengalami keracunan makanan, karena saluran pencernaan mengalami infeksi atau iritasi akibat makanan yang telah terkontaminasi sehingga tubuh berusaha mengeluarkan zat berbahaya lebih cepat.
3. Tubuh Lemas dan Kesemutan
Pada kasus tertentu, terutama akibat racun botulinum, penderita bisa mengalami kelemahan otot, tubuh terasa lemas, kesemutan, atau kesulitan makanan, hingga berbicara cadel.
Ketika botulisme menyerang saraf, akan melemahkan tonus otot di seluruh tubuh, dimulai dari bahu, lengan, paha, betis, dan berakhir di kaki. Apabila kelemahan otot ini diabaikan dan botulisme tidak diobati, dapat mengalami kelumpuhan.
4. Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi pada kasus keracunan yang lebih serius, seperti botulisme, di mana racun menyerang sistem saraf dan menyebabkan gejala seperti penglihatan kabur, berbayang, hingga kelopak mata terasa turun atau sulit terbuka.
Bahaya Keracunan Makanan
Keracunan makanan dapat berdampak serius bagi kesehatan jika tidak segera ditangani dengan tepat. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa menjadi komplikasi berbahaya, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Berikut beberapa bahaya keracunan makanan yang perlu diwaspadai.
1. Dehidrasi Berat
Keracunan makanan yang disertai diare dan muntah terus-menerus dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Jika tidak segera digantikan, kondisi ini bisa memicu dehidrasi berat yang berbahaya bagi fungsi organ tubuh.
2. Gangguan Sistem Pencernaan
Infeksi bakteri dari makanan terkontaminasi dapat merusak keseimbangan sistem pencernaan, menyebabkan nyeri perut berkepanjangan, diare parah, hingga peradangan pada saluran cerna.
3. Kerusakan Organ Tubuh
Pada kasus keracunan makanan yang lebih parah, racun dari bakteri tertentu dapat menyebar ke organ vital seperti hati dan ginjal, sehingga mengganggu fungsinya secara serius.
4. Komplikasi Saraf
Beberapa jenis keracunan, seperti botulisme, dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan gejala seperti gangguan penglihatan, kesulitan bicara, hingga kelumpuhan.
5. Risiko Kematian
Jika tidak segera ditangani, keracunan makanan yang berat dapat berujung pada komplikasi fatal, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Cara Mencegah Keracunan Makanan
Keracunan makanan sebenarnya bisa dicegah dengan menjaga kebersihan makanan dan proses pengolahannya. Beberapa langkah sederhana yang paling penting dilakukan antara lain sebagai berikut.
- Mencuci buah dan sayuran sebelum disajikan.
- Pisahkan makanan yang telah masak dari makanan mentah di setiap tahap pemrosesan dan tempat penyiapan, penyimpanan, hingga meja makan.
- Mengambil makanan tidak dengan tangan, tetapi menggunakan alat (sendok atau penjepit).
- Menutup kembali makanan yang belum dikonsumsi.
- Mencegah serangga, burung memasuki ruangan tempat makanan diproses.
- Menjaga kebersihan pribadi.
- Tidak bersin dan betuk di dekat makanan.
- Mengenakan pakaian pelindung
- Membersihkan seluruh peralatan dengan cara yang benar.
- Segera membuang bahan makanan yang tidak segar atau telah busuk.
Keracunan makanan bisa terjadi tanpa disadari dan gejalanya sering dianggap sebagai sakit perut biasa. Padahal, beberapa jenis bakteri dan racun dalam makanan dapat memicu gangguan serius jika tidak segera ditangani.
Karena itu, penting lebih teliti terhadap kebersihan makanan, cara penyimpanan, hingga kondisi bahan yang dikonsumsi sehari-hari. Dengan mengenali gejala keracunan makanan sejak awal, risiko komplikasi yang lebih berbahaya juga bisa dicegah lebih cepat.
Simak Video "Video: Jangan Buru-buru Kasih Obat Penyetop Diare pada Anak Keracunan"
(irb/hil)