Usulan pelarangan vape atau rokok elektrik kembali mencuat. Badan Narkotika Nasional (BNN) mendorong kebijakan tersebut karena vape dinilai kerap disalahgunakan sebagai media konsumsi narkotika.
Hal ini terungkap dalam rapat bersama DPR, menyusul meningkatnya temuan zat terlarang dalam cairan vape. Berdasarkan hasil uji laboratorium, sejumlah produk vape diketahui mengandung bahan berbahaya seperti sintetis kanabinoid, sabu, hingga etomidate yang merupakan obat bius.
Kondisi tersebut membuat BNN menilai pelarangan vape perlu dipertimbangkan sebagai langkah pencegahan terhadap penyalahgunaan narkotika yang semakin berkembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, penggunaan vape dengan kandungan zat berbahaya juga berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Lantas, apa saja bahaya vape bagi tubuh? Berikut penjelasannya.
Dampak Kesehatan Vape yang Perlu Diwaspadai
Mengutip berbagai sumber kesehatan, penggunaan vape tidak sepenuhnya aman. Bahkan, terdapat sejumlah risiko yang dapat mengancam kesehatan, di antaranya:
1. Menyebabkan Ketagihan
Vape mengandung nikotin yang dapat memicu ketergantungan, serupa dengan rokok tembakau. Zat ini bekerja dengan merangsang otak untuk melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang.
Akibatnya, penggunaan vape dapat membuat seseorang sulit berhenti dan berisiko mengalami kecanduan. Hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa vape merupakan alternatif yang aman untuk berhenti merokok.
2. Merusak Paru-Paru
Meski tidak menggunakan tembakau, vape tetap berisiko merusak paru-paru. Kandungan nikotin dan zat kimia lainnya dapat memicu peradangan serta melemahkan sistem perlindungan paru.
Selain itu, zat seperti diasetil diketahui dapat menyebabkan penyakit paru serius, seperti popcorn lung. Paparan bahan kimia tertentu juga bisa menimbulkan iritasi saat terhirup.
3. Mengganggu Fungsi Jantung
Nikotin dalam vape tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga pada kesehatan jantung. Zat ini terserap ke dalam aliran darah dan merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin).
Akibatnya, tekanan darah dan denyut jantung dapat meningkat, yang dalam jangka panjang berisiko memicu gangguan kardiovaskular.
4. Berbahaya bagi Janin dan Anak
Penggunaan vape pada ibu hamil berpotensi mengganggu perkembangan janin. Paparan nikotin dan zat berbahaya lainnya dapat memengaruhi proses tumbuh kembang dalam kandungan.
Sementara pada anak-anak, paparan dari lingkungan juga berisiko. Nikotin dapat memengaruhi perkembangan otak, kualitas tidur, hingga kemampuan mengingat.
5. Meningkatkan Risiko Kanker dan Keracunan
Beberapa produk vape diketahui mengandung zat berbahaya seperti formaldehida yang berpotensi memicu kanker. Hal ini menunjukkan bahwa vape tetap memiliki risiko kesehatan jangka panjang.
Selain itu, cairan nikotin juga berbahaya jika terkena kulit atau tertelan, terutama oleh anak-anak. Dalam kondisi tertentu, paparan ini dapat menyebabkan keracunan serius hingga berujung fatal.
Dengan berbagai temuan tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap penggunaan vape, terutama yang tidak jelas kandungannya. Selain berisiko disalahgunakan sebagai media narkotika, vape juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan tubuh.
(irb/dpe)
