Mengenal Jalur Lingkar Kaldera Tengger, Ada Apa Saja?

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Sabtu, 18 Apr 2026 13:00 WIB
Foto udara warga menunggang kuda melintasi jalur kaldera tengger di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo.
Bromo -

Bromo selalu jadi magnet wisata di Jawa Timur. Ribuan kendaraan keluar-masuk setiap hari, membawa dampak ekonomi besar bagi masyarakat sekitar.

Tapi di balik itu, muncul jalur-jalur liar yang tidak terkendali, sehingga merusak savana, memicu erosi, dan mengganggu ekosistem alamnya.

Kini, pemerintah mulai membangun Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) untuk menata semuanya. Yuk, kenalan sama Jalur Lingkar Kaldera Tengger ini detikers!

Apa Itu Jalur Lingkar Kaldera Tengger?

Dikutip dari postingan Instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru, pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger diinisiasi karena pergerakan kendaraan dari aktivitas wisata masih belum sepenuhnya tertata dalam satu jalur yang jelas.

Akibatnya, muncul banyak jalur yang saling bersinggungan dan membentuk pola seperti jaring laba-laba di kawasan kaldera. Hal ini serius karena jalur yang tak terarah berdampak pada savana dan lautan pasir. Ini juga mengganggu habitat alami flora dan fauna dan berpotensi menimbulkan genangan serta kerusakan tanah di beberapa titik.

Jalur Lingkar Kaldera Tengger adalah upaya penataan jalur wisata di kawasan Bromo. Karena timbul beberapa potensi kerusakan tadi, tujuan adanya JLKT ialah melindungi ekosistem, menjaga nilai budaya Tengger, dan meningkatkan kenyamanan wisata.

Dengan penataan jalan di kawasan ini diharapkan ekosistem bisa tetap terjaga, pergerakan wisata lebih tertib, pengunjung lebih nyaman, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan secara berkelanjutan.

Pembangunan JLKT di Kawasan Bromo

Pembangunan JLKT resmi dimulai melalui proses groundbreaking yang dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Senin (13/4/2026), di kawasan Bromo, Kabupaten Probolinggo.

Dilansir dari laman resmi Biro Organisasi Jatim, Khofifah juga didampingi Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut Satyawan Pudyatmoko, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, Bupati Probolinggo Mohammad Haris, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar, dan Forkopimda Jatim.

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa JLKT merupakan sinergi TNBTS dan Kementerian Kehutanan dalam mengharmonisasikan kekuatan daya dukung alam dan lingkungan di destinasi wisata.

"Kami bersyukur JLKT ini ketemu dengan programnya TNBTS dan Kementerian Kehutanan. Lalu, kita harmonisasikan dengan apa yang menjadi kekuatan adat pada Suku Tengger ini, ketemulah rute-rutenya," kata Gubernur Khofifah.

Spesifikasi dan Fasilitas JLKT

Penataan JLKT mencakup pembangunan jalur sepanjang kurang lebih 13 kilometer dengan lebar 18 meter, dilengkapi dengan 3 titik rest area, 4 titik kantong parkir, 9.725 patok pembatas jalur, serta 60 sumur resapan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.

"Kalau dihitung ada 13 km, kita butuh 9 ribu lebih patok, kita tidak melakukan pengaspalan karena kita menjaga daya dukung alam dan daya dukung lingkungan. Itu kita juga merespon banyak sekali yang menyampaikan untuk kebutuhan rest room," ungkapnya.

Lokasi Rest Area

Penataan JLKT mencakup penyediaan titik-titik singgah resmi bagi wisatawan. Sebanyak tiga rest area akan dibangun di sepanjang jalur untuk mendukung kenyamanan pengunjung sekaligus menata aktivitas di dalam kawasan agar lebih terorganisir.

"Ada 3 rest area rencananya, dan rest room di masing-masing area. Mudah-mudahan jumlahnya cukup untuk bisa memberikan layanan kepada wisatawan. Kita juga siapkan sumber airnya supaya bisa cover kebutuhan di 3 rest area itu. Ada juga area parkir, harapannya wisatawan bisa menikmati indahnya Bromo," tambahnya.

Para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini beraktivitas di area kaldera akan dipindahkan ke tiga lokasi tersebut. Dengan penataan ini, aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun lebih rapi, terorganisir, dan tidak mengganggu kelestarian kawasan. Berikut lokasi tiga rest area di JLKT.

  • Bungkah Cemoro Lawang
  • Bungkah Dingklik
  • Watu Gede

Sarana Pendukung

Penataan JLKT juga dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung untuk menunjang kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Ketersediaan air bersih menjadi salah satu fokus, dengan mengoptimalkan dua sumber air yang ada, yakni sebagai berikut.

  • Sumber Widodaren
  • Sumber Jantur

Selain itu, fasilitas toilet dan sanitasi ramah lingkungan akan disediakan di seluruh rest area. Kehadiran sarana ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan bagi pengunjung tanpa mengabaikan kelestarian kawasan.

Penataan JLKT tidak lagi sebatas rencana. Proyek ini telah memasuki tahap pembangunan yang dijadwalkan berlangsung mulai Maret hingga Oktober 2026. Tahapan ini menjadi langkah konkret mewujudkan kawasan wisata yang lebih tertata, berkelanjutan, sekaligus tetap menjaga nilai sakral dan ekosistem di kawasan Bromo.



Simak Video "Video: Guys, Kawasan Bromo Ditutup buat Wisata 6-12 April!"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork