Peringatan hari wafatnya Yesus Kristus disebut juga dengan Jumat Agung dan menjadi hari besar yang dirayakan setiap tahun. Pada hari saat peristiwa wafatnya Yesus Kristus, menyimpan sejarah menarik tentang meninggalnya Yesus Kristus atau disebut juga Isa Al-Masih.
Kisah wafatnya Yesus Kristus merupakan salah satu peristiwa sentral dalam agama Kristen, yang diceritakan secara rinci dalam keempat Injil Perjanjian Baru Alkitab. Peristiwa ini memperingati pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa manusia, dan diperingati setiap tahun sebagai Jumat Agung.
Kisah Penyaliban Yesus Kristus
Kisah ini dirangkum dan diterjemahkan dari berbagai sumber berbahasa Inggris. Menjelang malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus berkumpul bersama 12 murid-Nya di sebuah ruang atas di Yerusalem. Mereka makan bersama yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Terakhir.
Di tengah suasana yang tenang, Yesus sebenarnya sudah tahu bahwa pengkhianatan akan segera terjadi. Namun, alih-alih menunjukkan kemarahan, Ia justru membasuh kaki murid-murid-Nya.
Setelah itu, Ia memecahkan roti dan membagikan anggur, sambil mengatakan bahwa keduanya adalah simbol tubuh dan darah-Nya. Usai makan malam, mereka berjalan melewati Lembah Kidron menuju Taman Getsemani.
Di sana, suasana berubah menjadi sangat sunyi dan berat. Yesus berdoa sendirian dan diliputi kesedihan yang mendalam. Bahkan, digambarkan keringat-Nya seperti tetesan darah.
Ia memohon, "Bapa, jika mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari-Ku. Namun, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi".
Sementara itu, para murid tertidur dan tidak menyadari bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi. Tak lama kemudian, Yudas Iskariot datang bersama rombongan yang diutus oleh imam-imam kepala.
Ia datang untuk mengkhianati Yesus. Meski tahu apa yang terjadi, Yesus tetap tenang. Ketika salah satu murid mencoba melawan dengan kekerasan, Yesus justru menyembuhkan orang yang terluka dan menegur tindakan tersebut.
Yesus kemudian ditangkap dan dibawa ke hadapan para pemimpin agama. Sepanjang malam, Ia menghadapi tuduhan palsu, ejekan, bahkan kekerasan fisik. Ketika ditanya apakah Ia Mesias, Yesus menjawab dengan tenang, yang justru membuat mereka menuduh-Nya melakukan penghujatan.
Keesokan paginya, Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus. Pilatus sebenarnya tidak menemukan kesalahan pada Yesus, tetapi tekanan dari kerumunan yang dipengaruhi para imam membuat situasi menjadi tidak terkendali.
Bahkan, setelah sempat dikirim ke Herodes dan kembali lagi, keputusan akhirnya tetap sama bahwa Yesus harus disalibkan. Pilatus pun mencuci tangannya sebagai simbol bahwa ia tidak ingin bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Sebelum penyaliban, Yesus disiksa dengan sangat kejam. Ia dicambuk, dipakaikan mahkota duri, dipukul, dan dipermalukan oleh para prajurit. Setelah itu, Ia dipaksa memikul salib-Nya sendiri menuju Golgota.
Dalam perjalanan, Ia beberapa kali terjatuh karena beratnya beban dan kondisi tubuh-Nya yang sudah sangat lemah. Seorang pria bernama Simon dari Kirene akhirnya dipaksa membantu memikul salib tersebut.
Sekitar pukul 9 pagi, Yesus disalibkan di Golgota, di antara dua penjahat. Meski dalam penderitaan yang luar biasa, kata-kata pertama yang Ia ucapkan justru adalah pengampunan, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat".
Dari pagi hingga siang, Ia terus menghadapi ejekan dari orang-orang di sekitarnya. Namun di tengah penderitaan itu, Ia masih menunjukkan kasih bahkan menjanjikan surga kepada salah satu penjahat di samping-Nya, serta mempercayakan ibu-Nya kepada murid yang Ia kasihi.
Sekitar tengah hari, kegelapan menyelimuti bumi selama tiga jam. Lalu, Yesus berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Setelah itu, Ia berkata, "Sudah selesai," dan menyerahkan nyawa-Nya pada pukul 3 sore. Saat itu, bumi berguncang, dan tirai Bait Suci terbelah.
Untuk memastikan kematian-Nya, seorang prajurit menusuk lambung Yesus, dan keluarlah darah serta air. Setelah itu, jenazah-Nya diturunkan dari salib. Yusuf dari Arimatea meminta izin kepada Pilatus untuk memakamkan Yesus.
Bersama Nikodemus, ia membungkus tubuh Yesus dengan kain lenan dan rempah-rempah, lalu meletakkannya di dalam kubur baru yang dipahat di batu. Sebuah batu besar digulingkan untuk menutup pintu kubur, dan penjaga ditempatkan di sana.
Mengapa Diperingati sebagai Jumat Agung?
Peristiwa inilah yang kemudian dikenang oleh umat Kristiani sebagai Jumat Agung atau hari Jumat sebelum Paskah dalam rangkaian Pekan Suci. Meski disebut "Agung," hari ini justru dipenuhi suasana hening. Bahkan, dalam bahasa Jerman ada istilah Karfreitag, yang secara harfiah berarti Jumat yang penuh kesedihan
Di banyak gereja, tidak ada misa atau perayaan Ekaristi. Altar dibiarkan kosong sebagai simbol duka. Ibadah biasanya dilakukan untuk mengingat kisah sengsara Yesus, termasuk penghormatan terhadap salib.
Umat juga menjalankan tradisi seperti puasa, pantang, Jalan Salib, hingga doa tiga jam dari pukul 12 siang hingga 3 sore untuk mengenang detik-detik terakhir Yesus.
Asal Penentuan Tanggal Jumat Agung
Dirangkum dari Encyclopaedia Britannica, kalau dilihat dari kisah dalam Injil (Matius, Markus, dan Lukas), Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya dipercaya sebagai bagian dari perayaan Paskah Yahudi.
Artinya, peristiwa penyaliban terjadi sekitar tanggal 15 Nisan dalam kalender Yahudi. Namun, ada juga versi lain dari Injil Yohanes yang menyebutkan bahwa Paskah belum dimulai saat Perjamuan Terakhir berlangsung. Ini membuat tanggal wafat Yesus kemungkinan jatuh pada 14 Nisan.
Karena perbedaan ini, umat Kristiani tidak menggunakan tanggal pasti dalam kalender modern. Sebaliknya, penentuan Jumat Agung mengikuti sistem kalender Paskah yang berubah setiap tahun yang dihitung berdasarkan kalender lunisolar Yahudi.
Itulah kenapa tanggal Jumat Agung bisa berbeda-beda, biasanya jatuh antara 20 Maret sampai 23 April, dengan Hari Paskah dirayakan dua hari setelahnya.
Kenapa Perayaannya Dipisah?
Di masa awal Kekristenan, sebenarnya tiga peristiwa besar yaitu Perjamuan Terakhir, wafatnya Yesus, dan kebangkitan-Nya, yang dirayakan dalam satu rangkaian sekaligus menjelang Paskah.
Namun sejak abad ke-4, ketiganya mulai diperingati secara terpisah, di mana ada Kamis Putih untuk Perjamuan Terakhir, Jumat Agung untuk penyaliban, Paskah untuk kebangkitan
Tradisi Ibadah Jumat Agung
Masih dilansir sumber yang sama, seiring waktu cara memperingati Jumat Agung juga mengalami banyak perubahan. Dalam Gereja Katolik, misalnya, tidak ada misa seperti biasanya.
Sebagai gantinya, ada ibadah khusus yang berisi pembacaan kisah sengsara Yesus, penghormatan terhadap salib, dan komuni. Menariknya, dulu hanya imam yang menerima komuni pada Jumat Agung. Tapi sejak tahun 1955, umat juga ikut ambil bagian.
Ada juga tradisi yang cukup dikenal, yaitu ibadah tiga jam yang berlangsung dari pukul 12 siang sampai 3 sore. Waktu ini dipercaya sebagai saat-saat terakhir Yesus di kayu salib. Tradisi ini mulai populer sejak abad ke-17, salah satunya setelah peristiwa gempa di Peru, dan kemudian menyebar ke berbagai gereja.
Di gereja Protestan dan Anglikan, bentuk ibadahnya bisa berbeda-beda, tapi umumnya tetap mengangkat tema atas penderitaan dan pengorbanan Yesus. Beberapa gereja bahkan mengadopsi elemen liturgi yang lebih hening, seperti tidak menggunakan musik organ atau membiarkan altar tetap kosong.
Simak Video "Video: Jumat Agung di Gereja Katedral Kupang Penuh, Arus Lalin Sekitar Padat"
(irb/hil)