Pada Minggu 5 April 2026, umat Kristen dan Katolik di berbagai penjuru dunia merayakan hari Paskah. Perayaan ini menjadi momen sakral yang sarat makna akan pengharapan baru bagi umat Kristiani.
Paskah memperingati kebangkitan Yesus pada hari ketiga setelah wafat di kayu salib. Kebangkitan tersebut merupakan tanda kemenangan atas dosa dan maut, sekaligus penggenapan janji keselamatan bagi umat manusia.
Sejarah Paskah
Awal mula peringatan Paskah tidak dapat dilepaskan dari akar tradisi Yahudi. Secara historis dan teologis, perayaan ini memiliki landasan kuat dalam ajaran Alkitab, yang berkembang dari kisah-kisah dalam Perjanjian Lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perkembangannya, makna Paskah kemudian dipahami secara lebih utuh melalui Perjanjian Baru. Kedua bagian ini saling berkaitan dan membentuk pemahaman mendalam tentang Paskah sebagai perayaan penting yang hingga kini dirayakan oleh umat Kristen dan Katolik.
Makna Paskah dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, Paskah dikenal dengan istilah Pesakh (Passover), yang berarti "melewatkan". Perayaan ini berawal dari kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran.
Saat itu, Tuhan menurunkan 10 tulah ke Mesir. Tulah terakhir adalah kematian anak sulung. Namun, rumah-rumah bangsa Israel yang telah ditandai dengan darah anak domba dilewati dari malapetaka tersebut. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai Paskah umat Yahudi.
Setiap tahun, bangsa Israel merayakannya dengan menyembelih domba dan mengadakan perjamuan roti tidak beragi. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi pengingat bahwa Tuhan pernah membebaskan umat-Nya dari perbudakan menuju kebebasan.
Makna Paskah dalam Perjanjian Baru
Makna Paskah mengalami pendalaman dan penggenapan di Perjanjian Baru melalui kematian hingga kebangkitan Yesus Kristus. Jika dalam Perjanjian Lama darah anak domba menyelamatkan bangsa Israel dari maut, maka dalam iman Kristen di Perjanjian Baru, Yesus dipahami sebagai 'Anak Domba Allah' tersebut yang menebus dosa umat manusia.
Peristiwa penyaliban yang terjadi di Golgota menjadi puncak penderitaan. Namun, kematian bukanlah akhir. Pada hari ketiga, kubur didapati kosong dan Yesus bangkit. Kebangkitan inilah yang menjadi inti perayaan Paskah dan iman Kristen.
Karena itu, Paskah dalam Perjanjian Baru tidak lagi hanya berbicara tentang pembebasan dari perbudakan fisik, melainkan pembebasan dari dosa dan maut. Perayaan ini menjadi tanda kemenangan dan harapan akan kehidupan kekal.
Bisa ditarik satu benang merah tentang Paskah. Dari pembebasan bangsa Israel di Mesir hingga kebangkitan Yesus Kristus, semuanya berbicara tentang karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia.
Rangkaian Ibadah Paskah
Perayaan Paskah tidak berlangsung sehari saja. Ada rangkaian ibadah yang dijalani umat Kristen dan Katolik untuk mengenang kematian hingga kebangkitan Yesus Kristus. Rangkaian ini membentuk satu kesatuan peristiwa iman yang saling berkaitan, di antaranya sebagai berikut.
1. Rabu Abu
Rabu Abu menjadi tanda dimulainya masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari sebelum Paskah. Pada hari ini, umat menerima tanda abu di dahi berbentuk salib.
Abu melambangkan pertobatan dan pengingat bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Masa ini diisi dengan puasa, pantang, doa, dan refleksi diri sebagai persiapan menyambut kebangkitan Kristus.
2. Minggu Palma
Minggu Palma diperingati pada hari Minggu sebelum Paskah (seminggu sebelumnya). Ibadah ini mengenang peristiwa ketika Yesus memasuki Yerusalem, dan disambut sorak-sorai rakyat yang melambaikan daun palma sebagai tanda penghormatan.
Daun palma menjadi simbol kemenangan. Namun, siapa sangka? Suasana tersebut justru merupakan awal mula Yesus menghadapi kesengsaraan. Artinya, Minggu Palma bukan hanya perayaan penyambutan, tetapi awal perenungan menuju penyaliban.
3. Kamis Putih
Kamis Putih memperingati Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid sebelum Ia ditangkap. Dalam perjamuan itu, Yesus memecah roti dan membagikan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya.
Peristiwa ini menjadi dasar perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus dalam gereja. Di sejumlah gereja, dilakukan pula ritual pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan.
4. Jalan Salib
Jalan Salib atau Via Dolorosa adalah devosi yang menggambarkan 14 perhentian perjalanan Yesus menuju penyaliban. Tradisi ini berkembang kuat dalam Gereja Katolik dan biasanya dilakukan selama masa Prapaskah, terutama pada Jumat Agung.
Dalam setiap perhentian, umat merenungkan momen-momen penting, mulai dari Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, hingga dimakamkan. Jalan Salib menjadi sarana refleksi atas penderitaan Kristus dan makna pengorbanan-Nya bagi manusia.
5. Jumat Agung
Jumat Agung menjadi hari peringatan wafatnya Yesus di kayu salib. Ibadah berlangsung dalam suasana hening dan penuh penghormatan.
Yesus disalibkan di Golgota dan wafat sebagai bentuk pengorbanan untuk menebus dosa manusia. Pada hari ini, gereja tidak merayakan misa seperti biasa, melainkan lebih menekankan pada ibadah sabda dan penghormatan salib.
6. Hari Pentakosta
Pentakosta diperingati 50 hari setelah Paskah. Perayaan ini mengenang turunnya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem. Peristiwa tersebut menjadi titik awal lahirnya gereja mula-mula.
Dari sinilah para murid mulai memberitakan Injil secara terbuka dan berani. Pentakosta menegaskan bahwa kebangkitan Kristus tidak berhenti pada makam kosong, tetapi berlanjut dalam karya Roh Kudus di tengah umat. Hal ini juga menjadi bukti bahwa Yesus tetap menyertai manusia hingga saat ini.
(irb/hil)











































