Mengenal Puasa Umat Katolik dan Kristen, Apa Bedanya?

Mengenal Puasa Umat Katolik dan Kristen, Apa Bedanya?

Anastasia Trifena - detikJatim
Selasa, 31 Mar 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Puasa Katolik.
Ilustrasi Puasa Katolik. Foto: Freepik
Surabaya -

Menjelang perayaan Paskah 2026, umat Katolik dan Kristen memasuki masa Prapaskah yang identik dengan praktik puasa sebagai bentuk pengendalian diri dan pendalaman iman.

Dalam tradisi Katolik, Prapaskah dimulai pada Rabu Abu dan berlangsung sekitar 40 hari sebagai masa persiapan menyambut kebangkitan Yesus Kristus pada hari Paskah. Umat diajak memperbanyak doa, melakukan pertobatan, berderma, serta menjalani puasa dan pantang sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi iman.

Sementara dalam tradisi Kristen Protestan, puasa dipahami sebagai tindakan sukarela untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Praktiknya dapat berupa tidak makan dan minum dalam waktu tertentu, disertai doa dan pembacaan Alkitab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tidak bersifat wajib, puasa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Lantas, bagaimana sebenarnya aturan, makna, serta perbedaan puasa dalam Katolik dan Kristen Protestan? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Masa Prapaskah?

Mengutip buku "Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja" karya Rasid Rachman, Prapaskah dikenal dalam tradisi gereja sebagai quadragesima, yang berarti masa pembinaan spiritual selama 40 hari. Periode ini merupakan momen penghayatan akan kasih Allah melalui pengorbanan Kristus.

ADVERTISEMENT

Selama masa ini, umat diajak untuk memperdalam refleksi, pertobatan, serta pengendalian diri melalui doa dan puasa. Tradisi ini berkaca pada kisah puasa 40 hari Yesus di padang gurun saat dicobai iblis sebelum memulai pelayanan-Nya, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 4:1-2.

Angka 40 sendiri dalam Alkitab kerap dimaknai sebagai masa persiapan dan pemurnian iman. Karena itu, Prapaskah dipandang sebagai waktu bagi umat untuk membenahi diri, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta menyiapkan hati menyambut perayaan Paskah.

Puasa Umat Katolik

Puasa dalam tradisi Katolik dijalankan secara khusus pada masa Prapaskah sebagai bentuk pertobatan dan persiapan menyambut Paskah. Secara makna, puasa merupakan bentuk 'persatuan' dengan pengorbanan Yesus Kristus.

Bentuknya dibagi menjadi dua, yaitu puasa (pada umumnya) dan pantang. Selama masa Prapaskah, puasa dan pantang dilakukan setiap hari Rabu dan Jumat.

Secara aturan, puasa berarti makan satu kali kenyang dalam sehari atau makan dua kali dalam porsi kecil tetapi tidak sampai kenyang. Bagi umat yang terbiasa makan tiga kali sehari, pola puasa dapat dijalankan dengan memilih salah satu susunan berikut.

  • Kenyang (pagi), tidak kenyang (siang), tidak kenyang (malam)
  • Tidak kenyang (pagi), kenyang (siang), tidak kenyang (malam)
  • Tidak kenyang (pagi), tidak kenyang (siang), kenyang (malam)

Kewajiban puasa berlaku bagi umat Katolik berusia 18 hingga 59 tahun. Mereka yang sakit, hamil, atau dalam kondisi khusus dapat dibebaskan dari kewajiban ini.

Selain puasa, umat Katolik juga menjalankan pantang yang mengikat umat berusia 14 tahun ke atas. Pantang merupakan bentuk pengorbanan dengan menahan diri dari makanan atau hal tertentu sebagai wujud pertobatan. Pantang dapat berupa:

  • Pantang daging, dan/atau
  • Pantang rokok, dan/atau
  • Pantang garam, dan/atau
  • Pantang gula serta semua manisan seperti permen, dan/atau
  • Pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, atau film

Meski kewajiban pantang tergolong ringan, umat dianjurkan menetapkan bentuk puasa dan pantang yang lebih berat secara pribadi, keluarga, atau kelompok. Penetapan di luar kewajiban gereja tersebut tidak mengikat dengan sanksi dosa, melainkan menjadi bagian dari latihan tobat yang lebih mendalam.

Melansir dari laman resmi SMP Pacet Sanmarosu, perayaan perkawinan selama masa Prapaskah juga disesuaikan, dan tidak dirayakan secara meriah guna menjaga suasana pertobatan.

Puasa Umat Kristen

Puasa bagi umat Kristen Protestan bukanlah suatu kewajiban, melainkan tindakan sukarela untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa Kristen Protestan lahir dari kerelaan masing-masing umat dan tidak ada ketentuan hari wajib tertentu.

Meski begitu, terkadang beberapa gereja Kristen memiliki kesepakatan dalam mengadakan doa puasa. Ajaran tentang puasa terdapat dalam Matius 6:16-18, tertulis:

"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Karenanya, puasa dalam Kristen menekankan pada ketulusan hati dan tidak untuk pamer kepada orang lain sebagai pengukuran kerohanian diri. Pelaksanaan dan bentuk puasa yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan rohani masing-masing. Beberapa bentuk puasa yang umum dilakukan antara lain sebagai berikut.

  • Puasa biasa: Tidak makan, tetapi tetap minum air.
  • Puasa penuh: Tidak makan dan tidak minum dalam jangka waktu tertentu (umumnya maksimal 3 hari).
  • Puasa 12 jam atau 24 jam: Tidak makan dan tidak minum selama durasi tersebut, disertai menjauhi hiburan.
  • Puasa Daniel: Hanya mengonsumsi sayur hijau dan air serta menghindari makanan lezat, daging, dan anggur. Biasanya dijalankan selama 10-21 hari.
  • Puasa pantang: Menahan diri dari kebiasaan tertentu seperti hiburan atau media sosial untuk memperdalam kehidupan rohani.

Apapun bentuk puasanya, harus selalu disertai dengan doa, pembacaan dan perenungan firman Tuhan, serta refleksi diri. Jangka waktu yang diambil pun tergantung dengan kebutuhan rohani, dua diantaranya yang paling umum adalah 21 dan 40 hari.

Dasar Alkitab tentang Puasa dalam Kekristenan

Puasa dalam Kekristenan memiliki dasar yang kuat dalam Alkitab, baik pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sejumlah tokoh iman tercatat menjalankan puasa sebagai bentuk pertobatan, pencarian kehendak Tuhan, serta persiapan menjalankan tugas rohani.

Salah satu teladan utama terdapat dalam Injil Matius 4:2 ketika Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun sebelum memulai pelayanan-Nya.

"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus."

Dalam peristiwa tersebut, Yesus menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebagai bentuk ketaatan dan kesiapan rohani dalam menghadapi pencobaan.

Selain itu, ajaran tentang sikap berpuasa juga disampaikan Yesus dalam Injil Matius 6:16-18 yang sempat dibahas di atas tadi.

Dalam ayat tersebut, umat diingatkan agar tidak berpuasa untuk pamer atau mencari pujian manusia. Puasa seharusnya dilakukan dengan tulus, sebagai relasi pribadi dengan Tuhan yang melihat apa yang tersembunyi.

Di Perjanjian Lama, praktik puasa juga dilakukan tokoh dan nabi seperti Musa, Daud, Elia, Daniel, hingga Ester. Dari berbagai kisah itu, puasa dipahami sebagai sarana merendahkan diri, memohon pertolongan Tuhan, dan memperkuat iman dalam situasi sulit.

Karenanya dapat disimpulkan bahwa dasar hukum puasa dalam Kekristenan bukan semata kewajiban, melainkan ajakan untuk membangun kedekatan yang lebih dalam dengan Tuhan melalui kerendahan hati dan ketaatan.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads