Sosok Pasutri yang 22 Tahun Hidup di Dasar Jurang Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Minggu, 30 Nov 2025 15:10 WIB
Sosok pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Karmin alias Pak Soleh (71) dan Simpen (56) memilih hidup di dasar Jurang Gembolo, perbatasan Kecamatan Pacet dan Trawas di Kabupaten Mojokerto. Tak tanggung-tanggung, pasangan suami istri (pasutri) ini sudah 22 tahun tinggal di dalam jurang tersebut.

Rumah pasangan Karmin dan Simpen benar-benar di dasar Jurang Gembolo. Jurang ini begitu dalam di antara dua bukit kawasan Gunung Welirang. Terdapat sungai di dasar jurang yang memisahkan Kecamatan Pacet dengan Trawas.

Karmin berasal dari Desa Nogosari, Pacet, Mojokerto. Ia anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Warsiman dan Piah. Saudara kandungnya adalah Wuliati dan Kartono. Ayahnya meninggal dunia tahun 2012. Setahun kemudian disusul ibunya.

Pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Pria kelahiran 2 Maret 1954 ini mempunyai dua anak laki-laki dan perempuan dari istri pertamanya. Setelah bercerai, ia menikah dengan Simpen, wanita asal Desa Centong, Gondang, Mojokerto pada 2001. Pernikahan mereka dikaruniai tiga anak laki-laki.

"Saya punya anak lima, tapi anak ketiga meninggal dunia. Yang empat lainnya sudah berumah tangga dan punya rumah sendiri-sendiri," kata Karmin kepada wartawan di rumahnya, Minggu (30/11/2025).

Empat anak Karmin kini tinggal di Dusun Jaten, Desa Selotapak, Trawas, Mojokerto, di Dusun Jatirejo, Desa Centong, Gondang, Mojokerto, di Dusun Sambilawang, Desa Sawo, Kutorejo, Mojokerto, serta di Desa Nogosari.

Karmin mewariskan rumahnya di Desa Nogosari kepada putrinya yang telah berumah tangga. Ia dan Simpen memilih membangun rumah di Dusun/Desa Centong, RT 3 RW 1, Gondang, Mojokerto. Namun, sejak 2003 atau sekitar 22 tahun silam, ia meninggalkan rumah tersebut untuk hidup di pedalaman hutan bersama sang istri.

"Saya sudah 20 tahun lebih tinggal di sini (di dasar Jurang Gembolo). Mulai tahun 2003," ungkapnya.

Anak Sulung Karmin, M Soleh (48) menjelaskan, sebelum hidup di hutan dasar Jurang Gembolo, bapaknya berprofesi sebagai tukang kayu dan bangunan.

"Dulu tukang kayu dan bangunan di Nogosari sampai pindah Centong," jelasnya.

Soleh tak mengetahui proses bapak dan ibunya meninggalkan kampung untuk hidup di hutan dasar Jurang Gembolo. Sebab kala itu, ia tinggal di Bali karena diangkat anak oleh seseorang dari Pulau Dewata.



Simak Video "Video: Nikmati Sensasi Pantai Buatan di Ketinggian 1.300 Mdpl Mojokerto"


(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto

detikNetwork