Tak sekadar di pedalaman hutan, Karmin (71) dan Simpen (56) nekat hidup di dasar Jurang Gembolo, Mojokerto selama 22 tahun terakhir. Salah satu alasan mereka adalah merasa sungkan apabila menumpang hidup pada anak.
Karmin berasal dari Desa Nogosari, Pacet, Mojokerto. Pria yang akrab disapa Pak Soleh ini berprofesi sebagai tukang kayu dan bangunan. Sejak 2003 atau 22 tahun silam, ia memutuskan hijrah ke dalam hutan. Kala itu usianya masih 49 tahun.
Sehari-hari, Karmin ditemani sang istri, Simpen yang berasal dari Desa Centong, Gondang, Mojokerto. Tak tanggung-tanggung, pasutri ini hidup di dasar Jurang Gembolo yang begitu dalam. Jurang ini di antara 2 bukit kawasan Gunung Welirang. Terdapat sungai di dasar jurang yang memisahkan Kecamatan Pacet dengan Trawas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya kerja di rumah sudah tidak mampu. Di rumah kan kerja disuruh orang. Kalau disuruh orang sehari harus full. Kalau di sini istilahnya itu garap ladang sendiri, tidak ada yang menyuruh," terang Karmin kepada wartawan ihwal alasannya memilih hidup di dasar jurang, Minggu (30/11/2025).
Pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
Selama 22 tahun hidup di Jurang Gembolo, Karmin dan Simpen menggarap ladang sekitar 1,5 hektare. Ia menumpang di lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Dulunya, lahan ini digarap mendiang bapaknya, Warsiman yang juga warga asli Desa Nogosari.
"Dulu bapak pulang pergi garap ladang ini. Tidak tahu bapak sejak kapan, sejak saya kecil sudah tanam di sini. Saya ingat semasa kecil, saat libur sekolah saya ikut ke sini," ungkapnya.
Tempat tinggalnya di dasar Jurang Gembolo ini sangat jauh dari kata layak. Meski begitu, Karmin dan Simpan betah hidup di tempat yang jauh dari kampung dan penuh keterbatasan. Mereka benar-benar bergantung pada alam.
"Di sini kan ada ladang. Jadi, menanam komoditas yang menghasilkan. Kalau di rumah kan tidak punya apa-apa. Jadi, di sini intinya cari makan," jelasnya.
Di sisi lain, Karmin maupun Simpen merasa sungkan apabila menumpang hidup pada anak. Selama fisiknya masih sanggup bekerja, ia tetap akan bertahan hidup di pedalaman hutan. Pasangan ini mempunyai 5 anak. Namun, anak ketiga mereka meninggal karena kecelakaan kerja.
Empat anak Karmin kini telah berumah tangga dan mempunyai rumah masing-masing. Mereka tinggal di Dusun Jaten, Desa Selotapak, Trawas, Mojokerto, di Dusun Jatirejo, Desa Centong, Gondang, Mojokerto, di Dusun Sambilawang, Desa Sawo, Kutorejo, Mojokerto, serta di Desa Nogosari.
"Kalau ikut anak, seumpama minta duit kan sungkan. Karena satunya anak, satunya menantu. Belum tentu anak punya uang terus. Kemudian saya di sini, istilahnya kalau komoditas utama belum panen, kadang-kadang panen pisang, dapat uang buat beli beras," ujarnya.
Pilihan hidup Karmin dan Simpen tak pernah didukung anak-anaknya. Seperti yang dikatakan anak sulung mereka, M Soleh (48). Meski anak-anaknya berusaha mencegah, pasutri ini bersikukuh memilih hidup di pedalaman hutan dasar Jurang Gembolo.
"Adik-adik bilang tidak bisa dicegah. Alasannya ingin hidup tenang, lalu melanjutkan (menggarap ladang) yang pernah digarap kakek saya," tandasnya.
Pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
Karmin dan Simpen menumpang di lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Secara administrasi, rumah pasutri ini masuk Desa Sukosari, Trawas, Mojokerto. Meski di dasar jurang, area yang mereka tempati cukup datar. Sekitar 50 meter di sebelah kiri rumah terdapat aliran sungai sebagai pemisah Pacet dengan Trawas.
Tempat tinggal Karmin dan Simpen sangat sederhana. Lantainya berupa tanah, tiang dan dindingnya terbuat dari bambu. Rumah seluas 3x5 meter persegi ini sebagian memakai atap genting, sebagian lagi atap bambu. Hanya ada 3 ruangan di dalamnya, yaitu ruang utama, kamar tidur dan dapur.
Rumah dan ladang manusia jurang ini dikelilingi kebun dan hutan yang masih sangat lebat. Dari sisi Kecamatan Pacet, akses paling dekat melalui Dusun Bulak Kunci, Desa Nogosari dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Medannya cukup menantang karena harus melalui jalan setapak yang satu sisinya berupa jurang sangat dalam.
Di awal perjalanan sekitar 15 menit, jalan setapak bisa ditempuh dengan sepeda motor. Berikutnya harus berjalan kaki menyusuri saluran irigasi, lalu menuruni jurang yang sangat curam. Setelah menyeberangi sungai dan melewati hutan bambu, baru kita sampai di rumah pasangan Karmin dan Simpen.













































