Round-Up

'Harta Karun' Lumpur Sidoarjo, Kata Warga hingga Potensinya

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Selasa, 25 Jan 2022 10:42 WIB
lumpur sidoarjo
Kondisi lumpur yang menyembur 16 tahun lalu (Foto file: Suparno/detikcom)
Sidoarjo -

'Harta karun' ternyata ada dalam kandungan Lumpur Sidoarjo di Porong, Sidoarjo. Terdapat kandungan langka dalam semburan lumpur yang belum berhenti selama 16 tahun ini.

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan fakta baru. Di dalam lumpur tersebut, ditemukan kandungan rare earth element atau logam tanah jarang (LTJ).

Kandungan ini bisa dimanfaatkan untuk sejumlah industri. Mulai industri telekomunikasi, industri komputer, bahan pembuatan baterai kendaraan listrik dan nuklir.

Tak hanya itu, riset soal potensi lumpur Sidoarjo pernah dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Hasilnya, tim terpadu riset mandiri (TTRM) menemukan kandungan lithium dalam lumpur Lapindo.

Pakar Geologi ITS, Dr Amien Widodo mengatakan penelitian ini sudah terjadi sejak lama. Pada tahun lalu, pihaknya juga telah mengundang Badan Geologi Kementerian ESDM untuk memaparkan hasil penelitiannya.

"Sebenarnya ini sudah, kita sudah mempresentasikan ini berulang-ulang malah. Jadi Badan Geologi, kita sudah undang ke ITS April 2021. Mereka sudah memaparkan hasilnya dan kita memaparkan hasil kita," kata Amien kepada detikJatim di Surabaya, Senin (24/1/2022).

Namun, Amien menyebut penelitian yang dilakukan Badan Geologi dan ITS berbeda. Jika Badan Geologi menemukan rare earth atau logam tanah jarang (LTJ). Pihaknya lebih ke lithium.

"Badan Geologi meneliti istilahnya logam tanah jarang tadi, logam langka. Kita menganalisis yang satunya. Kita hanya menganalisis lithium lah istilahnya," tambah Amien.

Kendati demikian, Amien mengatakan penelitian ini masih awal. Dia menyebut belum dilakukan penelitian lanjutan soal kandungan lithium di lumpur Lapindo. Penelitian ini juga memakan biaya yang tidak sedikit.

Tak hanya itu, Amien mengatakan lithium memiliki banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari.

"Manfaatnya lithium banyak sekali. Salah satu yang sangat penting untuk baterai, untuk power bank, itu menggunakan bahan baku lithium," papar Amien.

Amien berharap temuan ini diharap bisa ditindaklanjuti. ITS mengaku terbuka dengan seluruh pihak yang ingin bekerja sama untuk mendalami temuan ini. Amien juga berharap ada penelitian lanjutan soal temuan ini. Sehingga lumpur yang sudah menyembur selama 16 tahun ini bisa dimanfaatkan.

"Kalau kita terbuka untuk bekerja sama dengan semua orang, khususnya industri sehingga nanti bisa ini menjadi suatu yang nyata. Penelitian, terus kemudian kita pisahkan dan dari hasil tadi kita jadikan suatu barang, jadi baterai atau apa," imbuhnya.

Selain itu, Amien mengungkap pihaknya juga pernah mendapat tawaran penelitian dari luar negeri. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut.

"Ada beberapa tim dari luar, dari swasta, ada yang dari luar negeri yang sempat mengajak penelitian bareng tapi ya belum sampai dilakukan. Kita masih sedikit lah istilahnya. Kita menunjukkan wah ini lithiumnya besar. Maksudnya bisa prospek kalau dieksplor," tambahnya.

Disebut mengandung sejumlah 'harta katun'. Lalu siapa pemilik lokasi area terdampak lumpur Sidoarjo itu?

Staf humas PT Minarak Brastas, Ifan mengaku area semburan lumpur Sidoarjo yang masuk di dalam peta terdampak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Sebab area terdampak lumpur itu telah dijadikan jaminan pinjaman ke pemerintah pusat sejak 2016.

"Lokasi semburan utama dan lokasi dalam areal peta terdampak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Sejak tahun 2016 lokasi tersebut dijadikan jaminan pinjaman ke pemerintah," kata Ifan melalui telepon selulernya, Senin (24/1/2022).

Sementara itu, salah satu korban lumpur Sidoarjo, Jhoni berpendapat lokasi area terdampak lumpur itu sebenarnya dimiliki oleh tiga pihak. Ketiganya yakni warga yang belum mendapat ganti rugi, PT Minarak Brantas dan pemerintah pusat.

"Pandangan kami bahwa tanah tersebut milik tiga pihak, yang pertama milik warga yang belum terbayar. Pihak kedua masih milik Minarak Brantas dan yang ketiga milik pemerintah pusat. Karena lokasi di dalam areal peta terdampak sebagai jaminan utang dari Minarak Brastas ke pemerintah pusat," terang Jhoni.

Adanya kabar bahwa lumpur Sidoarjo itu mengandung 'harta karun' lithium, lanjut Jhoni, merupakan kabar gembira. Sebab dengan begitu kandungan lithium bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dan PT Minarak Brantas untuk menuntaskan utang ke warga terdampak yang belum terbayar.

"Kami percaya ada kandungan tersebut, kami berharap proses ganti rugi segera diselesaikan," tandas Jhoni.

Tak hanya Jhoni, warga lain menyambut positif soal 'harta karun' di dalam kandungan lumpur Sidoarjo yang menyembur sejak 29 Mei 2006. Itu berarti lumpur Sidoarjo menambah devisa negara.

"Kalau menambah devisa negara, kami senang. Tapi jangan lupakan kami. Tolong bayar ganti rugi yang belum terbayarkan," kata salah H. Patah, seorang warga korban areal peta terdampak kepada detikcom, Senin (24/1/2022)."Kami bersama dengan teman-teman korban lumpur yang belum terbayar, berharap ganti rugi segera dibayar. Kalau benar ada kandungan harta karun (Lithium), kami minta ganti rugi minimal dua kali lipat," jelasnya.

Sementara Sumaji (41), satu dari ribuan warga terdampak mengaku ekonominya hancur akibat semburan lumpur 16 tahun lalu.

"Dulu saya dan keluarga hidup nyaman dengan membuka warung di samping sekolah dengan penghasilan yang cukup. Tapi sekarang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai tukang bangunan dengan penghasilan per bulan tidak tentu, karena sudah habis ditelan lumpur," kenangnya.

Dia berharap dengan adanya penemuan ini, pemerintah bisa segera membayar sisa ganti rugi korban di areal terdampak.

"Banyak korban lumpur yang menderita karena kehilangan pekerjaan. Semoga kandungan di dalam semburan ini menambah devisa negara dan warga yang kehilangan rumah, tanah dan pekerjaan hidupnya bisa normal kembali," tandas Sumaji.



Simak Video "Arkeolog Israel Temukan Harta Karun di Lepas Pantai Mediterania"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/fat)