Beda Nama Gang Kawasan Pecinan Semarang Dulu dan Sekarang

Beda Nama Gang Kawasan Pecinan Semarang Dulu dan Sekarang

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Minggu, 25 Sep 2022 15:16 WIB
Suasana Pecinan Semarang, Jumat (23/9/2022).
Kawasan Pecinan Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Semarang -

Pecinan Kota Semarang sudah terbentuk sejak 1835 ketika VOC mengumpulkan warga Tionghoa di suatu tempat dengan aturan Wijkenstelsel. Kini sudah banyak perubahan yang terjadi di sana, meski struktur jalan masih relatif sama..

Struktur jalan yang dimaksud yaitu jalan serta gang-gang di sana masih sama, tidak ada yang ditutup atau berganti. Namun untuk penamaannya sudah sangat berubah.

"Secara struktur jalan masih sama, dari dulu sampai sekarang masih sama. Jalannya, gangnya, yang beda penamaannya. Di awal adanya Pecinan, masih menggunakan nama Tionghoa. Seiring waktu setelah banyak peranakan di Semarang, mereka tidak bisa berbahasa Tionghoa, kemudian nama diubah nama gang," kata pegiat sejarah Semarang, Rukardi, Jumat (23/9/2022).


Rukardi menjelaskan, Liem Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang menjelaskan penyebutan nama gang terjadi pada masa penjajahan Inggris (1811-1818). Berikut nama-nama ketika berbahasa Tionghoa dan diubah menjadi nama gang:

- Tang-kee (jalan wetan): Gang Pinggir
- Tjien hien-kee : Cap Kauw King (19 petak): Wotgandul
- Say-kee (jalan kulon) : Sin-kee : Gang Baru
- Ting-ouw-kee : Gang Gambiran
- Pecinan Tengah : Gang Tengah
- Kak-pan-kee : Gang Besen
- Hoay-kee: Gang Cilik
- Along kee (jalan warung) : Gang Warung
- Kang-kie : Gang Lombok
- Straat Kalikoping
- Jalan Benteng
- Gang Mangkok
- Gang Blakang

"Ada Gang Blakang, kan pakai nama Melayu, Jawa. Gang Warung, Gang Besen, Gang Pinggir. Padahal dulu nama Tionghoa," ujarnya.

Soal infrastruktur bangunan jelas berubah sejak imigran dari Tiongkok kemudian membuat bangunan permanen dengan gaya mereka. Namun kini sudah banyak yang berubah bentuk bangunannya.

Sementara itu lebar jalan juga sudah berbeda. Rukardi mengatakan seorang petualang Jawa, Raden Mas Aryo Purwo Lelono pernah memberikan gambaran gang di Pecinan pada masa lampau.

"Dulu jalan di Pecinan sempit dan digambarkan petualang Jawa, Raden Mas Aryo Purwo Lelono, itu bahkan tidak bisa dilalui dua kereta berpapasan," ujarnya.

Kemudian sekitar tahun 1970, Pemerintah Kota Semarang melakukan pelebaran jalan. Dalam prosesnya, depan bangunan yang menjadi wajah pemukiman Pecinan dikepras.

"Nah, pada tahun 1970, awal orde baru, Pecinan mengalami perubahan. Disebarkan dengan mengorbankan, mengepras bagian fasad bangunan di Pecinan. Yang jadi korban salah satunya gang pinggir, dan gang warung terutama," tegasnya.

Kini ruas jalan di Pecinan cukup lebar dan banyak yang diterapkan jalur satu arah. Salah satu jalan menjadi sentra berburu kuliner setiap akhir pekan, yaitu Gang Warung yang membuka Pasar Semawis setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.



Simak Video "Cerita Warga Korban Banjir Bandang di Semarang, Harta Benda Ludes"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/rih)