Melihat Lebih Dekat Keunikan Candi Ngawen di Muntilan Magelang

Eko Susanto - detikJateng
Sabtu, 13 Agu 2022 14:34 WIB
Candi Ngawen yang berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Candi Ngawen yang berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikJateng.
Magelang -

Bangunan candi peninggalan Wangsa Syailendra di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ternyata bukan hanya Candi Borobudur. Tapi ada juga Candi Ngawen yang patut dikunjungi pula.

Candi Ngawen merupakan bangunan peninggalan Wangsa Syailendra yang juga dipakai untuk sembahyang umat Buddha. Candi ini tepatnya berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Bangunan candi ini memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi lainnya. Candi Ngawen ditemukan sekitar tahun 1927 atau pada zaman kolonial Belanda. Di mana saat dilakukan pemugaran Candi Borobudur, warga sekitar Ngawen menemukan sebuah bebatuan yang tertimbun tanah.


Kemudian warga yang menemukan bebatuan tanah tersebut melaporkan kepada pemugar Candi Borobudur. Setelah itu, mereka melakukan penelitian di seputar Candi Ngawen.

Disini ada lima candi, namun yang masih utuh hanya candi kedua, sedangkan candi satu, tiga, empat dan lima belum dipugar semuanya. Adapun diberi nama Candi Ngawen karena belum ditemukan prasasti terkait candi itu, sehingga penamaannya mengacu pada nama lokasi atau dusun setempat.

Candi Ngawen yang berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.Candi Ngawen yang berada di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikJateng

"Candi Ngawen ditemukan pada tahun 1927-an, masih zaman Belanda. Ditemukan sebuah candi yang dinamakan Candi Ngawen karena belum ditemukan prasastinya jadi dinamakan dusun tempat ditemukan," kata Sumantoro, Teknisi Konservasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah saat ditemui di Candi Ngawen, Kamis (11/8).

Sumantoro mengatakan, Candi Ngawen dilakukan pemugaran perdana pada 1925 sampai 1927. Di sini ada lima candi yang terdiri dari dua candi induk dan tiga perwara.

"Pemugaran lagi pada 2011-2012 di candi keempat. Untuk candi yang ketiga dan keempat sementara belum pemugaran," ujar Mantoro.

"Kegunaannya Candi Ngawen untuk sembahyang umat Buddha karena terdapat sebuah patung Buddha Dhyani Buddha Ratna Sambawa di candi kedua dan Dhyani Buddha Amitabha di candi keempat," katanya.

Candi Ngawen, kata Sumantoro, merupakan sebuah akulturasi antara Hindu dan Buddha. Hal ini ditandai dengan adanya ada stupa berundak, kemudian di atasnya berbentuk bulat tapi belum terpasang. Kemudian ciri khas lainnya ada patung singa di empat sudutnya.

"Ciri khas Candi Ngawen di empat sudut ada patung singa yang menggambarkan sebuah keperkasaan dan ciri khas lainnya ada relief sangka yang menggambarkan Dewa Wisnu untuk ciri khas Hindu. Untuk ciri khas Buddha tentu saja ada patung Buddhanya," ujar dia.

Adapun keunikan lainnya, kata Sumantoro, biasanya bangunan candi-candi Buddha menghadap ke barat, tapi Candi Ngawen menghadap ke timur.

"Ini ada keunikan tersendiri biasanya ada kalau (candi) Hindu ke timur, perwara ke barat, jadi yaitu lah ada rangkaian akulturasi perpaduan Hindu Buddhanya," ujarnya.

Pengelolaan Candi Ngawen dilakukan oleh BPCB Provinsi Jawa Tengah, seperti Candi Sewu, Gedong Songo, Dieng, Sukuh dan lainnya.

"Ini dibuka untuk umum, untuk kebudayaan, untuk pariwisata juga, untuk mendukung Desa Ngawen menjadi desa wisata. (Tiket masuk) Sementara gratis karena di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah tidak boleh menarik retribusi, yang boleh biasanya dari Pemda, pariwisata. Tapi sampai sekarang gratis," pungkasnya.



Simak Video "Respons Turis Lokal dan Asing soal Harga Tiket Candi Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/dil)