Melihat Keseruan Liga Pisang di Borobudur Magelang

Eko Susanto - detikJateng
Minggu, 22 Mei 2022 18:23 WIB
Liga Pisang yang digelar di Kecamatan Borobudur, Magelang, Minggu (22/5/2022).
Liga Pisang yang digelar di Kecamatan Borobudur, Magelang menggunakan gawang terbuat dari pelepah pisang, Minggu (22/5/2022). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Keseruan dan kemeriahan terlihat dalam Liga Pisang yang diikuti 20 desa di wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dalam liga tersebut anak-anak bermain sepak bola yang dikreasi sedemikian rupa menggunakan alat-alat berbahan pohon pisang.

Liga Pisang itu digelar melalui kerja sama Eksotika Desa bekerja sama dengan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud Ristek. Liga Pisang ini digelar di Lapangan Sri Gentan, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur.

"Liga Pisang ini mencoba untuk membuat kemasan baru yang lebih menarik bagi anak-anak dan masyarakat di 20 desa Kecamatan Borobudur. Jadi sebenarnya penginnya mengenalkan anak-anak terhadap potensi alam yang ada di sekitarnya. Fokusnya ke tanaman pisang yang tersebar di 20 desa," kata Ketua Eksotika Desa, Panji Kusumah kepada detikJateng, Minggu (22/5/2022).

Salah satu caranya adalah membuat permainan anak dengan menggunakan alat-alat yang terbuat dari pohon pisang. Hal itu untuk mendekatkan anak dengan salah satu hasil bumi dari Kecamatan Borobudur itu.

Untuk itu, kemudian dibuatlah konsep Liga Pisang ini. Bola yang dipakai dengan terbalut dengan klaras (daun pisang kering) dan pelepah pohon pisang. Kemudian, jaring gawang juga dari pelepah pohon pisang. Untuk wasit membawa kartu kuning dari pisang matang serta kartu merah dari jantung pisang.

"Karena sifatnya edukasi untuk membangun kesadaran makanya anak-anak atau yang nonton dikenalkan berbagai jenis tanaman pisang. Itu dipamerkan berbagai jenis tanaman pisang, kemudian kaitannya pisang dengan budaya spiritual yang ada di Kecamatan Borobudur untuk uba rampe slametan (pisang dipakai untuk selamatan)," tuturnya.

"Ini melibatkan ibu-ibu di masing-masing desa, mereka harus mendukung kegiatan ini. Mereka masak dan minuman berbasis tanaman pisang, selain dilombakan nanti makanan yang dibuat ibu-ibu tersebut," kata dia melanjutkan.

Panji menambahkan, setiap tim ada 7 orang dan tidak boleh memakai sepatu. Selain itu, pemain memakai atribut dari pohon pisang.

Liga Pisang yang digelar di Kecamatan Borobudur, Magelang, Minggu (22/5/2022).Liga Pisang yang digelar di Kecamatan Borobudur, Magelang, menggunakan bola terbungkus daun pisang, Minggu (22/5/2022). Foto: Eko Susanto/detikJateng

"Peserta di bawah usia 15 tahun, SD sampai SMP, nggak boleh pakai sepatu. Seperti sepak bola orang desa pada umumnya," tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga Wringinputih, Muhammad Rofingi mengatakan dengan adanya Liga Pisang ini masyarakat bisa melihat anak-anak bermain bola meski jumlahnya sedikit.

"(Dengan aksesori dari pohon pisang) Anak-anak sangat antusias dan senang. Jadi anak-anak nggak mainan HP (handphone), dengan adanya Liga Pisang ini sangat bagus sekali," ujarnya yang mengaku senang bermain sepak bola.

Di sela-sela liga, penyelenggara juga mengadakan lomba olahan makanan dari bahan pisang maupun dipamerkan jenis-jenis pisang yang berada di kawasan Borobudur. Selain itu, dipamerkan berbagai jenis dolanan anak dengan bahan pohon pisang. Adapun Liga Pisang ini dimulai Sabtu (21/5) dan berakhir Rabu (25/5).

Untuk jenis pisang yang dipamerkan meliputi pisang raja, kluthuk, cici, kidang, lampong, kojo dan pisang ninting. Selain itu, ada pisang genderuwo, banyu, emas, kepok kuning, nongko, tanduk, byok, kepok sukun dan ambon.



Simak Video "Wisata Sambil Belajar Proses Budidaya Jamur Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/rih)