Mengunjungi Watu Lempeng Kulon Progo, Wisata Alam yang Sedang Ngehits

Jalu Rahman Dewantara - detikJateng
Sabtu, 22 Jan 2022 12:22 WIB
Kondisi wisata alam Watu Lempeng di Kulon Progo, DIY.
Kondisi wisata alam Watu Lempeng di Kulon Progo, DIY. (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)
Kulon Progo -

Berawal dari postingan sosial media para pegiat sepeda atau pegowes, lahirlah destinasi wisata bernama Watu Lempeng. Wisata alam di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu kini jadi nafas baru masyarakat setempat dalam upaya menggerakkan perekonomian mereka. Bagaimana kisahnya?

Destinasi wisata alam Watu Lempeng terletak di pinggir Sungai Serang yang secara administratif masuk wilayah Dusun Brangkal, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo. Dari pusat Kota Yogyakarta, jarak yang harus ditempuh untuk menuju ke sini berkisar 30 Km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Masyarakat setempat menamai tempat ini Watu Lempeng karena terdapat susunan batu berbentuk lempeng atau pipih. Kondisi ini disebabkan oleh arus Sungai Serang yang mengikis bebatuan di sana selama ratusan tahun silam.

"Batuan di sini terbentuk secara alami karena sedimen dari alam, dan itu karena banjir batuan itu lalu terkikis sehingga keliatan seperti batuan yang berlipat-lipat dan berbentuk lempeng, yaitu lebar dan bertumpuk," ungkap Ketua Pengelola Wisata Watu Lempeng, Susilo saat ditemui detikJateng di lokasi, Sabtu (22/1/2022).

Susilo bercerita, dahulu lokasi tempat berdirinya Watu Lempeng merupakan lahan kosong tak bertuan. Hal ini karena letaknya tepat di bantaran sungai atau biasa disebut tanah kengser.

Menurutnya sangat jarang ada warga yang beraktivitas di sekitar lokasi ini. Kalaupun ada, biasanya hanya petani setempat yang memanfaatkan lahan di sini untuk menanam tanaman dengan status penggarap bukan hak milik.

"Ini kan tanah kengser , jadi kiri kanan tempat ini memang tidak ada yang menempati, dan sebagian warga kemarin memanfaatkan lingkungan di sekitar sini untuk menanam tanaman, tapi statusnya cuma penggarap bukan hak milik," ujarnya.

"Tempat ini dulunya juga hanya dijadikan lokasi memarkir kendaraan bagi petani dan pencari rumput," sambungnya

Kondisi wisata alam Watu Lempeng di Kulon Progo, DIY.Kondisi wisata alam Watu Lempeng di Kulon Progo, DIY. Foto: Jalu Rahman/detikJateng

Terkenal berkat pegowes

Berjalannya waktu, lokasi Watu Lempeng yang dulu hanya diketahui terbatas oleh warga Brangkal dan sekitarnya mulai didatangi masyarakat luar kampung. Pemicunya dari foto-foto para pegowes berlatar Watu Lempeng yang viral di sosial media. Adapun postingan itu menyebar pada pertengahan Agustus 2020 lalu.

"Wisata Watu Lempeng ini viralnya karena ada penggowes ya yang dulu jalan-jalan di sekitar sini, terus mereka meng-upload di medsos masing-masing, kemudian banyak yang mengunjungi tempat ini," ucap Susilo.

Susilo mengatakan kondisi itu menyadarkan warga Brangkal bahwa Watu Lempeng memiliki potensi wisata. Dari situlah warga kemudian membenahi Watu Lempeng agar lebih nyaman bagi wisatawan. Warga juga membentuk kelompok wisata untuk mengurus objek wisata baru tersebut.

"Dari situ kami menyadari bahwa ini adalah potensi wisata alami yang ada di sini, sehingga pelan-pelan kita berbenah, membuat situasi lingkungan di sini agar semakin kerasan untuk pengunjung," ujarnya.

Dikatakan Susilo, hadirnya wisata Watu Lempeng ini berdampak positif bagi perekonomian masyarakat Banyuroto, ihwal khusus warga Brangkal. Sebab banyak warga yang kemudian dilibatkan dalam operasional wisata. Mulai dari jaga kamar mandi, parkir hingga berjualan.

"Alhamdulillah, banyak masyarakat sekitar yang terlibat di sini, untuk ngurus kamar mandi atau di warung-warung kemarin sudah mulai aktif untuk mengais rezeki," ujarnya.

Jika ingin berkunjung ke Watu Lempeng, disarankan untuk datang saat cuaca sedang cerah. Sebab saat cuaca cerah, air di Sungai Progo sekitar Watu Lempeng akan terlihat lebih jernih dan tenang sehingga dapat dimanfaatkan untuk bermain air.

Adapun fasilitas yang sudah tersedia di Watu Lempeng meliputi gazebo, toilet, tempat ibadah dan warung yang buka setiap akhir pekan. Pihak pengelola kini juga sudah dapat dukungan dari Kalurahan Banyuroto berkaitan dengan perbaikan jalan masuk ke Watu Lempeng yang sekarang dalam kondisi kurang layak.

Terkait tiket masuk dan biaya parkir, pihak pengelola tidak memberlakukan tarif tetap. Pengunjung hanya perlu membayar seikhlasnya. "Karena tergolong masih baru jadi bayar seikhlasnya aja," pungkas Susilo.

(aku/mbr)