Wisatawan Naik Borobudur Wajib Bersandal Upanat, Ternyata Ini Alasannya

Eko Susanto - detikJateng
Jumat, 21 Jan 2022 18:05 WIB
Sandal upanat yang dibuat salah satu perajin di Bumisegoro, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur.
Sandal upanat yang dibuat salah satu perajin di Bumisegoro, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur. (Foto: Eko Susanto/detikJateng)
Magelang -

Wisatawan yang naik Candi Borobudur wajib memakai sandal upanat. Pemakaian sandal ini salah satunya untuk meminimalisasi terjadinya keausan batu Candi Borobudur.

Kapokja Pemeliharaan Candi Borobudur Balai Konservasi Borobudur (BKB), Brahmantara, mengatakan latar belakang yang paling mendasar terkait keterawatan batu tangga dan batu lantai. Kedatangan jumlah turis yang banyak di candi, satu sisi menjadi ancaman terkait pelestarian.

"Beberapa eksperimental di lapangan pernah kita lakukan. Dalam riset saya sebelumnya merekomendasikan salah satu upaya itu dengan melakukan mengaplikasikan sandal khusus untuk naik candi," kata Brahmantara saat ditemui detikJateng di Candi Pawon, Magelang, Jumat (21/1/2022).

Desain sandal ini mempertimbangkan beberapa aspek estetik, ergonomic dan tahapan-tahapan lainnya. Termasuk juga material spon yang telah diuji terkait gesekan di batu.

"Ada beberapa sampel kita uji, gesek, terus batu yang gesek tadi kita cek di elektronen mikroskop yang perbesarannya sampai beribu-ribu kali. Dari perbesaran ini kita bisa melihat pori-pori batuan dari mana-mana. Bantalan yang menggesek itu punya efek paling minimal mana, terus kita menggunakan spon ati. Itu yang pertama dari aspek material," kata Bram, sapaannya.

Kapokja Pemeliharaan Candi Borobudur Balai Konservasi Borobudur (BKB), Brahmantara.Kapokja Pemeliharaan Candi Borobudur Balai Konservasi Borobudur (BKB), Brahmantara. Foto: Eko Susanto/detikJateng

Aspek kedua, katanya, menentukan pola desainnya. Hal ini dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, kenyamanan, keamanan, dan lainnya.

"Kita riset dengan teman yang riset detail karmawibhangga, kemudian sharing data-datanya ternyata di panel 150 itu luar biasa bagi kami. Ternyata ada satu panel yang menunjukkan bahwa alas kaki itu ada dan menyatakan bahwa alas kaki sampai ada prasasti yang tertulis upanat itu, ini sesuatu yang penting. Upanat kita narasikan sebagai branding sandal. Nama upanat artinya alas kaki," tuturnya.

Untuk yang ketiga, kata Bram, alas kaki ini sifatnya meminimalisasi. Hal ini karena masih ada gesekan dan yang terpenting adanya pemberdayaan masyarakat.

"Kita berpikir ini mesti diproduksi oleh masyarakat Borobudur, makanya kami sampai melakukan workshop dua kali tahapan dari awal sampai akhir. Pak Sandiaga (Menparekraf) menyampaikan bahwa naik candi harus pakai sandal itu, ya seperti itu. Nanti skemanya pasti akan berdiskusi dengan pengelola entah include dengan tiket atau apa, tapi yang jelas ini satu produk khas yang meriset di Borobudur hanya diproduksi masyarakat Borobudur," tuturnya.

Menyangkut dengan material, kata dia, seperti pandan di sekitar Borobudur ada. Hanya saja saat ini belum sampai diolah sampai barang jadi. Kemudian yang lebih penting adanya pembatasan jumlah wisatawan yang naik candi.

"Upaya yang kita lakukan terkait visitor management sebaiknya kontrol pengunjung. Itu sarana dan prasarana, pengunjung tidak dibatasi ya sama saja. Yang tidak kalah penting, ya pembatasan pengunjung. Kami sudah melakukan pembatasan-pembatasan dan rencana ke depan itu kita diskusikan dengan pengelola. Nanti diskema apa yang sudah menjadi narasi baru Borobudur itu kunjungan yang berkualitas, mestinya kan yang semuanya berkualitas dari experience, pembatasan dan sebagainya mestinya berkualitas semua," pungkasnya.



Simak Video "Suasana Uji Coba Penggunaan Sandal Upanat di Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/sip)