Persis Solo terancam sanksi dari operator Super League buntut aksi penyalaan flare di dalam Stadion Manahan Solo. Penyalaan flare itu dilakukan suporter tuan rumah pada menit ke-80 saat laga Persis Solo menjamu Persita Tangerang, kemarin.
Direktur Utama Persis Solo Ginda Ferachtriawan mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan surat sanksi dari ILeague.
"Kemungkinan akan ada sanksi dari Liga, kita hanya berharap kejadian ini jangan sampai terulang kembali," kata Ginda saat dihubungi awak media, Senin (5/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tunggu hasil dari penelitian operator, (sanksi) bisa denda, bisa tanpa penonton. Kita harap hukuman seringan mungkin karena tidak ada kejadian yang membahayakan, tidak sampai chaos, menyala biasa," imbuhnya.
Kemarin, sejumlah flare menyala hingga kepulan asap pekat mewarnai stadion. Flare pertama menyala dari tribun timur, disusul di tribun utara, lalu dilanjutkan di tribun barat.
Ginda menyayangkan aksi penyalaan flare di dalam stadion itu. Sebab, Stadion Manahan Solo cukup tertutup sehingga asapnya bisa mengganggu.
"Saya juga sudah sampaikan ke teman-teman, aksi flare di dalam stadion untuk dihindari. Mengingat stadion Manahan yang full tertutup, sehingga arah asap itu bisa mengganggu penonton yang sensitif," jelasnya.
Ginda mengatakan, akibat kejadian itu ada laporan sejumlah orang mengalami sesak nafas. Mereka mendapatkan penanganan tim medis yang bersiaga di Stadion Manahan Solo.
"Ada (yang sesak nafas). yang sempat dirawat itu kurang lebih 4 orang, iya (perempuan semua). kita baru konfirmasi apakah sesaknya karena flare dinyalakan, atau berdesakan, nanti kita pastikan," ucapnya.
Meski demikian, Ginda memastikan tidak ada suporter yang sampai dibawa ke rumah sakit akibat kejadian itu. Mereka yang mengalami sesak nafas bisa langsung pulang setelah mendapatkan penanganan dari tim medis di stadion.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Panpel Persis Solo itu menuturkan, prosedur pengamanan sudah dilakukan seperti melakukan pengecekan badan dan barang bawaan suporter yang masuk ke stadion. Ia menyadari, aksi itu dilakukan sebagai tanda protes kondisi Laskar Sambernyawa yang tengah terpuruk.
"Kita tidak ada masalah dengan penyampaian aksi. Boleh kok melakukan aksi, menyampaikan keprihatinan terhadap tim," ujarnya.
Kejadian itu menjadi evaluasi bagi Panpel untuk lebih memperketat keamanan. Ginda mengatakan, semua orang ke depannya akan dilakukan pemeriksaan, termasuk pihak Panpel hingga petugas keamanan.
Sebab, sebelum aksi penyalaan flare terjadi, petugas berhasil mengamankan 72 buah red flare, 6 buah smoke, 5 buah pipa asap, serta 6 buah petasan.
"Kalau melihat yang (flare) nyala, bisa (dikatakan kecolongan). Tapi kalau berbanding dengan jumlah (flare) yang diamankan, 2-3 kali lipat dari yang menyala. Kita tetap menganggap tidak ada istilah kecolongan, pengamanan harus perfect, Memasukkan (flare) itu ada berbagai cara, baru kita analisis," pungkasnya.
(dil/ahr)











































