Pabrik kopi Margo Redjo Semarang berdiri sejak 108 tahun silam. Terungkap cerita bahwa produksi kopi Margo Redjo konon bikin ketagihan tentara sekutu. Bahkan tentara sekutu mendatangkan mesin sangrai dari Jerman demi membantu proses produksi Margo Redjo.
Generasi ketiga pemilik pabrik kopi Margo Redjo, Widayat Basuki Dharmowiyono (78) ingat dia pernah mendapat cerita Margo Redjo dipaksa menyuplai kopi untuk tentara sekutu yang kembali datang ke Indonesia pada 1946 setelah Jepang kalah dalam perang Asia Pasifik.
"Ketika itu, paman saya kan yang mimpin (Margo Redjo), setelah zaman Jepang mereka minta dipasok lagi dari sini," kata Basuki, Jumat (16/6/2023).
Padahal, saat itu kondisi Hindia Belanda juga tengah mengalami krisis listrik dan gas. Sehingga mesin yang dimiliki Margo Redjo tak bisa dijalankan.
Singkat cerita, tentara sekutu kemudian mendatangkan tiga mesin kopi dari Jerman. Mesin itu lebih jadul namun bisa digunakan ketika tak ada listrik dan gas.
"Itu digerakkan dengan mesin diesel kapal, dulu itu dipasang di belakang. Bakarnya pakai kayu itu kan masih kelihatan to tungkunya. Nah lambat laun mesinnya dimodif pengapiannya pakai minyak tanah, pakai kompor," jelas Basuki.
Meski begitu, tetap saja penjualan kopi Margo Redjo terus menurun. Hingga pada tahun 1950 kepemimpinan berganti. Alasannya, pabrik kopi itu tak lagi bisa menghidupi dua keluarga.
"Sekitar tahun 1950, dia bilang sama ayah saya 'saya tak mengundurkan diri saja karena kayaknya ini kita nggak mungkin omzetnya buat berdua, dunia sedang perang, Perang Asia Pasifik'," katanya.
Saat detikJateng berkunjung, sejumlah mesin sangrai atau roaster kopi itu masih tersimpan baik di rumah yang beralamat Jalan Wotgandul Barat No 14 Semarang. Mesin-mesin buatan Eropa itu seakan menjadi saksi masa kejayaan pabrik kopi Margo Redjo yang kini bernama Dharma Boutique Roastery.
Basuki masih menyimpan lima mesin tersebut dengan baik. Lima mesin itu disimpan di ruangan yang disebutnya sebagai museum.
Tiga mesin merupakan buatan Jerman memiliki bentuk utama seperti bola berukuran besar. Satu mesin itu bisa memasak sekitar 60 kilogram biji kopi.
Dua lainnya adalah buatan Belanda berbentuk seperti tabung dengan ketinggian sekitar 2,5 meter. Mesin itu lebih modern dibandingkan buatan Jerman. Satu mesin berkapasitas 120 kilogram biji kopi.
Dua mesin buatan Belanda itulah yang digunakan saat masa kejayaan pabrik kopi Margo Redjo. Saat itu, untuk ekspornya saja, pabrik kopi Margo Redjo bisa mengirim sekitar 200 ton dalam satu tahun.
"Masa kejayaannya itu 1926, 1927, 1928 ketika sudah ekspor dan barangnya sudah diminati di luar negeri," ucap Basuki.
Sayangnya, di tahun itu juga terjadi Great Depresion, fenomena resesi besar hampir di seluruh dunia.
"Ekspor dari Hindia Belanda termasuk kopi ke negara-negara Eropa berkurang signifikan, termasuk dari Margo Redjo," ungkapnya.
Selengkapnya di halaman selanjutnya.
Simak Video "Video Viral Begal Sadis di Depan Rumah Korban di Semarang"
(afn/rih)