Sruput! Ratusan Kopi Nusantara Beradu di Kompetisi Jelang Jogja Coffee Week

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Senin, 15 Agu 2022 14:52 WIB
Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara di Prambanan, Klaten, dalam rangka Jogja Coffee Week, Senin (15/8/2022).
Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara di Prambanan, Klaten, dalam rangka Jogja Coffee Week, Senin (15/8/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Ratusan sampel kopi dari petani kopi di Indonesia beradu cita rasa di ajang Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara. Kompetisi diikuti 239 sampel dari seluruh Nusantara dalam rangka Jogja Coffee Week awal September mendatang.

"Ini pertama kali digelar, peserta 239 sampel, hampir tiga kali lipat dari target kita. Targetnya ada tiga kelas, masing-masing 30 sampel dengan total 90 tapi ternyata yang ikut 239," kata panitia Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara, Andri, kepada detikJateng di lokasi, di salah satu hotel di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Senin (15/8/2022).

Andri menjelaskan kompetisi itu bagian dari rangkaian acara Jogja Coffee Week yang diselenggarakan tanggal 2-6 September 2022. Tujuan kompetisi itu untuk mencari kopi terbaik.


"Tujuan seleksi ini untuk mencari kopi terbaik Nusantara untuk memenuhi market. Final 2-6 September dan nanti ada lelang kopi," ujarnya.

Untuk itu, sambung Andri, tim juri berasal dari lembaga dan praktisi kopi nasional. Ada dari pusat penelitian dan pengembangan kopi dan kakao Jember, dan para pencicip profesional.

"Kita hadirkan juri para pencicip kopi profesional dan berstandar. Ada Puslit Kopi Jember dan pelaku usaha yang memang profesional di pencicip kopi yang semua berstandar, hasilnya bisa kita cicip bareng untuk publik," terang Andri yang dari komunitas Kopi Nusantara ini.

Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara di Prambanan, Klaten, dalam rangka Jogja Coffee Week, Senin (15/8/2022).Kompetisi Kopi Terbaik Nusantara di Prambanan, Klaten, dalam rangka Jogja Coffee Week, Senin (15/8/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Menurut Andri, penilaian kompetisi itu dilihat dari berbagai aspek. Terutama kompleksitas dan konsistensi cita rasa.

"Aspek kompleksitas bisa jadi cita rasa. Misalnya kan ada kopi yang rasanya sudah manis tanpa gula, ada yang pahit, ada yang seperti krim, berlemak dan lain-lain," paparnya.

Khusus tahun ini, kata Andri, Jogja Coffee Week didedikasikan untuk para petani kopi. Sebab di kompetisi tempat lain biasanya lebih ke bisnis hilir.

"Ini kita coba dedikasikan ke petani karena biasanya di tempat lain fokus ke industri hilir, brand, merek mesin dan lainnya. Tapi kami coba tawarkan yang beda, kita kebut petani kopinya yang sering terlupakan," jelasnya.

Dengan banyaknya jumlah peserta, sebut Andri, menunjukkan antusiasme petani mendaftarkan cita rasa makin tinggi. Bahkan ada beberapa sampel yang sempat tidak lolos.

"Ada beberapa yang tidak lolos karena data tidak lengkap, kelompok tani mana tidak jelas. Ada satu petani atau kelompok tani yang mengirim lebih dari satu sampel, yang ikut mulai dari Gayo sampai Papua," ujarnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...