Sejarah Gudeg Jogja dari Serat Centhini hingga Masa Awal Mataram

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 07 Agu 2022 02:42 WIB
Close Up Gudeg Komplit. A Signature and Legendary Dish from Yogyakarta Indonesia. Jack Fruit Stew Accompanied with Spicy Stew of Cattle Skin Crackers and Brown Eggs, Tofu, Tempeh, and Sambal.
Gudeg Jogja. Foto: Getty Images/iStockphoto/Ika Rahma
Jogja -

Gudeg sebagai salah satu kuliner khas Jogja memiliki sejarah panjang. Memang, gudeg sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Tapi jika ditelusuri lebih jauh, sejarah gudeg merentang hingga abad ke-19 pada masa Serat Centhini dituliskan hingga abad ke-14 pada masa awal Kerajaan Mataram.

Dikutip dari buku Kuliner Jawa dalam Serat Centhini dan jurnal Sejarah dan Budaya, Berikut kisah asal-usul gudeg dan perjalanannya dari waktu ke waktu.

1. Gudeg Masa Awal Kerajaan Mataram

Dalam jurnal Menelisik Sejarah Gudeg Sebagai Alternatif Wisata dan Citra Kota Yogyakarta (Sejarah dan Budaya Vol 15 No 1, 2021) disebutkan sejarah gudeg berkaitan dengan pembangunan Kerajaan Mataram.


Kerajaan Mataram yang dibangun pada tahun 1500-an itu berada di wilayah yang memiliki banyak pohon nangka yang buahnya melimpah. Walhasil, rakyat Mataram saat itu mulai mencari cara untuk membuat masakan yang berbahan dasar nangka, terutama gori atau nangka muda.

Sebab, nangka tidak termasuk hasil pertanian yang diincar penjajah karena nilai jualnya rendah. Singkat cerita, ditemukan cara mengolah gori menjadi masakan. Yaitu dengan direbus cukup lama hingga teksturnya lembut, kemudian diberi bumbu rempah sederhana dan campuran kelapa.

Namun dalam jurnal karya dua peneliti dari Universitas Bunda Mulia itu, LS Mega Wijaya Kurniawati dan Rustono FM, tidak disebutkan kapan gori itu pertama kali dimasak. Jurnal itu hanya menyebutkan masakan dari 'limbah nangka' itu merupakan makanan rakyat biasa seperti prajurit atau buruh.

Karena dimasak dalam porsi besar untuk orang banyak, maka wadahnya pun menggunakan ember besar dari logam dan diaduk menggunakan alat yang menyerupai dayung perahu. "Teknik mengaduk ini dalam Bahasa Jawa disebut hangudek atau hangudeg, dan dari sinilah nama gudeg berasal hingga dikenal luas" (Sejarah dan Budaya, 2021:29).

2. Gudeg dalam Serat Centhini

Menurut buku Kuliner Jawa dalam Serat Centhini yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jogja pada 2014, gudeg termasuk salah satu masakan tradisional yang disebut dalam Serat Centhini.
Serat Centhini ditulis pada 1814-1823 atas perintah Adipati Anom Amangkunegara III yang kemudian menjadi raja Keraton Kasunanan Surakarta dengan gelar Sunan Pakubuwono V.

Terdiri dari 12 jilid, Serat Centhini juga dikenal sebagai Ensiklopedia Kebudayaan Jawa. Sebab, Serat yang disusun oleh tiga tenaga ahli dari Keraton Solo ini meliput berbagai pengetahuan, dari sejarah, geografi, arsitektur, ilmu agama, seni, seksologi, kuliner, dan lain-lain.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa gudeg nangka bumbunya terdiri dari daun salam, daun jeruk, lengkuas, gula jawa, santan, kemiri, ketumbar, terasi, jintan, dan garam. Dalam Serat Centhini disebutkan, gudeg nangka itu disajikan di wilayah Mataram (Jogja), Wanagiri (Wonogiri), Tembayat (Bayat, Klaten).

3. Gudeg pada Masa 1970-an

Di Jogja, gudeg berkembang menjadi makanan yang populer. Beriringan dengan perkembangan Jogja sebagai kota wisata pada kurun 1970-1980-an, berjualan gudeg pun mulai menjadi mata pencarian baru bagi warga Jogja di Jalan Wijilan.

Lambat laun gudeg pun 'naik pangkat'. Tak hanya disajikan di warung kaki lima, gudeg kini juga menjadi menu istimewa di hotel dan restoran. Gudeg zaman sekarang juga tak hanya dibungkus besek, tapi juga dikemas dalam kaleng yang tahan lama untuk oleh-oleh.



Simak Video "Bikin Laper: Gudeg Jogja di Alam Sutera Tangerang"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/aku)