5 Kuliner Legendaris Jogja Kumpul di Pasar Beringharjo

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 02 Jul 2022 03:03 WIB
Pasar Beringharjo yang dulu ramai pemburu batik kini tampak lebih sepi. Para pedagang batik mulai rindu kedatangan wisatawan untuk memborong dagangan mereka. Bila traveler berkunjung ke Malioboro, Yogyakarta pasti tak asing dengan Pasar Beringharjo. Pasar ini termasuk salah satu spot legendaris yang sudah berdiri sejak 1758.
Pasar Beringharjo, Jogja. Foto: Rifkianto Nugroho
Solo -

Pasar Beringharjo Jogja tak hanya dikenal sebagai pusat perbelanjaan dan oleh-oleh khas Jogja. Setelah menyusuri Jalan Malioboro, ada baiknya detikers meluangkan waktu untuk masuk ke pasar yang didirikan sejak 1758 ini. Jika anda jeli, semua pedagang dalam daftar kuliner legendaris Jogja ini bisa anda temui.

1. Sego Empal Bu Warno

Sego Empal Bu Warno merupakan salah satu kuliner legendaris di Jogja. Warungnya menempati lantai dua Pasar Beringharjo sejak 1970. Empal gorengnya gurih dan tidak alot.
Anda juga bisa mencicipi bermacam lauk dari jeroan sapi, seperti babat goreng, iso goreng, dan koyoran. Di warung Bu Warno juga tersedia sayur khas Jawa seperti sayur asem, lodeh, dan sambal korek. Pada Maret 2022, harga per porsinya sekitar Rp 22 ribuan.

2. Jenang Bu Darmini

Lapak jenang Bu Darmini berada di pintu selatan Pasar Beringharjo. Sejak 1998, Bu Darmini setia menawarkan beraneka olahan jenang atau bubur. Cita rasa jenangnya manis gula asli dan gurih berkat guyuran kuah santannya.


Ada empat jenis jenang di lapak Bu Darmini, yaitu jenang sumsum, jenang mutiara, wajik, dan biji salak. Anda juga bisa memesan dua atau tiga jenis jenang sekaligus dalam satu porsi. Hingga Maret lalu, tiap satu porsi jenangnya hanya dibanderol Rp 9 ribu.

Bu Darmini telah berjualan jenang di Pasar Beringharjo Yogyakarta sejak 1998 silam. Jatuh bangun selama berjualan jenang pun dialami oleh ibu empat anak ini.Bu Darmini telah berjualan jenang di Pasar Beringharjo Yogyakarta sejak 1998 silam. Jatuh bangun selama berjualan jenang pun dialami oleh ibu empat anak ini. Foto: Rifkianto Nugroho

3. Dawet Mbah Hari

Lapak dawet Mbah Hari berada di los pertama, sisi utara pasar. Mbah Hari berdagang dawet di Pasar Beringharjo sejak 1965.
Dawet Mbah Hari sama dengan dawet khas Jogja pada umumnya. Tiap satu mangkok kecilnya berisi cendol putih dan hijau, cincau, irisan nangka, kuah santan dan cairan gula Jawa. Harga per mangkoknya pada Maret lalu masih Rp 5.000. Yang membedakan adalah kenangannya, terlebih bagi para pelanggan yang sudah lama meninggalkan Jogja.

4. Sate Kere Mbah Suwarni

Salah satu kuliner 'provokatif' karena asapnya yang menggugah selera ini berada di pintu selatan, tepatnya di bawah jembatan Pasar Beringharjo. Sudah ada sejak 38 tahun lalu, sate di sini diracik oleh Mbah Suwarni yang usianya sudah 70 tahunan.

Sate kere dibuat dari potongan koyor atau sandung lamur. Setelah direndam bumbu berbahan rempah, sate kere ini akan mengembuskan asap putih tebal ketika dibakar dengan lumuran kecap. Mencium aromanya dari kejauhan saja sudah terbayang lezat dan kenyalnya sate kere yang per tusuk dijual Rp 3 ribu itu.

5. Tongseng Bu Sumirah

Warung tongseng ini berada di lantai 2 G 11 Los 2, Pasar Beringharjo. Kios Bu Sumirah ini menjual sate kambing dan tongseng kambing sejak 1996. Sate kambingnya khas Tegal, dari kambing muda. Satu porsi satenya, Maret lalu, hanya Rp 25 ribuan.



Simak Video "Buruh Gendong Pasar Beringharjo Berlenggak-lenggok Bak Model "
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)