Disorot ORI, Disdikpora Bantul Yakin Tak Salah soal Bangku Kosong SMPN

Disorot ORI, Disdikpora Bantul Yakin Tak Salah soal Bangku Kosong SMPN

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Selasa, 27 Sep 2022 17:05 WIB
Kepala Disdikpora Kabupaten Bantul Isdarmoko, Rabu (22/6/2022).
Kepala Disdikpora Kabupaten Bantul Isdarmoko, Rabu (22/6/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul -

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menemukan ada pengurangan rombongan belajar (rombel) di SMP Kabupaten Bantul saat PPDB 2022 sehingga ada 270 anak yang kehilangan hak untuk belajar di sekolah negeri. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul menyebut hal itu sudah sesuai aturan.

"Iya tidak ada yang salah toh," kata Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko saat dimintai konfirmasi detikJateng, Selasa (29/9/2022).

Isdarmoko menyebut soal jumlah rombongan belajar itu pihaknya merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Permendikbudristek). Dalam aturan itu disebutkan jumlah siswa maksimal untuk satu rombel di SMP negeri adalah 32 orang.


"Karena memang aturannya kan memang dari Permen memang boleh. Jadi memang yang diatur jumlah minimal dan jumlah maksimal (rombel). Kalau kita di jumlah maksimal tidak ada masalah toh," ucapnya.

Isdarmoko menyebut pengurangan jumlah rombel tidak hanya terjadi di Bantul. Dia pun mempertanyakan mengapa hanya di Bantul yang menjadi sorotan ORI.

"Daerah lain juga ada yang mengambil hanya 30 siswa juga tidak masalah, hanya di DIY saja kenapa harus dipermasalahkan," ujarnya.

"Di sekolah swasta, Bopkri itu hanya 25 dalam satu rombel. Nah itu kan banyak hal yang harus menjadi pertimbangan, juga termasuk nantinya dengan hal-hal yang kebijakan-kebijakan daerah itu kan bisa pindah-pindah," lanjut Isdarmoko.

Isdarmoko menilai aturan jumlah rombongan belajar itu mednapat dukungan dari sekolah swasta di Bantul. Mengingat banyak sekolah swasta yang kekurangan murid.

"Kami di Bantul ini memang kita sudah, teman-teman swasta sangat mendukung, karena sekolah tidak hanya di negeri, ada swasta juga. Itu biar semuanya berjalan kondusif. Kenapa kok Bantul dipermasalahkan wong dari dulu sudah berjalan seperti itu," tanyanya.

Sebelumnya diberitakan, ORI Perwakilan DIY menemukan ada pengurangan rombel di SMP Kabupaten Bantul saat PPDB 2022. Akibatnya, ORI mencatat ada 270 anak yang kehilangan hak untuk belajar di sekolah negeri.

"Khususnya di SMP ada pengurangan rombel, siswa dalam rombel. Setidaknya ada 270 anak yang kehilangan haknya untuk berkesempatan bersekolah di sekolah negeri di Bantul," kata Asisten Pencegahan ORI DIY, Chasidin, kepada wartawan, hari ini.

Kepala ORI Perwakilan DIY Budhi Masturi menambahkan pengosongan bangku di sekolah ini berpotensi untuk diperjualbelikan di semester selanjutnya. Sebab, siswa dapat pindah setelah satu semester atau setelah menerima rapor.

"Bangku-bangku yang tidak terisi karena dikosongkan, kalau tidak dipantau, tidak dikawal, berpotensi untuk diperjualbelikan pada saat nanti satu semester, karena siswa boleh pindah setelah dapat rapor di semester 1," kata Budhi.



Simak Video "Kafe Tak Berizin di Babarsari Disegel, Sempat Terjadi Perlawanan"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/sip)