Keren! Warga Bantul Bikin Conblock Berbahan Sampah Plastik Tanpa Pembakaran

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Kamis, 18 Agu 2022 15:58 WIB
Proses pembuatan bata atau konblok dari sampak plastik bercampur pasir dengan sistem pemanasan menggunakan tenaga listrik di Bantul, Kamis (18/8/2022).
Proses pembuatan bata atau konblok dari sampak plastik bercampur pasir dengan sistem pemanasan menggunakan tenaga listrik di Bantul, Kamis (18/8/2022). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Bantul -

Sejumlah warga yang tergabung dalam komunitas Bijak Sampah membuat bahan bangunan berbahan baku sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang dan pasir, tanpa menggunakan sistem pembakaran. Hal itu mulai diterapkan di Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.

Salah satu penemu teknologi pemanfaatan residu plastik tanpa pembakaran bernama Agung Wisda menjelaskan awal mula munculnya ide tersebut dari keprihatinan akan banyaknya sampah residu. Dari situ Agung dan rekan-rekannya melakukan riset untuk membuat mesin pengolahan sampah plastik tanpa menggunakan sistem pembakaran.

"Riset sejak 2016, dapat formulanya lalu kami ajukan ke Ditjen HAKI untuk hak patennya tahun 2019. Jadi bisa dibilang ini (alat pembuat bahan bangunan dari plastik dan pasir tanpa sistem pembakaran) pertama di Indonesia," katanya saat ditemui di Pleret, Bantul, Kamis (18/8/2022).


Alat buatannya bersama Prof Surisyono dan Tri Setyawati ini terbilang sederhana, yakni hanya terdiri dari mesin pencacah sampah plastik, mesin mixer atau pencampur bertenaga listrik dan alat pres manual. Untuk produksinya, Agung menyebut bisa berupa beberapa benda yang berhubungan dengan pembangunan.

"Tidak hanya conblock (concrete block), pemecah gelombang, separator pembatas jalan hingga bata interlock bisa kami buat," ujarnya.

"Bahan bakunya hanya sampah plastik dan pasir saja, perbandingan saat mencampur dengan sistem pemanasan hanya 70 persen pasir dan 30 persen plastik. Untuk pasir tidak ada jenis khusus, bisa pakai pasir bangka, merapi dan progo yang penting tidak mengandung banyak debu," lanjut Agung.

Sedangkan untuk produksi conblock sendiri menurut Agung hanya memerlukan waktu yang sebentar. "Dari awal sampai akhir paling hanya lima sampai sepuluh menit saja dan sudah bisa dipakai, tapi biasanya masih panas dan biasanya menunggu satu jam dulu," ucapnya.

Agung menyebut hasil produksinya memiliki daya tahan yang melebihi semen. Terlebih, pihaknya sudah melakukan pengujian khusus.

"Sudah ada pengujian dari dari Balitbang PUPR, dan kekuatan minimalnya ini, maksimalnya menggunakan semen. Selain itu kita pernah menang di Pertamina Foundation tahun 2021," katanya.

Bahkan, bahan bangunan buatan pihaknya telah dilirik banyak pihak, salah satunya DPP Kagama Kalimantan yang meminta sampel balok. Nantinya sampel tersebut hendak dipakai untuk membuat bangunan di sekitar IKN.

"Ini ada request DPP Kagama Kalimantan minta dibuatkan prototipe untuk bahan baku fondasi karena lentur dan tahan di tanah gambut, itu untuk IKN. Terus bulan November kami presentasi di Kementerian BUMN," ujarnya.

Terkait teknis, Wakil Ketua Komunitas Bijak Sampah sekaligus salah satu inventor Tri Setyawati menjelaskan pihaknya fokus mengolah sampah plastik yang selama ini menjadi residu atau tidak dibuang ke TPA. Selaim itu, teknologi inovatif ini untuk mendukung program kampung bijak sampah.

"Sebenarnya teknologi kami bisa menggunakan semua jenis plastik. Tapi karena saat ini yang jadi masalah sampah residu plastik, itu yang kami utamakan," ujarnya.

"Teknologi kami juga tidak menggunakan semen dan tidak ada pembakaran atau pelelehan plastik. Kami hanya memanfaatkan sampah plastik dan pasir, nah biasanya perekatnya kan semen dan ini pakai plastik," imbuh Tri.

Dengan plastik tersebut, Tri mengaku produk yang dihasilkan lebih bersifat lentur, tahan lama dan tidak mudah hancur meski dibanting. Sehingga Tri mengklaim kekuatan produknya di atas produk yang menggunakan bahan baku semen.

"Kami juga buat separator jalan dan pemecah gelombang yang kekuatannya di atas benda yang pembuatannya menggunakan semen," ucapnya.

Simak pengembangan alat tersebut di halaman selanjutnya..

Proses pembuatan bata atau konblok dari sampak plastik bercampur pasir dengan sistem pemanasan menggunakan tenaga listrik di Bantul, Kamis (18/8/2022).Proses pembuatan bata atau konblok dari sampak plastik bercampur pasir dengan sistem pemanasan menggunakan tenaga listrik di Bantul, Kamis (18/8/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng