RS Mata di Jogja Catat Kasus Rabun Jauh Anak Meningkat gegara Belajar Online

Heri Susanto - detikJateng
Senin, 15 Agu 2022 14:41 WIB
Anak-anak SD melakukan pemeriksaan mata gratis di Grha Padmanaba, SMAN 3 Jogja, Senin (15/8/2022).
Anak-anak SD melakukan pemeriksaan mata gratis di Grha Padmanaba, SMAN 3 Jogja, Senin (15/8/2022). Foto: Heri Susanto/detikJateng
Yogyakarta -

Sistem belajar online atau jarak jauh yang memanfaatkan gadget dan laptop selama pandemi COVID-19 ternyata memberikan dampak bagi anak-anak. Rumah Sakit (RS) Mata Dr YAP Jogja mencatat ada peningkatan anak mengalami rabun jauh atau miopia.

"Setelah pandemi banyak anak-anak yang periksa. Di rumah sakit banyak yang mandiri bisa sampai 50 persen (peningkatannya)," kata dokter mata RS Dr YAP, Anggun Desi Wulandari, saat pemeriksaan dan bantuan kacamata gratis dari Alumni SMAN 3 Jogja, Senin (15/8/2022).

Anggun mengungkapkan peningkatan rabun jauh ini terjadi karena selama pandemi proses kegiatan belajar dan mengajar saat itu menggunakan gadget atau komputer. Ini sesuai dengan faktor risiko rabun jauh dari membaca jarak dekat.


"Karena aktivitas jarak dekat, membaca jarak dekat. Melihat jarak dekat," jelasnya.

Ia menambahkan, peningkatan kasus rabun jauh pada anak ini terdeteksi dari peningkatan jumlah anak.

"Sekarang lebih banyak yang terdeteksi mata minus. Karena proses belajar mengajar menggunakan gadget dan laptop ya," imbuhnya.

Bagi anak yang diketahui mengalami mata minus, kata dia, sebaiknya anak memang menggunakan kacamata. Karena ada risiko bagi mata anak jika dipaksakan tak menggunakan alat bantu penglihatan.

"Kalau anak perlu kacamata sebaiknya terus menggunakan kacamata. Karena kalau nggak pakai kacamata ada keluhan gejala lainnya seperti mata malas karena miopinya tidak terkoreksi minusnya bertambah," jelasnya.

Mata malas atau amblyopia, menurut Anggun, terjadi karena mata tidak mendapatkan rangsangan cahaya yang cukup.

"Istilahnya kalau kita normal kan kita melihat itu merupakan rangsangan ya. Mata kita ada gangguan, kita tidak bisa melihat dengan jelas maka itu rangsangan matanya jadi berkurang," jelasnya.

Jika sudah terjadi mata malas ini, Anggung mengungkapkan, harus ada terapi lebih lanjut. Tak hanya hanya menggunakan alat bantu penglihatan seperti kacamata saja.

"Kalau sudah mata malas itu perlu terapi lebih lanjut. Jadi tidak cukup hanya menggunakan kacamata saja," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pemeriksaan Kesehatan Gratis SMAN 3 Jogja Indah Rahayu mengatakan pemeriksaan ini memang menangkap dari keluhan orang tua setelah terjadi pandemi.

"Banyak teman-teman guru dan orang tua itu yang mengeluhkan siswa atau anaknya mengalami gangguan penglihatan. Bahkan ada siswa yang selama pandemi selalu berprestasi setelah masuk sekolah malah turun," kata Indah.

Padahal, lanjut Indah, si anak itu sudah duduk di kursi depan. Tapi, saat ditanyakan, ternyata tetap tak mampu melihat dengan jelas apa yang ditulis guru di papan tulis.

"Akhirnya kami diskusi dengan teman-teman alumni sepakat untuk membuat pemeriksaan dan bantuan kacamata gratis ini," jelasnya.

Pemeriksaan gratis ini diperuntukkan untuk 85 siswa SD, SMP, SMA se-DIY dengan random. Panitia mendatangi sekolah-sekolah untuk menawarkan pemeriksaan gratis ini bagi siswa yang mengalami kendala dalam proses belajar.

"Dan ternyata antusias anak-anak ini sangat tinggi," imbuhnya.



Simak Video "Alasan Indonesia Tak Ikuti Langkah Biden Deklarasikan Pandemi Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/sip)