Ortu Siswa-Sekolah Berdamai, Penanganan Kasus Pemaksaan Hijab Jalan Terus

Ortu Siswa-Sekolah Berdamai, Penanganan Kasus Pemaksaan Hijab Jalan Terus

Heri Susanto - detikJateng
Rabu, 10 Agu 2022 12:44 WIB
Orang Tua Siwa dan Kepala Sekolah SMAN 1 Banguntapan Agung Istiyanto bersamai disaksikan  Kepala Dinas Dikpora DIY Didik Wardaya di Kantor Disdikpora DIY, Rabu (10/8/2022).
Orang Tua Siwa dan Kepala Sekolah SMAN 1 Banguntapan Agung Istiyanto bersamai disaksikan Kepala Dinas Dikpora DIY Didik Wardaya di Kantor Disdikpora DIY, Rabu (10/8/2022). (Foto: Heri Susanto/detikJateng).
Yogyakarta -

Kasus dugaan pemaksaan hijab di SMA N 1 Banguntapan berakhir damai. Bertempat di Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY kedua belah pihak sepakat menganggap selesai masalah tersebut.

"Orang tua siswa dan kepala sekolah dan ketiga guru di SMA N 1 Banguntapan, sepakat bahwa permasalahan tersebut sampai di sini. Keduanya sudah menganggap selesai," kata Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya, saat jumpa pers bersama orang tua siswa dan perwakilan sekolah di Kantor Disdikpora DIY, Rabu (10/9/2022).

Didik menambahkan, untuk status siswa tersebut, Disdikpora mengharapkan tetap bersekolah di SMA N 1 Banguntapan. Tapi, rekomendasi dari KPAI dan orang tua siswa bisa bersekolah di tempat lain.


"Berkaitan dengan status pendidikan siswa tersebut diberikan kesempatan, anak tersebut walaupun kami mengharapkan tetap di SMA N 1 Banguntapan. Rekomendasi dari KPAI dan orang bisa bersekolah di tempat lain," katanya.

Meski telah berdamai, kata Didik, proses disiplin pegawai terhadap kepala sekolah, wali kelas, dan dua guru BK tetap berjalan. Bahkan, Disdikpora DIY telah mengantongi data dan fakta terkait dugaan pelanggaran.

"Saat ini dari di Dinas Dikpora sudah memperoleh data dan fakta. Dan ditemukan dugaan pelanggaran disiplin pegawai dan selanjutnya dikirim ke BKD memohon rekomendasi hukuman disiplin yang akan diberikan kepada pegawai tersebut," ungkapnya.

Data dan fakta, kata Didik, termasuk dugaan pemaksaan penggunaan jilbab terhadap siswa. Disdikpora DIY telah mengantongi bukti CCTV dan keterangan dari yang bersangkutan.

"Kalau itu kami melihat di CCTV itu kan apa namanya tidak berbunyi. Masalah pemaksaan tidak pemaksaan kita belum bisa pastikan dengan tepat ya," jelas Didik.

"Kami mencatat pengakuan dari masing-masing pihak termasuk dari ini. Karena kami sampai sekarang belum bisa mewawancarai siswa. Kami hanya bantuan dari psikolog pendamping," jelasnya.

Didik menceritakan perjalanan dugaan pemaksaan berjilbab. Pertama adalah dugaan laporan pemakaian jilbab SMA N 1 Banguntapan Pada 27 Juli 2022.

"Ketiga perkembangan penanganan kasus itu sendiri bahwa pelaporan kasus dugaan pemaksaan pemakaian jilbab SMA N 1 Banguntapan kita ketahui 27 juli 2022. Telah ditindaklanjuti pemeriksaan dan klarifikasi sekolah dan guru," jelasnya.

Kemudian, kata Didik, pada tanggal 4 Agustus Disdikpora menerbitkan keputusan pembebasan sementara Kepsek dan ketiga guru yang terlibat.

"Dari pemeriksaan tersebut, pada 4 Agustus diterbitkan keputusan pembebasan sementara dari kepsek dan guru untuk menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan. Dan yang bersangkutan bisa konsentrasi melakukan pemeriksaan tersebut. Pembebasan sementara untuk menjaga kegiatan belajar mengajar di sekolah berjalan dengan baik karena yang bersangkutan wira-wiri melakukan pemeriksaan," jelasnya.

Soal hukuman disiplin pegawai, menurut dia, Satgas Pembinaan Disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) yang mempelajari dan memutuskan.

"Terkait hukuuman disiplin tentunya satgas pembinaan disiplin aparatur sipil negara di BKD akan mempelajari dan merekomendasikan hukuman sesuai ketentuan yang berlaku," jelasnya.

Simak Video 'Akhir Damai Kasus Jilbab di SMAN 1 Banguntapan':

[Gambas:Video 20detik]



(apl/aku)