KPAI Ungkap Psikologi Korban Diduga Dipaksa Berjilbab di Banguntapan Terpukul

Tim detikNews - detikJateng
Kamis, 04 Agu 2022 14:43 WIB
Stop violence against women, Human rights day, freedom concept, alone, sadness, emotional.
Ilustrasi. Foto: istock
Bantul -

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan siswi yang menjadi korban dalam kasus dugaan pemaksaan jilbab di SMAN 1 Banguntapan Bantul, DIY, mengalami pukulan psikologis. KPAI telah melakukan pemeriksaan psikologi terhadap korban.

"Secara singkat dapat kami sampaikan bahwa hasil psikologis pada lapis pertama sudah menunjukkan bahwa korban mengalami pukulan psikologis akibat peristiwa tanggal 18, 20, 25, dan 26 Juli yang dialaminya di sekolah," kata komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan persnya, Kamis (4/8/2022), dikutip dari detikNews.

Dalam keterangan pers itu dijelaskan KPAI serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) telah menemui korban dan pihak sekolah tempat terjadinya dugaan kasus pemaksaan jilbab tersebut.


Komisioner KPAI Retno dan Kepala Inspektorat Jenderal Kemendikbud-Ristek Chatarina Girsang juga menemui ayah dan ibu korban serta LSM Sapu Lidi yang mendampingi korban sejak 26 Juli. Menurut ayah korban dan LSM Sapu Lidi, korban sempat mengunci diri di kamar selama beberapa hari.

Mengenai hasil asesmen psikologi korban secara keseluruhan, KPAI tidak bisa menyampaikannya secara keseluruhan karena ada kode etik yang mengaturnya. Meski demikian, KPAI menyatakan ada gejala trauma psikologis akibat kasus dugaan pemaksaan jilbab itu.

KPAI dan pihak Kemendikbud-Ristek juga mendapatkan keterangan dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum. "Pada intinya, guru BK dan wali kelas memang mengakui ada peristiwa memasangkan jilbab pada anak korban di dalam ruang BK, namun dalihnya hanya sebagai tutorial," kata Retno.

KPAI kemudian meninjau sekolah itu dan mencatat bahwa para peserta didik perempuan menggunakan jilbab semua, baik di dalam maupun di luar kelas.
"Menurut keterangan kepala sekolah, memang siswi muslim di sekolah tersebut berjilbab meskipun tidak aturan sekolah wajib menggunakan jilbab," ungkap Retno.

KPAI juga melihat adanya panduan seragam dilengkapi gambar. Panduan ini beredar di WhatsApp. Ketentuan seragam bagi perempuan adalah mengenakan kemeja panjang, rok/celana panjang, serta jilbab.
Kepada KPAI, pihak sekolah mengakui itu adalah dokumen rilisannya untuk peserta didik. "Ketentuan seragam dan diperkuat dengan gambar, di sekolah anak korban tidak sesuai dengan ketentuan dari

Permendikbud No 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam bagi peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan menengah," kata Retno.

Diberitakan sebelumnya, siswi kelas X di SMAN 1 Banguntapan, Bantul, DIY mengaku dipaksa berjilbab oleh guru BK. Akibat peristiwa itu, siswi tersebut dinyatakan mengalami depresi hingga akhirnya pindah sekolah.

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY dan Disdikpora DIY pun turun tangan. Pihak sekolah telah dimintai klarifikasi. Kepala SMAN 1 Banguntapan menepis tudingan pemaksaan pemakaian hijab tersebut.



Simak Video "Guru dan Kepala SMAN 1 Banguntapan Disanksi Ringan Terkait Kasus Jilbab"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/sip)