Metaverse di Indonesia Dinilai Perlu Waktu Gegara Sering Ada Data Bocor

Jauh Hari Wawan S - detikJateng
Jumat, 21 Jan 2022 15:47 WIB
Ilustrasi Metaverse
Ilustrasi Metaverse (Foto: dok detikJateng)
Sleman -

Indonesia dinilai masih perlu waktu untuk benar-benar mewujudkan metaverse. Peneliti Universitas Gajah Mada (UGM) menyoroti masih maraknya kebocoran data pribadi serta infrastruktur yang masih perlu dibenahi.

Istilah metaverse memang semakin banyak didengungkan belakangan ini. Tokoh-tokoh Indonesia kerap kali menggunakan istilah ini dalam pidatonya.

Mulai dari pidato pembukaan Presiden Jokowi yang menyebutkan bahwa dengan metaverse, mengaji dan berdakwah akan dapat dilakukan di dunia virtual. Kemudian Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate yang menyinggung potensi berkembangnya metaverse karena keunggulan nilai-nilai luhur bangsa dan kearifan lokal.

Hingga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang sedang dengan serius membangun ibu kota negara virtual Indonesia melalui metaverse untuk mengakomodasi kebutuhan di tengah perkembangan zaman.

"Masih perlu waktu untuk mewujudkan metaverse di Indonesia," kata Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM, Dewa Ayu Diah Angendari, dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Jumat (21/1/2022).

Ia mengatakan, belum siapnya Indonesia terlebih masih terdapat beberapa isu yang berpotensi muncul ketika metaverse benar-benar digunakan. Isu pertama yakni permasalahan privasi data.

"Pertama adalah privasi data yang masih menjadi permasalahan yang sering terjadi di Indonesia ditandai dengan seringnya terjadi kebocoran data pribadi masyarakat," ujar Diah, sapaan akrabnya.

Kedua adalah infrastruktur. Menurut Diah, dibutuhkan infrastruktur yang lebih baik, utamanya di jaringan internet 5G.

"Sedangkan pengadopsian 5G di Indonesia masih terbatas. Isu ketiga adalah mahalnya harga VR (virtual reality) dan AR (augmented reality), alat yang dibutuhkan untuk membuat fundamental dari metaverse," katanya.

Visi pembangunan metaverse dan hadirnya beberapa isu potensial ini menurut Diah dapat dijadikan alarm bagi Indonesia.

"Visi membangun dunia digital paralel seperti metaverse dapat menjadi alarm bagi Indonesia atas berbagai pekerjaan rumah terkait transformasi digital. Seperti aspek literasi digital, perlindungan data, peningkatan kapasitas dan pengetahuan di bidang teknologi digital, hingga digital divide," pungkasnya.

(aku/sip)