Bledug Gandum Riwayatmu Kini, Bus Tuyul Kulon Progo yang Melegenda

Jalu Rahman Dewantara - detikJateng
Rabu, 19 Jan 2022 16:14 WIB
Bos PO Bledug Gandum, Suwarto, di eks garansi Bledug Gandum, Wates, Kulon Progo, Sabtu (15/1/2022).
Bos PO Bledug Gandum, Suwarto, di eks garansi Bledug Gandum, Wates, Kulon Progo. (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)
Kulon Progo -

Di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terdapat Perusahaan Otobus (PO) yang begitu melegenda dan sempat berjaya di era 90-an. Bernama PO Bledug Gandum, perusahaan ini sekarang bangkrut dan telah menjual seluruh armadanya. Bagaimana kisahnya?

Mata Suwarto (48) menerawang jauh ke masa lalu. Ia mengingat-ingat bagaimana PO miliknya yang dulu sempat berjaya dan jadi primadona masyarakat Kulon Progo. Nama PO itu adalah Bledug Gandum.

"Saya mulai terjun ke bisnis transportasi ini sekitar tahun 1989, dan benar-benar menikmati kekayaan pada medio 90 an," ungkap Suwarto saat ditemui detikJateng di rumahnya yang juga jadi eks garasi Bledug Gandum di Kedungdowo, Wates, Kulon Progo, Sabtu (15/1/2022).

Era 90-an hingga awal 2000-an menjadi masa kejayaan Bledug Gandum. Kala itu Suwarto memiliki hampir 50 armada bus di mana 24 unit di antaranya adalah bus engkel atau biasa disebut bus tuyul. Sisanya adalah bus omprengan. Adapun jumlah karyawannya ketika itu mencapai lebih dari 70 orang yang bertugas sebagai sopir dan kernet.

"Saat itu bisa dikatakan masa jaya kami ya mas. Sebab di jaman itu (Tahun 90-an) setiap armada bisa menyetor hingga Rp200.000 per hari. Bus kami yang beroperasi sejak subuh sampai sore hari selalu dipenuhi penumpang," ujarnya.

Nominal yang diperoleh itu berasal dari tarif jalan penumpang yang ketika itu masih sekitar Rp150 per orang. Artinya setiap armada PO ini bisa melayani sedikitnya 1.000 penumpang per hari.

"Dulu benar-benar banyak peminatnya, karena waktu itu kan kendaraan pribadi masih sangat jarang, jadi pada milih naik bus. Sering itu kalau nggak kebagian tempat duduk dan kondisi dalam bus penuh, ada aja penumpang yang bergelantungan di pintu," ucapnya.

Di masa jayanya, PO ini khususnya untuk armada bis tuyul melayani rute antar kota dalam provinsi (AKDP). Di Kulon Progo Beldug Gandum menempuh rute lintas kapanewon, seperti Temon, Kokap, Wates, Kalibawang, dan Sentolo. PO ini juga melayani rute antar kabupaten dan kota di DIY di antaranya Sleman, Kota Jogja dan sebagian wilayah Bantul.

Masa Terpuruk

Seperti halnya roda yang berputar, bisnis transportasi yang digeluti Suwarto pun demikian. Hampir sedekade lebih berjaya, Bledug Gandum perlahan mulai terpuruk.

Suwarto menuturkan masa keterpurukan Bledug Gandum dimulai pada tahun 1998-1999 di mana saat itu Indonesia sedang dilanda krisis moneter (krismon). Banyak demo di mana-mana termasuk di Kota Jogja.

Imbas demo itu, dua unit bus miliknya sempat rusak kena lemparan batu pendemo, sehingga ia terpaksa menjual beberapa unit guna mengganti kerusakan tersebut.

"Waktu itu ada sekitar dua unit bis yang jurusan Kulon Progo-Jogja rusak karena ada demo di Jalan Solo. Saya jadi terpaksa jual armada. Beberapa armada juga tidak dioperasikan untuk mengantisipasi kejadian serupa," ujarnya.

Beberapa tahun pascakejadian itu, Bledug Gandum yang berupaya bangkit kembali dilanda persoalan baru, yakni jumlah penumpang anjlok signifikan. Faktornya karena makin banyak masyarakat yang memilih menggunakan kendaraan pribadi alih-alih angkutan umum.

"Paling terasa itu sekitar tahun 2010. Saat itu beli kendaraan pribadi makin mudah, cuma DP 0 persen aja sudah bisa bawa pulang motor, akhirnya penumpang kami merosot," ujarnya.

Suwarto pun coba peruntungan baru dengan membeli armada bus pariwisata. Kehadiran armada wisata sempat membawa angin segar bagi Bledug Gandum. Namun hal itu hanya sementara. Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia pada Maret 2020 menjadi musababnya.

"Efek pandemi ini benar-benar terasa ya, Mas. Sampai akhirnya per Juli 2021 kami memutuskan mengurangi jumlah armada. Dan armada terakhir yang kami jual itu pada November 2021 kemarin. Sekarang kami sudah tidak beroperasi lagi," ungkapnya.

Suwarto mengatakan keputusan menjual seluruh armada itu dilandasi sejumlah hal. Pertama karena jumlah penumpang terus merosot setiap tahunnya. Kedua untuk menekan biaya pengeluaran seperti perawatan kendaraan, dan pembayaran UJI KIR dan sebagainya sebagai syarat kendaraan laik jalan.

"Sebenarnya berat, Mas. Tapi ya gimana lagi, mungkin ini sudah takdirnya, kami sudah berupaya (bangkit), tapi kalau jalannya sudah seperti ini ya pasrah aja," ucapnya.

Saat ini PO Bledug Gandum telah berhenti beroperasi. Sarwoto sendiri sekarang fokus ke usaha lain yaitu produksi bakmi. Usaha ini sebenarnya sudah digelutinya sejak sebelum mulai menjalankan bisnis transportasi, tetapi saat itu ia belum terlalu fokus menjalaninya.

"Sekarang saya jadi produsen bakmi, Mas. Sebenarnya usaha ini (produksi bakmi) sudah saya geluti sebelum bikin PO, sekitar tahun 1987. Nah usaha saya ini namanya itu Bledug Gandum, yang kemudian jadi cikal bakal nama PO Bledug Gandum," pungkasnya.

Sahabat di Kala Hujan

Terkait eksistensi PO Bledug Gandum di masa lalu, ada cerita tersendiri yang dimiliki salah satu penumpangnya. Ia adalah Bambang Jati Asmoro (25) warga Karangsari, Pengasih, Kulon Progo.

"Wah kalau bicara Bledug Gandum, itu dulu benar-benar kondang (terkenal), Mas. Dulu pas saya masih sekolah sering naik bus itu," ujar Bambang kepada detikJateng, Sabtu (15/1/2022).

Bagi Bambang, PO Bledug Gandum ibarat malaikat penolong bagi masyarakat di daerah perbukitan sepertinya. Bambang yang dulu berangkat sekolah dengan bersepeda, kadang menggunakan transportasi ini di kala hujan.

"Kebetulan kan rute bus ini lewat depan rumah saya, jadi kalau pas hujan itu saya pilih naik bus ini daripada bersepeda kan, takut basah. Apalagi jarak rumah saya sampai ke sekolah itu lumayan jauh, bisa 10 km," ucapnya.

Bambang rutin menumpang Bledug Gandum saat ia masih SMP hingga SMA kelas 2 atau pada sekitar tahun 2012-2015 an. Ia mulai berhenti menggunakan transportasi itu saat menginjak kelas 3 SMA karena sudah memiliki motor dan SIM.

"Mulai kelas 3 saya lebih sering pakai motor sendiri, dan sampai hari ini sudah tidak pernah naik bus itu," ujarnya.

(sip/mbr)