ACT Cuma Salurkan Rp 20 M dari Rp 138 M Dana Ahli Waris Korban JT 610

ACT Cuma Salurkan Rp 20 M dari Rp 138 M Dana Ahli Waris Korban JT 610

Tim detikNews - detikJateng
Selasa, 15 Nov 2022 15:42 WIB
Solo -

Jaksa mengungkap Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menerima dana Rp 138 miliar dari perusahaan Boeing melalui Being Community Investment Fund (BCIF) untuk pembangunan fasilitas sesuai dengan permintaan ahli waris korban Lion Air 610. Namun, menurut jaksa dari jumlah itu, hanya Rp 20 miliar yang benar-benar disalurkan untuk kegiatan tersebut.

Dilansir detikNews, hal ini disampaikan jaksa saat membacakan surat dakwaan mantan Presiden ACT Ahyudin dalam perkara penggelapan dana donasi Boeing untuk ahli waris korban Lion Air 610 di PN Jakarta Selatan,Selasa (15/11/2022).

Dalam surat dakwaan itu, Ahyudin melakukan perbautan itu bersama-sama dengan Presiden ACT Ibnu Khajar dan Hariyana Hermain (HH), yang disebut sebagai salah satu Pembina ACT dan memiliki jabatan tinggi lain di ACT, termasuk mengurusi keuangan. Tuntutan untuk tiap terdakwa dilakukan terpisah.


Perbuatan terdakwa mantan Presiden ACT Ahyudin ini bermula ketika ahli waris korban Lion Air 610 mendapatkan santunan dari Boeing masing-masing USD 144.320 atau setara Rp 2 miliar. Santunan itu diterima langsung ahli waris sendiri.

ACT sebagai lembaga filantropi juga mendapat USD 144.500 sesuai dengan persetujuan para korban. Kala itu ACT mengatakan akan menggunakan uang itu untuk membangun fasilitas sosial.

Keluarga korban Lion Air menyetujui pencairan dan meminta ACT membangun sarana pendidikan dengan menggunakan anggaran dana CSR dari perusahaan Boeing. Total ada 68 ahli waris yang setuju tentang ini.

Untuk mencairkan uang itu, ACT juga melalui berbagai tahapan, termasuk membuat proposal. Dalam proposal itu ACT mengusulkan akan membanung 68 fasilitas sekolah dan pendidikan sesuai keinginan korban.

"Bahwa atas proposal atau pengajuan dari Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diketahui oleh terdakwa Drs Ahyudin, saksi Ibnu Khajar, dan Saksi Hariyana binti Hermain tersebut, maka pihak Boeing menyetujuinya dan pada tanggal 25 Januari 2021 pukul 16.53:14 Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendapatkan pemindahbukuan dari Rekening 564234573 giro nostro USD di Citi Bank I The Law Offices of Kenneth R. Attor I IT5ITR0000947321 I sebesar Rp 138.546.388.500 (miliar) yang ditransferkan ke rekening atas nama Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebesar Rp 138.546.388.500 (miliar) dalam rentang waktu tanggal 28 Januari 2021 sampai dengan tanggal 29 April 2021," ungkap jaksa.

ACT Usulkan 68 Proyek tapi Cuma Deal 6 Proyek

Untuk membangun ke-68 bangunan yang diusulkan dalam proposal itu, ACT menggandeng sejumlah perusahaan konstruksi yang mengajukan penawaran berisi rencana anggaran biaya (RAB) ke ACT. ACT dan perusahaan konstruksi lalu menyetujui 6 proyek pengerjaan pembangunan.

Jaksa menyebut nilai proyek ACT itu jauh lebih kecil dari jumlah yang diterima ACT. Sebab, di proposal ACT akan mengerjakan 68 proyek namun kesepakatan di perusahaan konstruksi hanya mengerjakan enam proyek.

"Bahwa nilai Rencana Anggaran Biaya pembangunan fasilitas pendidikan yang disetujui oleh Terdakwa Ibnu Khajar selaku Presiden Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) tersebut jauh lebih kecil dari nilai jumlah uang yang diterima oleh Yayasan ACT dari pihak Boeing, padahal Terdakwa Ibnu Khajar mengetahui penggunaan dana BCIF tersebut harus sesuai dengan implementasi program Boeing dan pengeluaran biaya administrasi harus bernilai wajar dan biasa," jelas jaksa.

Selengkapnya di halaman berikut...