Setahun Lapor, Kasus Dugaan Pencabulan Bocah Banyumas Ini Masih Ngambang

Vandi Romadhon - detikJateng
Rabu, 27 Apr 2022 18:55 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi. (Foto: Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Banyumas -

Kasus dugaan pencabulan dialami bocah perempuan berinisial ANP (6) asal Kabupaten Banyumas. Meski kasusnya telah dilaporkan sejak setahun yang lalu, namun hingga saat ini belum menemukan titik terang.

"Kasus dugaan pencabulan yang dialami ANP ini terjadi pada sekira awal April 2021. Kemudian dilaporkan oleh nenek korban dan diterima Polresta Banyumas 14 Mei 2021, namun karena menurut polisi kekurangan saksi maka kasus ini masih ngambang," kata kuasa hukum korban, Kurniawan Tri Wibowo saat dihubungi detikJateng, Rabu (27/4/2022).

Kurniawan mengungkap, kejadian berawal saat ibu korban (DL) yang merupakan seorang janda tinggal serumah bersama kekasihnya. Saat itu korban ANP diajak serta untuk tinggal bersama pasangan tak resmi itu.

"Nah terduga pelaku ini kan paman dari kekasih DL, dia sering kerumah dan punya kesempatan untuk ketemu korban ANP," jelasnya.

Menurut Kurniawan, awal mula dugaan peristiwa cabul itu diketahui saat ibu korban menyampaikan pesan kepada (E) yang merupakan nenek korban.

Saat itu, DL berpesan agar E berhati-hati dan menjaga ANP karena dirinya pernah melihat terduga pelaku MBS (50) melakukan tindakan cabul kepada anaknya.

"Aneh memang, ibu korban mengaku melihat tapi malah membiarkan, akhirnya nenek korban memastikan dengan bertanya kepada korban tentang hal itu (pencabulan) kepada ANP. Karena korban membenarkan maka sang nenek melapor ke polisi," jelasnya.

Namun saat ini laporan dari keluarga korban yang sudah hampir satu tahun itu masih terkatung-katung. Apalagi, ibu korban yang merupakan satu-satunya saksi malah kabur.

"Ini saksinya kan cuma ibunya itu, tapi posisinya kabur. Kalau kelengkapan lain seperti hasil visum repertum sudah dan hasilnya memang robek dan merah, keterangan korban juga sudah dua kali diminta dan tidak berubah,hanya ekpresinya saja yang berbeda dan itu wajar karena korban masih anak-anak," terangnya.

Pihaknya berharap kepolisian dapat segera memproses berdasarkan alat bukti yang sudah ada. Karena menurutnya untuk kasus semacam itu keberadaan saksi bisa menjadi hal yang tidak serta merta menggugurkan proses hukum dan membiarkan pelaku masih tetap bisa berkeliaran.

"Menurut saya ini sangat layak untuk diteruskan, karena kesaksian korban cukup jelas. Ditambah hasil visumnya ada saya berharap polisi menangkap dulu itu (terduga pelaku) sambil kami mencari ibu korban yang merupakan saksi kunci," tuturnya.

Kurniawan menambahkan saat ini pihaknya juga sedang melengkapi proses laporan kedua. Menurutnya langkah visum et psikiatrikum akan dilakukan karena kondisi psikis korban mulai terganggu.

"Korban saat ini juga terkadang terlihat mengalami gangguan psikis dan mental. Hasil visumnya nanti bisa jadi tambahan bukti bahwa kejadian itu betul dialami korban," tutupnya.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kasubbag Humas Polresta Banyumas, Iptu Siti Nurkhayati, belum bisa memberikan banyak keterangan. Pihaknya mengaku akan berkoordinasi dengan satuan terkait.

"Saya konfirmasi ke Kasat Reskrim/Kanit PPA," kata Siti melalui pesan singkat.



Simak Video "Modus Bisa Obati Kebiasaan Ngompol, Pria di Polman Setubuhi Anak Tiri"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/ahr)