Mengunjungi Lasem, 'Tiongkok Kecil' di Ujung Timur Jateng

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Senin, 16 Feb 2026 17:00 WIB
Rumah kuno bergaya Tiongkok di Lasem, 'Tiongkok Kecil' di Rembang, Jawa Tengah, Senin (16/2/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng
Rembang -

Di pesisir utara Jawa, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Rembang, berdiri sebuah kota kecil yang kerap dijuluki "Tiongkok Kecil". Namanya Lasem.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Di kota tua ini, jejak peradaban Tionghoa masih terpelihara kuat, terutama di kawasan Pecinan seperti Karangturi, Soditan, dan Babagan.

Pada 2023, sejarawan Rembang, Exsan Ali Setyonugroho, sempat menerangkan Pecinan Lasem awalnya di Desa Soditan.

"Asal muasalnya itu di Pereng, Soditan, atau timur Sungai Lasem. Itu permukiman orang Tionghoa, yang sekarang Kelenteng Cu An Kiong," kata Exsan, sejarawan muda asal Desa Dasun, Lasem, saat ditemui detikJateng di rumahnya, Sabtu (14/1/2023) sore.

"Makanya Kelenteng Cu An Kiong itu banyak yang menyebut sebagai kelenteng tertua di Jawa, karena banyak penulis menyebut permukiman orang Tionghoa yang pertama ada di sana. Termasuk penulis Prawito juga menyebutkan begitu," imbuh Exsan.

Deretan rumah kuno dengan arsitektur khas Tionghoa menyambut siapa pun yang memasuki kawasan tersebut. Pintu kayu besar, dinding tebal, halaman luas, hingga ornamen naga dan aksara Han menjadi pemandangan yang akrab. Atmosfer tempo dulu terasa begitu kental, seolah waktu berjalan lebih lambat di sudut kota ini.

Salah satu ikon Lasem adalah Rumah Merah. Bangunan bergaya arsitektur Tionghoa dengan dominasi warna merah menyala itu dipercaya berdiri sejak abad ke-18. Selain menjadi penanda kuat identitas pecinan Lasem, Rumah Merah juga menyimpan kisah perlawanan masyarakat Tionghoa terhadap kolonialisme pada masanya.

Tak jauh dari sana, berdiri bangunan megah dengan pintu kayu raksasa yang dikenal sebagai Lawang Ombo. Bangunan ini dahulu disebut-sebut sebagai gudang opium pada era kolonial. Ukurannya yang besar dan konstruksinya yang kokoh mencerminkan pentingnya Lasem sebagai kota dagang di jalur pantura Jawa.

Penyebutan Lasem sebagai "Tiongkok Kecil" bukan sekadar istilah populer belakangan. Sinolog yang juga peneliti budaya cina di Lasem, Agni Malagina menyebut, julukan itu telah tercatat dalam berbagai referensi akademik dan catatan perjalanan sejak masa kolonial.

"Julukan Lasem 'Tiongkok Kecil' boomingnya saat Claudine Salmon, peneliti sinologi dari Prancis, menuliskan julukan Tiongkok Kecil Petit Chinois pada terbitannya Chinese Epigraphic Materials in Indonesia. Claudine mencatatkan julukan kota pesisir yang sudah sohor sejak lama pada penelitiannya," ujar Agni.

Agni menambahkan, jejak penyebutan tersebut juga dapat ditemukan dalam catatan perjalanan Francois Valentijn (1666-1727), seorang pendeta, naturalis, dan sejarawan Belanda yang bekerja untuk VOC selama 19 tahun di Hindia Timur. Dalam tulisannya, Valentijn menyebut kawasan permukiman Tionghoa di Lasem menyerupai perumahan di Tiongkok.

Menurut Agni, rujukan-rujukan itu memperkuat posisi Lasem sebagai salah satu kantong budaya Tionghoa terpenting di pesisir Jawa yang telah dikenal luas sejak berabad-abad silam.

Tiga Kelenteng Bersejarah

Lasem juga dikenal memiliki tiga kelenteng tua yang masih aktif digunakan hingga kini. Pertama adalah Kelenteng Cu An Kiong, yang diyakini sebagai salah satu kelenteng tertua di Jawa dan berdiri sejak abad ke-15. Kelenteng ini menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Konghucu dan Tridharma di Lasem.

Kemudian ada Kelenteng Poo An Bio di Karangturi, serta Kelenteng Gie Yong Bio di Babagan. Ketiganya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga saksi sejarah akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang berlangsung ratusan tahun.

Saat perayaan Imlek, Cap Go Meh, atau ritual tradisi seperti sembahyang besar, kawasan pecinan Lasem berubah menjadi pusat keramaian. Lampion merah bergantung di sepanjang jalan, aroma dupa memenuhi udara, dan warga dari berbagai latar belakang turut meramaikan suasana.

Terpesona Toleransi dan Batik Lasem

Daya tarik Lasem ternyata tak hanya memikat wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Salah satunya Nur Asyikin Yusni, turis asal Kuala Lumpur, Malaysia, yang sengaja datang jauh-jauh ke Lasem karena penasaran dengan reputasinya sebagai kota toleransi.

"Saya sering dengar Lasem disebut kota toleransi. Di sini budaya Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan dengan damai. Itu yang membuat saya ingin melihat langsung," ujar Nur Asyikin saat ditemui detikJateng di kawasan Pecinan Babagan.




(apu/afn)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork