Di tengah perayaan hari-hari besar masyarakat Tionghoa, ada satu sajian yang nyaris tak pernah absen dari meja persembahan. Kue ku, atau yang di Lasem lebih dikenal dengan sebutan kue tok, menjadi bagian penting dalam berbagai ritual keagamaan dan tradisi budaya.
Kue berwarna merah dengan simbol kura-kura ini menjadi salah satu sajian wajib di meja persembahan, termasuk di altar Kelenteng Gie Yong Bio, Babagan, Lasem.
Kue tok tampak tersaji rapi di meja persembahan altar kelenteng. Kue berwarna merah muda itu diletakkan bersama aneka sajian lain seperti buah-buahan, ayam, telur, ikan, tebu, hingga kue keranjang berbentuk kerucut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seluruh persembahan tertata di atas meja berbalut kain merah, tepat di depan altar utama kelenteng yang dihiasi lilin merah dan ornamen khas Tionghoa.
Sinolog sekaligus Periset Budaya Cina di Lasem, Agni Malagina, menjelaskan bahwa penyebutan kue tok berasal dari bunyi cetakan kayunya saat adonan ditekan.
"Kue ini dipakai untuk persembahan warga Tionghoa ketika hari-hari tertentu. Ada yang namanya kueku, atau di sini dikenal kuetok, karena bunyi cetakannya ketika untuk menumpakan kuenya itu punya bunyi 'tok'," ujar Agni saat diwawancarai detikJateng hari ini.
Simbol Kura-Kura dan Warna Merah
Kue ku identik dengan bentuk kura-kura. Dalam filosofi Tionghoa, kura-kura melambangkan umur panjang dan kebahagiaan. Warna merah yang mendominasi kue ini juga bukan tanpa makna.
"Simbolnya adalah kura-kura, yaitu simbol umur panjang dan kebahagiaan. Biasanya warnanya merah, karena merah melambangkan kebahagiaan dalam kebudayaan Tionghoa," jelasnya.
Kue Tok tersaji di sajian meja altar di Kelenteng Gie Yong Bio saat momentum Imlek 2577, Senin (16/2/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng |
Menurut Agni, kue ku memiliki makna spiritual yang kuat. Sajian ini hampir selalu hadir dalam sembahyang, termasuk saat perayaan Tahun Baru Imlek.
"Contohnya saat sembahyang Imlek, kue ku atau kue kura menjadi salah satu yang wajib ada di meja persembahan," katanya.
Tak hanya Imlek, kue ku juga digunakan dalam ritual kelahiran, pernikahan, hingga berbagai upacara tradisi Tionghoa lainnya sepanjang tahun.
Media Pewarisan Tradisi
Lebih dari sekadar hidangan, kue ku juga mencerminkan relasi sosial di lingkungan keluarga Tionghoa. Proses pembuatannya kerap menjadi ruang transfer pengetahuan lintas generasi.
"Pembuatan kueku biasanya melibatkan para nyonya atau ibu-ibu yang kemudian mengajarkan keterampilan membuat kue ku itu kepada anaknya atau asisten rumah tangganya," tutur Agni.
Tradisi ini, lanjutnya, memperkuat kohesi sosial sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya.
Simbol Keberlanjutan Lingkungan
Menariknya, kue ku juga memiliki kaitan dengan konsep kelestarian lingkungan. Hal ini tercermin dari penggunaan cetakan kayu berbahan keras yang tahan lama.
"Cetakan kue ku biasanya menggunakan kayu bahan keras yang tahan lama, sehingga tidak cepat rusak. Cetakan ini bisa dipakai bertahun-tahun dan bahkan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ungkapnya.
Cetakan kayu tersebut bukan hanya alat produksi, tetapi juga menjadi benda ikonik yang menyimpan nilai sejarah keluarga.
Agni menyimpulkan, kue ku bukan sekadar kudapan tradisional. "Di balik bentuk dan warnanya, tersimpan simbol spiritual, perekat hubungan sosial, sekaligus pesan tentang keberlanjutan lingkungan hidup dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Lasem," pungkas Agni.
(afn/afn)

