Ada Patung 'Pria Jawa' di Altar Kelenteng Lasem, Ini Kisah di Baliknya

Ada Patung 'Pria Jawa' di Altar Kelenteng Lasem, Ini Kisah di Baliknya

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Selasa, 17 Feb 2026 10:32 WIB
Kongco Raden Panji Margono di Altar Kelenteng Gie Yong Bio, Pecinan Babagan, Lasem, Rembang.
Kongco Raden Panji Margono di Altar Kelenteng Gie Yong Bio, Pecinan Babagan, Lasem, Rembang. (Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng)
Rembang -

Lasem tak hanya dikenal sebagai kota pesisir dengan jejak panjang budaya Tionghoa. Di balik perayaan Imlek dan riuh tradisi, tersimpan kisah tentang seorang bangsawan Jawa yang dihormati di lingkungan klenteng. Dialah Raden Panji Margono.

Namanya mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh besar dalam buku sejarah nasional. Namun di Lasem, Rembang, sosok Raden Panji Margono memiliki tempat tersendiri, bahkan diabadikan di altar meja sembahyang Kelenteng Gie Yong Bio, di Pecinan Babagan, Lasem.

Sinolog sekaligus peneliti budaya Cina Lasem, Agni Malagina, menyebut momentum Imlek menjadi waktu yang tepat untuk kembali mengenalkan figur ini kepada publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan momentum Imlek, warga belum banyak tahu tentang sosok Raden Panji Mardjono yang dihormati di kalangan warga Tionghoa di Lasem. Sosok ini sebenarnya tidak terpisahkan dengan cerita sejarah Lasem, terutama terkait Perang Kuning ketika masyarakat Jawa Islam Rembang bersatu melawan VOC," ujarnya.

Dalam catatan sejarah lokal, Perang Kuning menjadi fase penting perlawanan masyarakat Lasem terhadap VOC pada pertengahan abad ke-18. Saat itu, sejumlah tokoh lintas etnis bersatu.

ADVERTISEMENT

Selain Raden Panji Margono, ada Kiai Baidowi, Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wi. Mereka mengikrarkan perlawanan pada hari Jumat, selepas Salat Jumat, sebagai simbol persatuan melawan penjajahan.

Kongco Raden Panji Margono di Altar Kelenteng Gie Yong Bio, Pecinan Babagan, Lasem, Rembang.Kongco Raden Panji Margono di Altar Kelenteng Gie Yong Bio, Pecinan Babagan, Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Menurut Agni, persatuan itu bukan sekadar aliansi politik, melainkan cermin solidaritas lintas identitas di Lasem.

"Kenapa kemudian Raden Panji Margono ditempatkan pada altar di Klenteng Gie Yong Bio? Itu merupakan representasi penghormatan warga Tionghoa, sejak dulu hingga sekarang. Ia dianggap simbol bukan hanya pahlawan, tetapi simbol persahabatan, keberagaman, toleransi, dan rasa saling percaya antar etnis di Lasem pada masa itu," jelasnya.

Raden Panji Margono merupakan putra Tejakusuma V, Adipati Lasem yang memerintah pada 1714-1727. Ia gugur pada 1750 di Karang Pace-Narukan, Lasem Barat. Jenazahnya dimakamkan di Dorokandang, Lasem, yang hingga kini menjadi salah satu situs penting sejarah setempat.

Keberadaannya di altar klenteng menjadi penanda kuat bahwa relasi Jawa dan Tionghoa di Lasem telah terjalin erat sejak ratusan tahun silam. Sosoknya menembus sekat identitas, menjadi figur bersama yang dihormati lintas komunitas.

Kelenteng Gie Yong Bio di Kompleks Pecinan Babagan, Lasem, Rembang, pada momentum Imlek 2577. Foto diunggah Selasa (17/2/2026).Kelenteng Gie Yong Bio di Kompleks Pecinan Babagan, Lasem, Rembang, pada momentum Imlek 2577. Foto diunggah Selasa (17/2/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Bagi Agni, penghormatan terhadap Raden Panji Margono relevan hingga kini. Lasem bahkan kerap dijuluki kota toleransi karena warganya hidup berdampingan dalam keberagaman budaya dan keyakinan.

"Saya kira ini juga representasi bagi kita hari ini. Lasem menjabat julukan kota toleransi, di mana warganya begitu menghormati keberagaman. Mudah-mudahan ini menjadi refleksi di tahun baru, Kuda Api kita tahun ini," tuturnya.

Di tengah arus modernisasi, kisah Raden Panji Margono menjadi pengingat bahwa harmoni sosial bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia dibangun dari sejarah panjang solidaritas, keberanian, dan saling percaya antar warga, warisan yang terus dirawat di Lasem hingga sekarang.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads