Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ratusan warga Desa Karanggude Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, kembali berkumpul di kawasan Makam Kabunan. Mereka menggelar hajat desa tahunan sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa agar diberi kesehatan dan kelancaran menjalani ibadah puasa.
Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Sa'ban atau sepekan sebelum Ramadan itu sudah berlangsung turun-temurun. Tahun ini, warga membawa tasyakuran berupa tujuh ekor kambing, lengkap dengan berbagai hidangan yang dimasak dari rumah masing-masing.
Kasepuhan Makam Kabunan, Rizdan Ahmad Subandi, mengatakan tradisi ini merupakan bentuk syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena masih diberi rezeki dan kesempatan menjalani ibadah Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melaksanakan tiap bulan menjelang Ramadan atau bulan Sa'ban. Karena kita selama satu tahun merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, diberi rezeki sehingga bisa melaksanakan puasa dalam bulan Ramadan," kata Rizdan, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, kambing yang dibawa warga merupakan bagian utama dari tasyakuran. Untuk tahun ini, jumlahnya tujuh ekor.
"Masyarakat berkumpul di sini membawa tasyakuran berupa kambing. Untuk tahun ini sebanyak tujuh ekor kambing. Dan yang lain-lain berupa tasyakuran," ujarnya.
Setelah prosesi doa selesai, seluruh makanan dikumpulkan untuk disantap bersama. Tak hanya warga Karanggude Kulon, sejumlah tamu dari luar desa juga turut hadir.
"Iya, nanti dimakan bareng-bareng. Setiap tahun biasanya ada tamu kasepuhan dari Tinggarwangi, dari desa lain. Ini merupakan hajat desa Karanggude Kulon, hajat tahunan untuk menyambut Ramadan," jelas Rizdan.
Menurutnya, tujuan utama tradisi tersebut adalah memohon keberkahan dan keselamatan kepada Tuhan, agar masyarakat diberi kesehatan jasmani dan rohani serta dimudahkan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah Ramadan.
"Tujuannya memberi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kita diberi kesehatan, jasmani rohani, diberi rezeki yang berkah, dan bisa melaksanakan ibadah-ibadah seperti puasa di bulan Ramadan, salat tarawih dan lain sebagainya," tuturnya.
Sejumlah umat Islam menggelar acara Sadranan menjelang bulan ramadan di kompleks Makam Kabunan, Desa Karanggude Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Kamis (12/2/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Tradisi ini dipusatkan di Makam Kabunan, yang diyakini sebagai makam tokoh penyebar Islam paling awal di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
"Iya, Makam Kabunan. Kabunan itu makam Gusti Sepuh, penyebar Islam di Tanah Jawa khususnya wilayah Karesidenan Banyumas, paling awal sebelum zaman perwalian. Beliau dikenal sebagai Gusti Agung Ingkang Purwokaning Kabunan atau Syech Mahribi," kata Rizdan.
Punya Sederet Pantangan
Menariknya, tasyakuran di Makam Kabunan memiliki sejumlah pantangan yang masih dipegang kuat hingga kini. Salah satunya, jenis hewan kurban harus kambing dan tidak boleh diganti.
"Sudah jadi tradisi harus kambing, tidak bisa digantikan ayam ataupun sapi. Satu kambing satu orang, tapi seikhlasnya, tidak dipaksakan," jelasnya.
Selain itu, seluruh masakan yang dibawa termasuk masakan gulai kambing dilarang dicicipi sebelum prosesi doa selesai.
"Pantangannya itu tidak boleh dicicipi masakan gulainya. Sebelum didoakan, tidak boleh dicicipi. Kalau yang sedang haid juga tidak ke sini," ujar Rizdan.
Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak sehari sebelumnya dengan kerja bakti membersihkan area makam.
"Dari kemarin sudah bersih makam, dilanjutkan hari ini," katanya.
Pelaksanaan tradisi ini juga memiliki penentuan waktu khusus. Biasanya digelar setelah Sadranan di Desa Tinggarwangi, dan selalu jatuh pada hari Kamis, meski tanggal pastinya berubah setiap tahun.
"Ini dilaksanakan setelah Sadranan di Tinggarwangi. Jatuhnya pasti hari Kamis, tapi tidak bisa ditentukan tanggalnya. Yang jelas satu minggu sebelum puasa," jelasnya.
Jumlah kambing yang dibawa warga pun tidak selalu sama. Bahkan, menurut Rizdan, pada masa lalu jumlahnya bisa sangat banyak.
"Dahulu itu pernah sampai 40-an kambing. Tahun kemarin dua kambing, lalu tahun ini tujuh kambing," ungkapnya.
Selain kambing, warga juga membawa lauk-pauk dan nasi dari rumah masing-masing. Seluruh hidangan kemudian dikumpulkan, dicampur, dan dibagikan untuk dimakan bersama.
"Warga juga membawa lauk dan makanan sendiri. Nanti dikumpulkan, kemudian dicampur dan dibagi untuk dimakan bersama," ujarnya.
Diperkirakan, sekitar 1.200 warga ikut terlibat dalam syukuran tersebut. Mayoritas berasal dari Desa Karanggude Kulon.
"Paling tidak warganya yang nanti syukuran sekitar 1.200-an. Sebagian besar warga Karanggude," katanya.
Rizdan juga mengungkap asal-usul penamaan Kabunan. Menurutnya, nama tersebut berasal dari kondisi alam di sekitar makam.
"Kabunan itu berasal dari kata embun, karena di sini sering turun embun. Lokasinya rimbun dan banyak pohon," tuturnya.
Salah satu warga sekaligus keturunan Kabunan, Daryati (39), mengaku tetap menyempatkan pulang untuk mengikuti tradisi meski kini tinggal di Desa Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng.
Menurut Daryati, proses memasak untuk tasyakuran pun harus dilakukan dalam kondisi suci. "Kalau masak itu harus suci, mandi dahulu. Kalau haid juga tidak boleh ikut. Dan masakan tidak boleh dicicipi sebelum didoakan di sini," kata Daryati.
Setiap tahun, kata dia, warga selalu memasak menu sederhana namun khas. "Setiap tahun pasti masak nasi, terus sayur tempe. Dimasak satu-satu, dibawa ke sini, terus nanti dibagi," ujarnya.
Ia mengaku meyakini tradisi tersebut sebagai sarana memohon keselamatan dan keberkahan hidup. "Kalau saya percaya melakukan ritual ini supaya dapat keberkahan dan berkah selamat," tutup Daryati.

