Guyubnya Umat Lintas Agama Ikuti Sadranan di Sidorejo Boyolali

Guyubnya Umat Lintas Agama Ikuti Sadranan di Sidorejo Boyolali

Jarmaji - detikJateng
Jumat, 06 Feb 2026 15:52 WIB
Guyubnya Umat Lintas Agama Ikuti Sadranan di Sidorejo Boyolali
Tradisi Sadranan di Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo,Boyolali, Jumat (6/2/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Tradisi sadranan dilaksanakan warga di berbagai daerah di Boyolali. Termasuk di Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali yang juga diikuti warga nonmuslim.

Sadranan di wilayah ini digelar di kompleks pemakaman umum setempat. Dengan membawa tenong atau tempat makanan berbentuk bulat, mereka berjalan kaki menuju makam.

Untuk menuju makam, warga juga melintasi dua tempat ibadah yang lokasinya berseberangan. Yaitu Musala Amanah dan Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI) Korin Efata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setibanya di halaman makam, tenong yang dibawa dengan cara disunggi itu diturunkan. Tenong itu lalu ditaruh di atas tikar yang digelar di halaman makam. Tenong ditata rapi dan warga duduk bersila mengelilinginya.

ADVERTISEMENT

Setelah warga berkumpul, acara sadranan pun dimulai. Warga kemudian melaksanakan zikir, tahlil dan doa untuk para leluhur. Doa dipimpin tokoh masyarakat setempat, Rosidi.

"Tradisi sadranan ini merupakan kegiatan tahunan. Disini (Dukuh Sidorejo) dilaksanakan setiap tanggal 17 Ruwah atau 17 Syaban itu melakukan kegiatan sadranan. Sadranan merupakan warisan dari leluhur, kita sebagai anak cucu tinggal mengikuti sadranan ini," kata Rosidi kepada para wartawan usai acara, Jumat (6/2/2026).

Dikemukakan dia, dalam sadranan ini tak hanya diikuti warga yang beragama Islam saja. Tetapi warga yang memeluk agama Kristen juga mengikuti.

Tradisi Sadranan di Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo,Boyolali, Jumat (6/2/2026).Tradisi Sadranan di Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo,Boyolali, Jumat (6/2/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng

Rodisi menyebut tujuan tradisi ini untuk mendoakan leluhur. Kedua, sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan Sang Pencipta baik dari bertani, berdagang, dan sebagainya.

Ketiga untuk bersilaturahmi dan bentuk kerukunan beragama di Sidorejo antara umat Islam dan Kristen.

"Kami menjalin kerukunan. Seperti dalam kegotong-royongan, kegiatan sosial di Dukuh Sidorejo ini dilaksanakan bersama-sama baik yang berada Islam maupun Kristen. Dalam sadranan ini, kendurinan juga bersama-sama," jelas Rosidi.

Dia menyebut toleransi antarumat beragama sudah terbangun sejak lama di kampungnya. Dia menyebut dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, warga selalu kompak.

"Yang tidak bisa disatukan tentu adalah ibadahnya. Tetapi untuk gotong-royong dan kegiatan masyarakat, baik Islam dan Kristen selalu rukun," imbuh dia.

Salah satu warga beragama Kristen di Dukuh Sidorejo, Suparno (48), mengaku tak mempermasalahkan doa dalam tradisi sadranan dilakukan secara Islam. Baginya, saat doa itu pihaknya tinggal menyesuaikan saja.

"Kalau sadranan ya memang untuk muslim sih, tapi kita sebagai umat nasrani juga mengikuti (tradisi sadranan). Yang namanya adat istiadat kan nggak boleh ditinggalkan. Hidup bertetangga harus saling rukun, berdampingan. Jadi kita harus bersatu," kata Suparno.

Menurut dia, pemeluk Kristen di Dukuh Sidorejo sudah lama ada, sekitar 50 tahun. Dia mencatat saat ini ada sekitar 60 orang yang memeluk agama Kristen.

Toleransi dan kerukunan tak hanya dalam tradisi sadranan, tapi dalam kehidupan sosial. Saat Lebaran umat Kristen juga silaturahmi ke warga muslim, begitu juga saat Natal.

"Saat Lebaran, kami juga silaturahmi ke desa-desa ke tempat yang lain (warga muslim). Saat Natal, mereka juga berkunjung ke kami," pungkasnya.




(ams/aku)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads