Arus lalu lintas tampak di jalur wisata Solo-Selo-Borobudur (SSB), khususnya di wilayah Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, nampak padat hari ini. Sebab, banyak warga akan melakukan tradisi nyadran.
Hari ini sejumlah desa di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali menggelar tradisi sadranan. Antara lain di Desa Sukabumi dan Mliwis.
Nyadran di wilayah ini selain mendoakan leluhur, ada juga tradisi silaturahmi kepada saudara, kerabat hingga teman. Seperti dalam perayaan Idul Fitri, warga menggelar open house.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyaknya warga dari berbagai daerah yang akan bersilaturahmi ini, sehingga jalan-jalan pun terlihat cukup padat oleh kendaraan bermotor. Baik sepeda motor maupun mobil.
Dari pantauan detikJateng, Rabu (4/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, kepadatan arus lalu lintas tersebut mulai tampak di jalan Boyolali-Cepogo. Keramaian terlihat mulai dari traffic light perempatan Surowedanan, Boyolali Kota.
Kendaraan dari arah barat ke timur (Cepogo-Boyolali) maupun sebaliknya, terpantau cukup ramai lancar. Kepadatan mulai tampak di sekitar Kantor Kecamatan Cepogo.
Cukup banyak kendaraan mobil yang parkir di pinggir jalan dan ditinggal silaturahmi ke kerabat maupun teman di wilayah Desa Mliwis itu.
Kemudian di pertigaan jelang Alun-alun Pancasila, tampak sejumlah anggota Banser mengatur lalu lintas kendaraan yang akan keluar masuk Desa Sukabumi dari jalan Boyolali-Cepogo. Arus lalulintas sedikit tersendat di depan Pasar Sayur Cepogo.
Suasana arus lalin di jalan Boyolali - Cepogo, dekat Pasar Sayur Cepogo, Boyolali terpantau ramai, Rabu (4/2/2026) siang. Foto: Jarmaji/detikJateng |
Meski demikian, kepadatan arus lalu lintas itu tidak sampai menimbulkan kemacetan. Antrian panjang kendaraan justru tampak di traffic light Surowedanan, khususnya yang dari arah Cepogo menuju Boyolali. Sekitar pukul 14.30 WIB tadi, antrian kendaraan mengular hingga mencapai sekitar 700 meter.
Selain di jalan Boyolali-Cepogo itu, keramaian arus lalu lintas juga tampak di jalan-jalan kampung. Di halaman setiap rumah, tampak cukup ramai kendaraan yang parkir warga yang bersilaturahmi.
Keramaian ini diperkirakan akan terjadi hingga sore bahkan malam hari nanti. Karena warga menggelar open house juga sampai malam.
"Sampai malam, kalau saya (open house) sampai sekitar pukul 21.00-22.00 WIB," kata Wahyono, warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Rabu (4/2/2026).
Layaknya Idulfitri, dalam open house sadranan ini warga juga menyuguhkan berbagai aneka kue dan makan.
Tokoh masyarakat Desa Sukabumi, Maskhuri, mengungkapkan dalam sadranan ini ada tradisi mendoakan leluhur. Kemudian, saudara-saudara yang jauh juga ikut berkumpul, untuk mendoakan bersama para orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia.
"Setelah itu, yang punya tempat di sini (tuan rumah), nyuguh, menjamu dengan menggunakan tenong berisi makanan-makanan tradisional yang dibuat sendiri, untuk menjamu saudara, famili atau siapapun yang ziarah atau mendoakan leluhur," kata Maskhuri, menjelaskan awal mula tradisi saling silaturahmi dalam kegiatan sadranan.
Setelah selesai ziarah ke makam leluhur itu, mereka kemudian datang atau mampir ke tempat saudaranya masing-masing. Mereka pun dijamu lagi.
"Akhirnya saudara yang jauh-jauh ini datang ke sini kan juga membawa teman. Makanya ada tradisi selain kirim leluhur di makam, berdoa bersama, mendoakan para leluhur, kemudian silaturahmi ke tempatnya saudara-saudara tersebut dengan diikuti teman-teman kerabatnya," jelasnya.

