Merawat Sadranan Tenongan di Glagahwangi Klaten

Merawat Sadranan Tenongan di Glagahwangi Klaten

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Senin, 09 Feb 2026 07:28 WIB
Merawat Sadranan Tenongan di Glagahwangi Klaten
Budaya Sadranan tenongan di Glagahwangi, Polanharjo Klaten, Minggu (8/2/2026). (Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Warga RW 5 Desa Glagahwangi, Kecamatan Polanharjo, Klaten tadi siang menggelar tradisi Sadranan. Uniknya, acara Sadranan atau Ruwahan di wilayah tersebut menggunakan tenong, wadah makanan dari anyaman bambu sebagai ikon.

Diawali sebelum zuhur warga berkumpul di jalan selatan makam kampung. Warga yang jumlahnya ratusan berdatangan beserta keluarganya.

Setiap kepala keluarga meletakkan tenong atau wadah makanan berbentuk lingkaran dari anyaman bambu di kepala. Isinya nasi ingkung, buah, sayur dan jajan pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar 400 tenong dijajar di tengah jalan. Setelah semua warga berkumpul, acara didahului dengan doa bersama untuk memohon keselamatan.

Budaya Sadranan tenongan di Glagahwangi, Polanharjo Klaten, Minggu (8/2/2026).Budaya Sadranan tenongan di Glagahwangi, Polanharjo Klaten, Minggu (8/2/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

Usai berdoa, makanan tersebut ada yang dibagikan, dimakan, saling tukar-menukar dan dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. Tidak hanya warga lokal, para perantau juga pulang.

ADVERTISEMENT

"Untuk peserta tahun ini sekitar 400 tenong. Setiap satu KK satu tenong,'' ungkap ketua panitia, Wuryanto kepada detikJateng, Minggu (8/2/2026) siang.

Diceritakan Wuryanto, Sadranan Tenongan digelar di RW 5 dengan peserta warga RT 8 dan 14. Sadranan bertepatan dengan tanggal 20 bulan Jawa Ruwah.

"Dilaksanakan pada setiap 20 Ruwah. RW lain mungkin sudah tidak pakai tenong atau tinggal sebagian tapi di wilayah kami mempertahankan penggunaan Tenong, " jelas Wuryanto.

Penggunaan wadah tenong itu, lanjut Wuryanto, untuk nguri-uri (merawat) tradisi yang sudah turun-temurun. Peralatan rumah tangga itu juga warisan sesepuh yang harus dirawat.

Budaya Sadranan tenongan di Glagahwangi, Polanharjo Klaten, Minggu (8/2/2026).Budaya Sadranan tenongan di Glagahwangi, Polanharjo Klaten, Minggu (8/2/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

"Tenong kan warisan sesepuh jadi kita jaga meskipun banyak wadah lain. Selain itu juga aman dan praktis," imbuhnya.

Irwan, seorang warga mengatakan tradisi di dusunnya sudah turun-temurun. Malam sebelum Sadranan di lokasi juga diadakan dzikir dan doa bersama.

"Malam sebelumnya kita doa dan dzikir tahlil dan paginya tenongan. Yang warga perantauan pulang untuk Sadranan tiap tahun," imbuhnya.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads