Tujuan Tradisi Supitan, Upacara Adat Jawa bagi Laki-laki yang Khitanan

Tujuan Tradisi Supitan, Upacara Adat Jawa bagi Laki-laki yang Khitanan

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Kamis, 08 Jan 2026 08:00 WIB
Tujuan Tradisi Supitan, Upacara Adat Jawa bagi Laki-laki yang Khitanan
Ilustrasi khitanan. (Foto: Getty Images/simon2579)
Solo -

Tradisi supitan merupakan salah satu upacara adat dalam budaya Jawa yang masih dijalankan hingga kini, khususnya bagi anak laki-laki yang akan menjalani khitanan. Upacara ini tidak sekadar dimaknai sebagai tindakan medis, tetapi juga sebagai peristiwa budaya yang sarat nilai simbolis dan sosial. Melalui rangkaian prosesi yang terstruktur, supitan menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat Jawa.

Dalam pelaksanaannya, tradisi supitan melibatkan keluarga, kerabat, hingga masyarakat sekitar. Setiap tahapan, mulai dari persiapan hingga tasyakuran, mengandung makna mendalam yang berkaitan dengan pendidikan karakter, penguatan nilai religius, serta penanaman tanggung jawab pada diri anak. Keterlibatan lingkungan sekitar juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan dalam tradisi ini.

Oleh karena itu, berikut adalah tujuan tradisi supitan, upacara adat bagi laki-laki yang khitanan, lengkap dengan pengertian hingga tata cara pelaksanaannya yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Tradisi Supitan?

Tradisi supitan adalah sebuah upacara adat daur hidup masyarakat Jawa yang khusus dilakukan bagi anak laki-laki. Pelaksanaan tradisi supitan berupa sunatan/khitanan yang sekaligus dirayakan secara adat dalam bentuk upacara budaya.

ADVERTISEMENT

Dalam tradisi ini, sunat bukan hanya praktik medis, tetapi merupakan bagian dari ritual budaya penting dalam kehidupan seorang anak laki-laki sebelum memasuki masa dewasa. Menurut laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, supitan juga dikenal dengan istilah sunatan, tetakan, atau khitanan, yang merupakan bagian dari tradisi upacara kehidupan.

Upacara ini biasanya dilakukan pada anak laki-laki sebelum usia dewasa (sekitar usia 10-16 tahun) dan melibatkan berbagai prosesi adat seperti rembug keluarga, gotong-royong, siraman, dan kegiatan doa bersama (slametan).

Tujuan Tradisi Supitan

Berikut adalah beberapa tujuan dari tradisi supitan yang sudah dirangkum dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan publikasi Upacara Supitan di Desa Mojogebang Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto oleh Nur Yati.

  1. Sebagai bentuk sodaqoh atau sedekah, yakni persembahan yang diwujudkan melalui pemberian makanan kepada masyarakat sekitar.
  2. Memohon keselamatan bagi anak yang menjalani supitan agar terhindar dari mara bahaya.
  3. Melambangkan pembersihan diri (penyucian) dari kotoran atau unsur yang dianggap tidak suci, baik secara fisik maupun spiritual.
  4. Menandai peralihan tahap kehidupan, yaitu perubahan status anak laki-laki menuju fase kehidupan yang lebih dewasa.
  5. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kesehatan dan kesiapan anak dalam menjalani supitan.
  6. Memberikan persembahan makanan, seperti bubur merah dan bubur putih, tumpeng, nasi golong, nasi kuning, serta kue-kue besar beraneka warna.
  7. Menghormati saudara yang telah meninggal dunia melalui sajian dan doa.
  8. Sebagai persembahan kepada danyang atau penjaga tempat yang dianggap keramat, mencerminkan unsur animisme, dinamisme, Hindu, dan Buddha.
  9. Mewujudkan nilai-nilai Islam melalui sedekah sebagai bagian dari rangkaian penyucian jiwa dan raga.
  10. Dilengkapi dengan laku spiritual, berupa puasa selama 37 hari yang ditambah puasa tiga hari sebagai simbol pengendalian diri dan pembersihan batin.

Tata Cara Tradisi Supitan

Berikut adalah tata cara tradisi supitan yang dikutip dari buku Panduan MC & Ragam Sambutan dalam Bahasa Jawa Oleh Rifa Hanafi & Damaya.

1. Ater-ater

Pihak keluarga yang memiliki hajat membagikan hidangan kepada warga sekitar sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus pemberitahuan dan undangan untuk menghadiri tasyakuran supitan anaknya. Proses ini biasanya dibantu oleh tetangga dan kerabat yang ikut rewang atau membantu jalannya hajatan di rumah orang tua anak yang akan disupit. Pada waktu yang sama, tenda serta berbagai perlengkapan dan dekorasi mulai dipasang di lokasi acara.

2. Siraman

Prosesi siraman dilakukan sebagai simbol penyucian diri anak sebelum menjalani khitan. Tahapan ini dimaknai sebagai pembersihan lahir dan batin agar anak siap secara fisik maupun mental.

3. Selamatan

Dalam prosesi selamatan, keluarga, kerabat, dan tetangga terdekat berkumpul untuk membaca kitab suci serta memanjatkan doa bersama demi kelancaran dan keselamatan anak selama menjalani supitan.

4. Pingitan

Menjelang hari pelaksanaan supitan, anak biasanya menjalani pingitan atau masa tinggal di rumah tanpa beraktivitas di luar. Anak ditemani oleh para sesepuh dan tetangga sebagai bentuk perlindungan dari pengaruh negatif, sekaligus persiapan mental dan fisik sebelum disupit.

5. Sungkeman

Sebelum prosesi supitan dilaksanakan, anak melakukan sungkeman kepada orang tuanya. Tahapan ini dimaksudkan untuk memohon doa restu agar seluruh rangkaian supitan berjalan dengan baik dan lancar.

6. Supitan

Prosesi supitan umumnya diawali dengan kirab keliling kampung, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan khitan. Proses ini dilakukan dengan membuang sebagian kulit pada alat kelamin hingga bagian kepala terlihat. Saat ini, metode supitan sudah menggunakan teknik modern sehingga proses penyembuhan anak relatif lebih cepat.

7. Tasyakuran

Setelah seluruh rangkaian supitan selesai, keluarga menggelar acara tasyakuran sebagai ungkapan rasa syukur karena prosesi telah berlangsung dengan lancar. Acara ini biasanya dikemas dalam bentuk resepsi, dipandu oleh pembawa acara, serta diisi dengan tausiah dari tokoh agama atau pendakwah yang dihadiri oleh para tamu undangan.

Sebagai warisan budaya yang sarat makna, tradisi supitan tidak hanya menandai prosesi khitanan bagi anak laki-laki, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nilai religius, sosial, dan moral yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga tetap relevan untuk dipahami dan dilestarikan di tengah perkembangan zaman. Semoga Bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/dil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads