Tradisi Wiwitan, Cara Petani Jawa Mengungkapkan Syukur Saat Musim Panen Tiba

Tradisi Wiwitan, Cara Petani Jawa Mengungkapkan Syukur Saat Musim Panen Tiba

Khofifah Azzahro - detikJateng
Rabu, 07 Jan 2026 08:01 WIB
Tradisi Wiwitan, Cara Petani Jawa Mengungkapkan Syukur Saat Musim Panen Tiba
Tradisi wiwitan. (Foto: Dok. detikcom)
Solo -

Tradisi wiwitan adalah salah satu bukti dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, tradisi ini berbentuk sebuah ritual atau persembahan atas rasa syukur serta penghormatan kepada alam beserta sang pelindungnya. Ritual ini dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun, khususnya mereka yang berprofesi sebagai petani maupun mereka yang bergantung pada hasil alam.

Pada dasarnya tradisi ini memiliki tujuan yang mulia yang sekaligus dapat menumbuhkan rasa solidaritas antar masyarakat. Meski masih dijumpai di daerah pedesaan dan lestari hingga saat ini, di era modern tradisi wiwitan mulai jarang ditemukan karena dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kepercayaan yang dianut oleh masyarakat.

Oleh karena itu dalam rangka upaya melestarikan dan mempertahankan kearifan lokal, berikut adalah penjelasan mengenai tradisi wiwitan yang mulai jarang ditemukan menurut laman Berita Magelang yang dikelola oleh Diskominfo Kabupaten Magelang dan laman Kalurahan Salam Kabupaten Gunungkidul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Filosofi Tradisi Wiwitan

Tradisi wiwitan merupakan bentuk syukur dan terima kasih kepada Sedulur Sikep dan Dewi Sri yang dipercaya sebagai Dewi Kesuburan. Sedulur Sikep bagi masyarakat Jawa adalah bumi itu sendiri, karena dianggap sebagai saudara dari umat manusia sehingga harus dihormati dan dilestarikan.

ADVERTISEMENT

Sedangkan Dewi Sri, di Indonesia dikorelasikan dengan mitos asal-muasal tumbuhan, terutama tanaman padi sehingga namanya terkenal dalam ritual kesuburan yang dilakukan oleh komunitas kultural agraris di Nusantara.

Wiwitan sendiri berasal dari kata "wiwit" yang berarti "mulai", oleh karena itu dalam konteks tradisi ini, ritual akan dimulai sesaat sebelum proses memotong padi sebelum panen. Jadi tradisi wiwitan banyak dilakukan saat memasuki musim panen.

Fungsi dan Tujuan Tradisi Wiwitan

Pelaksanaan dari tradisi wiwitan ini bukanlah hanya sebuah simbol untuk melaksanakan kebiasaan yang merupakan tinggalan leluhur atau nenek moyang. Akan tetapi memiliki makna mendalam, karena merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan atau ang pencipta alam semesta.

Bersama dengan tradisi wiwitan, masyarakat khususnya petani memohon supaya hasil panen dari proses pertanian sebelumnya dapat berhasil dan memberikan hasil bumi yang melimpah.

Tidak hanya itu, tradisi ini juga ditujukan agar proses pertanian dan hasil produksi dapat dijauhkan dari hambatan atau halangan yang dapat menyebabkan gagal panen, sehingga hasil bumi yang diperoleh dapat memberikan keberkahan serta manfaat untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

Prosesi Tradisi Wiwitan

Prosesi dari tradisi wiwitan dipimpin oleh seseorang yang dituakan di daerah tersebut. Acara ini boleh diikuti oleh setiap warga tanpa terkecuali dengan menggunakan pakaian adat atau tradisional dan membawa ubarampe yang telah disiapkan oleh warga sebelumnya.

Ubarampe yang disiapkan berupa ingkung ayam, jajanan pasar, dan tumpeng. Untuk perlengkapan ritual lainnya yakni berupa kendi yang berisi air, ani-ani (alat untuk memotong padi), bunga mawar, kemenyan, serta kain jarik untuk membungkus hasil padi yang sudah dipetik oleh tetua.

Prosesi diawali dengan para petani yang berkumpul, kemudian berjalan atau berkarnaval menuju areal persawahan. Kemudian ketika sudah sampai di areal persawahan, tetua memulai prosesi dengan berdoa yang kemudian dilanjutkan dengan memotong sebagian padi sebagai tanda padi sudah siap dipanen.

Setelah ritual selesai dilakukan, maka biasanya para petani membagikan hidangan ubarampe yang sebelumnya telah disiapkan kepada warga sekitar yang ikut hadir dalam prosesi ritual. Makanan yang disajikan antara lain berupa nasi gurih, sayur nangka, krupuk, tahu tempe, peyek, teri, ayam kampung serta jajan kecil seperti telur, thonto (makanan olahan kelapa), dan biasanya dibungkus dengan daun pisang atau daun jati.

Nilai Moral Tradisi Wiwitan

Ritual wiwitan memiliki arti lebih dari sekadar tradisi, dalam pelaksanaannya terdapat nilai-nilai yang dapat dipetik terutama dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya adalah perasaan untuk lebih menghargai dan menjaga alam, menumbuhkan sikap toleransi atas kepercayaan dan adat istiadat orang lain, meningkatkan semangat gotong-royong dan saling membantu, serta mengedepankan nilai spiritual dengan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang dihasilkan oleh alam.

Jadi itulah penjelasan tentang tradisi wiwitan yang merupakan tradisi masyarakat Jawa dalam rangka mengungkapkan syukur saat musim panen tiba. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/apu)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads