Mengenal Tedak Siten, Tradisi di Masyarakat Jawa yang Kian Terlupakan

Mengenal Tedak Siten, Tradisi di Masyarakat Jawa yang Kian Terlupakan

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 27 Sep 2022 00:00 WIB
ilustrasi kaki O pada bayi
Ilustrasi bayi belajar berjalan. Foto: Getty Images/iStockphoto
Solo -

Masyarakat yang hidup dalam tradisi Jawa mengenal banyak upacara adat di dalam hidupnya. Ada berbagai upacara adat yang harus dijalani, sejak seseorang masih dalam kandungan hingga setelah meninggal.

Salah satunya adalah upacara adat tedak siten. Upacara ini dilakukan saat seorang bayi sudah mulai belajar berjalan. Biasanya, tradisi ini dilakukan saat bayi berusia 6-7 bulan.

Dalam artikel Nilai-nilai Pendidikan Optimisme pada Tradisi Tedhak Siten di Masyarakat Jawa yang diterbitkan di Journal of Education, Humaniora and Sciences (Vol 3, No 2, 2020), Anwar Hafidzi menulis bahwa masyarakat pada masa lalu menganggap upacara ini sangat penting.


Bahkan, ada kekhawatiran bahwa seorang anak akan menjadi manja dan tidak mandiri jika saat bayi tidak dilakukan upacara adat ini. Namun pada saat ini sudah semakin terlupakan.

Di dalam jurnal tersebut Anwar menulis banyak tahapan serta perlengkapan yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan upacara adat tedak siten. Perlengkapan yang utama adalah kurungan, tebu merah, makanan jadah (terbuat dari ketan) tujuh warna, jembangan atau bak mandi, serta berbagai benda untuk menyimbolkan kegemaran anak di masa depan.

Upacara dimulai dengan membimbing anak untuk menginjak makanan jadah tujuh warna. Kemudian dia dibimbing untuk berjalan di anak tangga yang terbuat dari susunan tebu merah.

Selanjutnya, anak tersebut diajak masuk ke dalam kurungan. Di dalam kurungan sudah disiapkan beberapa benda untuk menyimbolkan kegemaran anak di masa depan, misalkan padi, kapas, alat tulis hingga bokor berisi uang.

Di dalam kurungan itu anak akan memilih atau memegang benda yang disukai. Masyarakat mempercayai bahwa benda yang dipegang akan menyimbolkan masa depan anak atau pekerjaan yang akan dijalani kelak.

"Misalnya, apabila anak mengambil alat tulis, maka menurut kepercayaan anak tersebut akan menjadi anak yang sangat cerdas," tulisnya dalam jurnal tersebut.

Setelah selesai, anak itu akan dimandikan dengan dengan air bunga yang telah disediakan di jembangan dan kemudian dipakaikan baju yang bagus.

Adapun tujuan dari penyelenggaraan upacara ini adalah memohon kepada Tuhan agar melimpahi keselamatan bagi anak dalam menjalani kehidupan di masa depan.



Simak Video "Melihat Sakralnya Upacara HUT ke-152 Kabupaten Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/apl)