Riwayat Batik Kliwonan Sragen, Bermula dari Desa Buruh Para Saudagar

Riwayat Batik Kliwonan Sragen, Bermula dari Desa Buruh Para Saudagar

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 22 Sep 2022 02:08 WIB
Membatik dengan menggunakan canting dan lilin.
Ilustrasi membatik. Foto: Thinkstock
Solo -

Desa Kliwonan yang berada di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dikenal sebagai salah satu sentra industri batik. Selama lebih dari seabad warga di desa tersebut sudah terbiasa bergelut dengan canting dan malam.

Dikutip dari artikel Keberadaan Batik Kliwonan di Kabupaten Sragen yang dimuat di Jurnal Dewa Ruci (Vol 6, No 1, 2009), batik di Desa Kliwonan sudah berkembang sebelum tahun 1880. Di jurnal tersebut, Tiwi Bina Affanti menuliskan perkembangan batik di Kliwonan tak lepas dari keberadaan Bengawan Solo yang melintas di desa itu.

Pada masa pemerintahan Keraton Surakarta Hadiningrat, kawasan Laweyan sudah menjadi salah satu pusat industri batik yang sangat besar. Mereka harus mendatangkan buruh batik dari berbagai daerah untuk bisa memenuhi permintaan.


Salah satu daerah yang menjadi penyedia buruh batik dalam jumlah besar adalah Desa Kliwonan. Di sela-sela aktivitas bertani, mereka berdatangan ke Laweyan untuk menjadi buruh batik.

Keberadaan Bengawan Solo sangat mendukung aktivitas tersebut. Pada saat itu, sungai terpanjang di Jawa itu menjadi pusat transportasi. Para buruh berangkat ke tempat para saudagar batik di Laweyan melalui jalur transportasi sungai.

Namun, keterbatasan lahan pabrik batik di Laweyan menjadi masalah tersendiri. Kebanyakan pabrik sudah tidak mampu menampung tenaga kerja pembatik yang cukup banyak. Solusinya, para buruh batik dari Kliwonan memilih menggarap pekerjaannya di rumahnya masing-masing.

Kondisi itu menjadikan Bandar Juragan yang ada di Desa Kliwonan menjadi salah satu bandar yang cukup sibuk. Bandar itu menjadi tempat bagi para saudagar mengirimkan bahan-bahan untuk membuat kain batik.

Sebaliknya, bandar itu juga menjadi tempat bagi para buruh batik di Kliwonan untuk mengirimkan hasil produksinya ke Kota Praja.

Keahlian para buruh di Kliwonan untuk membuat batik halus khas Kota Surakarta membuat produksi di daerah itu berkembang pesat. Apalagi, keberadaan Bengawan Solo membuat proses pembatikan yang membutuhkan banyak suplai air tidak memiliki kendala.

Setelah era kemerdekaan, para buruh banyak yang mulai mengembangkan usahanya sendiri. Mereka memilih menjadi saudagar di kampungnya sendiri.

Motif batik yang dikembangkan juga masih sama dengan motif-motif klasik gaya Surakarta, seperti parang, truntum, wahyu tumurun, sidamukti dan sejenisnya. Pemerintah daerah setempat juga terus mempromosikan batik asal Kliwonan tersebut dengan brand Batik Sukowati, julukan dari Kabupaten Sragen.



Simak Video "Diduga Hina Batik, Pendukung Sayap Kanan Inggris Tuai Kecaman"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/sip)