Di kawasan Aloon-aloon Masjid Agung Kota Semarang ada jasa cuci mata. Harganya pun murah meriah, seperti apa?
Jasa cuci mata ini dilakukan Muhammad Alwi (45). Dia menggunakan air rebusan herbal racikannya. Para pelanggan cukup membayar Rp 5 ribu untuk kedua bola mata.
Pantauan detikJateng, Rabu (15/4/2026) sore, tampak lalu lalang kendaraan yang melintas di Jalan Pemuda Semarang. Alwi tengah duduk di sebuah kursi berwarna biru dan menunggu pelanggan datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alwi pun ramah mengumbar senyum menyapa warga yang melintas. Di balik punggungnya ada seperangkat alat pencuci mata seperti botol berisi air rebusan sirih, tisu, dan nierbeken tertata rapi di sebuah koper di atas meja berukuran 1x1 meter.
Tak lama, datang seorang pemuda yang mendekatinya. "Cuci mata, Pak," ujar laki-laki bernama Ikhsan (27) ini.
Alwi pun langsung menggeser kursi agar diduduki pelanggannya itu. Pria itu sempat kebingungan saat Alwi menyodorkan nierbeken yang biasa digunakan untuk medis.
Setelahnya Alwi tampak mengambil sebotol obat tetes mata kecil dan diteteskan ke kedua mata pasiennya. Dengan sigap, Alwi menyiapkan selang bening yang tersambung ke sebuah botol kaca berisi air rebusan sirih. Botol tersebut digantung di sebuah kayu bak infus.
Nierbeken telah dipegang lelaki tersebut dan diletakkan di bawah dagunya. Proses pencucian mata dimulai. Alwi pun menyemprot mata kanan pria itu dengan air rebusan sirih.
Mata pria tersebut berkedip-kedip saat disemprot. Dengan lembut, Alwi memijat kelopak mata pria itu. Tetesan air itu pun ditampung ke nierbeken. Setelahnya gantian mata kiri yang dicuci oleh Alwi.
Setelah rampung, pria itu pun mengelap wajahnya yang basah dengan sehelai tisu yang disodorkan Alwi. Selembar uang Rp 5.000 pun diberikan kepada Alwi.
"Rasanya agak perih, tapi lumayan segar," kata Ikhsan usai menjajal cuci mata ini.
Muhammad Alwi melayani pasien cuci mata di sekitar Aloon-aloon Semarang, Rabu (15/4/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Ikhsan penasaran dengan jasa cuci mata itu. Dia pun langsung mencoba jasa yang ditawarkan Alwi.
"Tahunya dari medsos, sih. Ya, penasaran terus coba," ungkapnya sembari terkikih.
Ikhsan merasa sedikit perih saat matanya disemprot. Namun setelahnya, dia merasa pandangannya sedikit terang.
"Sedikit perih pas disemprot. Tapi habis itu langsung terang rasanya. Nggak ada rasa efek samping, sih, setelahnya. Nggak khawatir juga," tuturnya.
Tak hanya ikhsan, seorang pria yang sudah berkepala empat bernama Ari juga mencuci matanya. Ari yang baru saja motoran dari Kendal ini merasa matanya terpapar debu jalanan. Dia pun memutuskan untuk langsung mampir ke tempat Alwi biasa melapak.
"Dari Kendal kayak ganjel itu loh, langsung ke sini dibersihkan, cerah lagi. Dari Kendal naik motor, habis dari luar kota ke sini, dibersihin," kata Ari.
Ari mengaku pengalaman cuci mata dari Alwi sore ini bukan pertama kalinya. Dia telah menjadi pelanggan Alwi sejak tiga tahun lalu.
"Saya terakhir dua mingguan (mencuci matanya ke Alwi). Tiga tahunan ada (mulai mencuci mata ke Alwi)," tuturnya.
Ari mengaku tak khawatir dengan bahan herbal yang digunakan Alwi. Selama ini, dia mengaku tidak ada keluhan.
"Nggak (tidak merasakan efek samping), ini kan herbal. Kalau saya plus, jadi habis ditetesin bagus. Ya, kayak kotoran keluar semua, ini malah lebih jelas lihatnya," ucapnya.
Sensasi Menjajal Cuci Mata
detikJateng pun mencoba jasa cuci mata yang ditawarkan Alwi. Saat pertama kali disemprot air rebusan sirih, mata terasa sedikit perih.
Bagian bawah kelopak mata terasa rileks ketika dipijat Alwi. Rasa perih berangsur menghilang usai terus disemprot.
Tercium aroma sirih saat air mengalir dari mata ke pipi. Ada sedikit rasa sepat saat tetesan air itu terkena mulut.
Usai dicuci, tampak pandangan sedikit terang. Mata juga tidak terasa kering, dan tidak terasa perih.
Jasa Warisan Bapak Sejak 1960-an
Alwi mengatakan jasa cuci mata tersebut awalnya merupakan bisnis yang digeluti ayahnya sejak 1960-an. Alwi menuturkan awalnya sang ayah membuka lapak cuci mata di sekitar Pasar Johar, tak jauh dari lapaknya sekarang. Dia pun mengaku meneruskan usaha cuci mata itu sejak 2016.
"Udah dari tahun '60. Dari ayah, ayah kan terjun dari Pasar Johar yang dulu," kata Alwi.
Dia menyebut herbal yang digunakan merupakan air rebusan daun sirih yang didinginkan.
"Daun sirihnya direbus berapa jam, tunggu sampai dingin, habis itu dimasukkan di botol. Aku nggak pakai berapa, beli Rp 5.000 dipakai, nggak berapa liter," kata Alwi.
Alwi juga biasa mencuci matanya. Dia biasanya meminta tolong kakaknya untuk mencuci matanya.
"(Biasa cuci mata sendiri?) Iya, dicuci sama kakak," terangnya.
Jasa cuci mata itu dia buka setiap hari sejak pukul 15.00 hingga 21.00 WIB di tempat yang sama. Jumlah orang yang memanfaatkan jasanya pun tak tentu. Biasanya Alwi meraup uang sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per harinya.
"Kalau ramai Rp 50 ribu, kalau sepi ya Rp 30 ribu-Rp 20 ribu. Ada (orang) yang baru (coba), ada pelanggan. Kalau pelanggan biasanya usia tua. Banyak (jumlah pelanggannya), ada dari Genuk, ada dari Kaligawe, Semarang semua," sebutnya.

