Dilema Penjual Es Teh Semarang Dampak Plastik Mahal: Antara Rugi atau Sepi

Dilema Penjual Es Teh Semarang Dampak Plastik Mahal: Antara Rugi atau Sepi

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 10 Apr 2026 19:56 WIB
Warung Es Teh Ningrat di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026).
Warung Es Teh Ningrat di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Kenaikan harga plastik membuat penjual es teh Rp 3 ribu terpaksa menaikkan harga, terutama untuk es teh yang menggunakan kemasan gelas plastik. Sementara jika pakai botol minum sendiri atau tumbler, harga es teh tetap Rp 3 ribu.

Di warung Es Teh Ningrat di Gayamsari milik Elok (31), harga es teh naik hingga 1.000 per cup. Namun, ada pengecualian bagi pembeli yang membawa wadah sendiri.

"Harganya naik bertahap dari Rp 500 sampai Rp 1.000. Tapi kalau pakai tumbler sendiri bisa sih, nanti tetap Rp 3.000. Karena nggak pakai cup jadi lebih murah," kata Elok kepada detikJateng di Gayamsari, Jumat (10/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Elok menyebut, kenaikan harga es tehnya itu dikarenakan harga plastik yang sudah sangat mahal di pasaran. Mau tak mau, ia harus menaikkan harga bagi pembeli yang menggunakan cup plastik.

"Harga cup itu naik banget. Dulu per slop sekitar Rp 13 ribu, sekarang jadi Rp 23 ribu. Pernah bahkan sehari naik sampai tiga kali. Dari Rp 17 ribu, Rp 19 ribu, Rp 20 ribu, sekarang Rp 23 ribu," ujar Elok.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kenaikan harga plastik terjadi dalam waktu singkat dan cukup signifikan. Bahkan, untuk beberapa jenis plastik, kenaikannya bisa mencapai dua kali lipat.

"Yang dari Rp 4 ribu jadi Rp 8 ribu juga ada. Jadi kerasa banget ke modal," katanya.

Kondisi ini membuat keuntungan usahanya menurun. Di sisi lain, menaikkan harga terlalu tinggi juga berisiko membuat pembeli kabur, terutama karena es teh milik Elok dijual di wilayah perkampungan.

"Kalau es teh di jalan raya dinaikkan pasti kan tetap ada yang beli. Kalau ini karena di kampung mau dinaikkan takut nggak laku, tapi kalau nggak dinaikkan ya rugi. Jadi serba salah," ucapnya.

Selain plastik, harga gula juga ikut naik dari Rp 16.500 menjadi Rp 19.000 per kilogram dalam sepekan terakhir.

"Gulanya juga naik sejak minggu lalu. Naiknya sampai Rp 3 ribu, nggak tahu karena apa. Inginnya sih turun lagi biar mempermudah penjualan UMKM," harapnya.

Kenaikan harga es teh itu juga terjadi di angkringan milik Nafisa (47), di Semarang Delatan. Sama seperti di Teh Ningrat, kenaikan harga hanya berlaku untuk minuman yang menggunakan cup plastik.

"Kalau pakai cup, harga naik. Dari Rp 3.000 jadi Rp 4.000. Tapi kalau pakai tumbler sendiri atau gelas minum di sini, ya tetap Rp 3.000," kata Nafisa kepada detikJateng.

Ia menyebut harga cup plastik yang dibelinya juga melonjak sekitar 70-80 persen sejak awal April. Namun, ia baru menaikkan harga di pekan ini.

"Cup plastik itu dari sebelumnya Rp 13-14 ribu sekarang sudah naik menjadi Rp 21-23 ribu per slop isi 10. Kan beda-beda ya harganya di tiap toko, tapi segituan lah," ujarnya.

Meski harga plastik naik, Nafisa mengaku tidak membatasi penggunaan kantong plastik bagi pembeli. Namun, ia berupaya mencari bahan dengan kualitas lebih baik agar tetap efisien.

"Soalnya di angkringan kan pasti pakai kresek, ya nggak dikurangi. Cuma grade-nya diturunkan. Tadinya aku beli yang bermerek harganya Rp 8 ribu jadi Rp 13 ribu, sekarang beli yang tadinya Rp 5 ribu jadi 10 ribu," ungkapnya.

"Semoga ya cepat kembali normal lah ya, jadi kan para konsumen kalau beli masih terjangkau," imbuh dia.



(dil/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads