Harga Tempe di Semarang Naik Jadi Segini Imbas Plastik Mahal

Harga Tempe di Semarang Naik Jadi Segini Imbas Plastik Mahal

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 10 Apr 2026 18:57 WIB
Harga tempe dari produsen di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, naik jadi Rp 5.000 per plastik ukuran 400 gram.
Tempe di rumah produksi wilayah Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Harga tempe dari produsen di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, naik jadi Rp 5.000 per plastik ukuran 400 gram. Sebelumnya, harga tempe cuma Rp 4.000 per plastik ukuran 450 gram. Hal ini imbas dari kenaikan harga plastik dan kedelai.

"Bagi kita yang paling terasa hari ini harga plastik, naik 3-4 kali lipat," kata produsen tempe di Gayamsari, Adib, saat ditemui detikJateng di rumah produksinya, Jumat (10/4/2026).

"Plastik biasanya kami beli per rol. Dulu per rol sekitar Rp 550 ribu, sekarang Rp 1,75 juta," sambung dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adib mengatakan, harga kedelai juga naik secara bertahap. Pada awal tahun, harga kedelai masih sekitar Rp 8.400-Rp 8.500 per kilogram.

"Terakhir kemarin kami ambil harganya Rp 10.250 per kilogram. Kenaikannya sekitar Rp 2.000," ujar dia.

ADVERTISEMENT

Akibatnya, harga pokok produksi (HPP) tempe terus merangkak naik.

"Harganya mau nggak mau kita naikkan, biasanya gramasi 400 gram harganya Rp 4 ribu, sekarang jadi Rp 5 ribu," kata Adib.

"Kalau harga sangat dinaikkan, pengecer susah jualnya. Jadi kami siasati dengan mengurangi gramasi biasanya 450 gram sekarang 400 gram," lanjutnya.

Meski biaya produksi meningkat, Adib menyebut volume produksi relatif stabil di kisaran 650 kilogram per hari. Permintaan dari pelanggan cenderung tetap sehingga produksi tetap berjalan.

"Kami menyuplai ke dapur umum dan permintaan dari MBG juga, jadi kami terbantu di tengah daya beli masyarakat yang sedang turun karena kondisi ekonomi yang agak lesu," ujarnya.

"Kalau beralih ke daun pisang sepertinya nggak mungkin, karena akan tambah biaya lagi untuk tenaga kerjanya, untuk pengemasannya, jadi kami tetap pakai plastik tapi menyiasati gramasinya dikurangi," imbuhnya.

Kondisi serupa juga disampaikan produsen tahu di Kota Semarang, Joko Wiyatno (53). Ia menyebut, harga kedelai yang menjadi bahan utama tahu melonjak signifikan dalam tiga bulan terakhir.

"Dulu harga normal (kedelai) Rp 7.000-8.000 per kilo, sekarang sudah Rp 11.000-an. Naiknya sekitar Rp 4.000," ujarnya.

Kenaikan tersebut pun disebut berdampak langsung pada pendapatan. Untuk menyiasatinya, Joko juga terpaksa mengecilkan ukuran produk.

"Kalau dinaikkan harganya sendiri tidak bisa, harus bareng-bareng. Jadi ya ukurannya yang dikurangi," katanya.

Tak hanya kedelai, biaya produksi tahu juga terdongkrak dari kenaikan bahan lain seperti plastik, minyak goreng, hingga kayu bakar.

"Plastik ada yang naik sampai 100 persen. Minyak goreng dari Rp 16.000 sekarang Rp 20.000-an. Semua bahan naik, otomatis biayanya membengkak," jelasnya.

Akibat tekanan biaya tersebut, produksi tahu Joko ikut menurun. Dari sebelumnya sekitar 9 kuintal per hari, kini hanya 6-7 kuintal.

"Sudah tiga bulanan ini (biaya produksi membengkak) sampai setelah Lebaran. Otomatis berpengaruh ke pendapatan, makanya kita mengurangi takaran, karena terlalu banyak pendapatan berkurang," keluhnya.




(dil/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads