Harga plastik serta harga kedelai mengalami kenaikan signifikan. Begini trik produsen tempe di Magelang agar harga jual di pasaran tetap sama.
Salah satunya dilakukan produsen tempe super yang berada di Menowo, Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Cara yang dilakukan salah satunya mengurangi volume ukuran tempenya.
"Paling ya tetap dikecilin (ukuran) tempe. Biasanya kan per potong (ukuran bungkus plastik 2 meter) biasanya sekilo lebih (diisi kedelai). Sekarang paling-paling 9 ons," kata Tamsuri, Produsen Tempe Super saat ditemui di sela-sela produksi, Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga per 2 meter tempe, kata Tamsuri, dijual tetap sama harganya Rp 60 ribu.
"Ya cuman volumenya dikurangi sedikit. Dijual di Pasar Gotong Royong (Kota Magelang) sama Pasar Kaponan Pakis, Kabupaten Magelang," sambungnya.
Produsen tempe kedelai di Kota Magelang harus mengurangi volume karena harga kedelai dan plastik naik di Menowo, Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Selasa (7/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Tamsuri mengatakan, untuk pembelian kedelai biasa sekali kirim sekitar 9 ton dengan satu truk.
"Saya belinya (kedelai) kan truk-truk sekalian, harga tetap ada selisihnya. Kalau beli eceran sekitar Rp 10 sampai Rp 11 ribu per kilonya," imbuhnya.
"Sebelumnya kan per kilo sekitar Rp 9 ribu. Ya (lumayan) naiknya. Cuman, kita kan belinya satu truk sekalian," beber Tamsuri.
Ia mengatakan, sekali produksi tempe menghabiskan sekitar 350 kg atau 3,5 kuintal kedelai. Terkadang juga sampai 400 kg.
"Itu kan satu bagor 50 kg (kedelai). Kadang sampai 8 bagor," ujarnya.
Selain kedelai, harga plastik juga mengalami kenaikan. Kenaikan harga plastik dirasakan mencapai 50 persen.
"Plastik dua kali lipat. Rp 25 ribu per kilo, sekarang Rp 55 ribu per kilo. Itungannya per kilo, kami belinya per bagor sekitar Rp 1,5 juta," kata Muhammad Fadholi, salah satu anak Tamsuri.
Kemudian tas kresek yang ukuran kecil, kata Fadholi, biasanya harganya Rp 5 ribu, sekarang Rp 6 ribu.
"Terus yang besar dari Rp 6.200 menjadi Rp 12.500. Terus yang tanggung dari sekilonya Rp 35 ribu, sekarang jadi Rp 55 ribu," kata dia.
"Kenaikan setelah Lebaran. Perang itu, setelah Selat Hormuz ditutup itu baru dirasakan," lanjutnya.
Tamsuri menambahkan, para pelanggan di Pasar Gotong Royong dan Pasar Kaponan sudah memahami. Dia mengakui ada konsumen yang menanyakan soal ukuran tempe yang menciut.
"Ya sudah memahami hargane pada manut. Karena sudah pada tahu kahanan seperti ini. Tapi, ada yang bilang kok sekarang sekian (ukurannya). Yang jelas dampaknya mengurangi penghasilan, ya biasanya dapat Rp 10 ribu, paling-paling Rp 5 ribu. Ini kan kalau dinaikkan nggak mungkin," pungkasnya.

