Sejumlah pedagang di Kota Semarang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang menyebabkan penurunan keuntungan. Hingga kini mereka masih bertahan tidak menaikkan harga barang dagangannya.
Hal itu disampaikan salah satu penjual es teh, Taufik (36). Ia mengatakan, hampir seluruh kebutuhan berbahan plastik mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
"Awal-awal kemarin kenaikannya masih di angka 20 persen, tapi ada beberapa item yang naiknya sampai 40-50 persen," kata Taufik kepada detikJateng di kedainya, Minggu (5/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, harga satu bendel plastik sealer bisa naik hingga Rp 20-30 ribu. Kenaikan itu mulai dirasakan setelah Lebaran tahun ini.
"Kita kalau biasanya beli plastik Rp 20 ribu, sekarang jadi Rp 50 ribu satu bendel," jelasnya.
"Kalau (plastik) cup naik di 20 persen. Kalau kita biasanya beli harga Rp 1 juta, sekarang jadi Rp 1,2 juta, sangat terasa kenaikannya," lanjut Taufik.
Meski begitu, Taufik mengaku belum menaikkan harga jual minumannya dan memilih melakukan efisiensi dengan mengurangi penggunaan es. Imbasnya, keuntungan yang diperolehnya pun menurun.
"Kita belum sempat naikin harga, cuma kita masih efisiensi, pemakaiannya kita batasi. Cuma nanti kalau sudah tidak bisa kita kendalikan, harganya terpaksa kita naikin," ujarnya.
Ia menyebut, karena harga naik di plastik, sehingga keuntungan usaha miliknya pun otomatis turun. Jika penurunan terus terjadi, ia mengaku berniat menaikkan harga jual minumannya.
"Kalau nanti minumannya kita naikkan paling di angka Rp 1-2 ribu. Karena sangat mempengaruhi di margin, jadi turun 15 persen," jelasnya.
Hal senada disampaikan Muflikhah (34), penjual nasi goreng. Ia mengaku harga kantong plastik mengalami kenaikan bertahap sejak Ramadan, lalu melonjak jelang Lebaran.
"Awalnya naik Rp 2 ribu, terus pas mau Lebaran naik sampai Rp 5-7 ribu per bendel. Itu yang kantong kresek," katanya.
Menurutnya, kenaikan ini berdampak langsung pada keuntungan, sehingga ia terpaksa menaikkan harga jual nasi goreng miliknya.
"Harga nasi goreng naik Rp 1 ribu, dari Rp 13 ribu jadi Rp14 ribu. Soalnya bahan lain juga naik, ayam bisa sampai Rp 45 ribu per kilo, ditambah plastik juga naik, sedangkan kita nggak bisa mengurangi porsinya," ujarnya.
Sama seperti Taufik, Muflikhah pun berharap harga plastik tak lagi naik. Ia berharap pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menormalkan kembali harga plastik.
"Kalau naik nggak mungkin, seenggaknya semoga harganya nggak naik lagi," tuturnya.
Sementara itu, Dafi (32), penjual madu, juga merasakan dampak serupa. Ia menyebut harga botol plastik naik sekitar Rp 500 per botol. Hal itu juga ia rasakan sejak Lebaran.
"Harga botol plastik naik dari yang tadinya Rp 1.500 per botol jadi Rp 2.000. Lumayan banget naiknya. Kalau beli banyak semakin terasa," ujarnya.
Ia mengaku kenaikan plastik itu sangat berpengaruh kepada omzet di usahanya, walaupun belum besar. Tapi keuntungan yang diperolehnya jelas berkurang.
"Keuntungannya turun, misalnya tadinya untung Rp 50 ribu jadi Rp 48 ribu," kata Dafi.
Ia khawatir jika kondisi ini berlanjut, pelanggan bisa berkurang karena harga produk ikut naik. Ia berharap harga plastik bisa segera stabil agar usahanya tidak semakin tertekan.
"Pengaruhnya kan omzet turun dan harus menyesuaikan harga lagi. Khawatirnya berimbas ke pelanggannya jadi sepi," ucapnya.
(ahr/alg)











































